
.
.
.
.
.
.
(Gerry POV)
Sudah hampir jam 2 pagi ketika kurasakan tubuhku di goncang-goncang perlahan oleh Caramel. Mataku masih terasa berat saat ku lihat dia mulai dengan jurus puppy eyes nya untuk yang kesekian kalinya.
"Apa lagi sayang?" Ucapku yang masih mengumpulkan kesadaranku.
"Lapar mas.. sangat lapar" Rengeknya manja.
"Sebelum tidur jam 11 tadi kan kamu udah makan sayang.." Aku mengingatkan.
"Aku masih lapar mas.." Ucapnya yang tiba-tiba tertunduk, menangis.
Aku langsung terduduk dan mengusap punggungnya pelan "Kamu mau makan apa sayang? nanti mas belikan"
Dia menggelengkan kepalanya pelan. Ku usap airmata yang sedikit menggenang di pelupuk matanya. Apakah wanita hamil memang seperti ini? Tiba-tiba menangis, tiba-tiba marah, tiba-tiba senang dan memelukku sepanjang hari, tiba-tiba tidak ingin disentuh sama sekali.
Aku belum pernah merasakan menjadi suami siaga yang menemani istri yang sedang hamil. Tentu saja ini yang pertama kalinya bagiku. Selalu terbangun tengah malam untuk permintaannya yang terkadang tak masuk akal.
Tapi aku bahagia, sangat bahagia mengetahui bahwa ada makhluk kecil di dalam perutnya yang kelak akan melengkapi kebahagiaan keluarga kami.
"Bikinin mie goreng mas.. " Ucapnya dengan binar di matanya.
"Nanti mas panggilkan mbak Sri atau mbak Ijah. Biar dibikinin mie goreng" Ujarku dan beranjak berdiri dari ranjang.
"Aku maunya di bikinin kamu mas.. " Ucapnya yang ikut menyusulku yang sudah hampir menggapai pintu.
Ku hela nafasku pelan "Baiklahhh bumilku sayang... siap melayani anda" Gurauku sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Memang baru 12 minggu usia kehamilannya. Jadi belum begitu terlihat. Tubuhnya masih terlihat kecil namun kedua pipinya bertambah bulat. Aku jadi semakin gemas.
Perubahan sikapnya karena hormon saat hamil pun sering di terangkan oleh dokter kandungannya kepadaku. Agar aku bersiap-siap menghadapi sikapnya yang terkadang abstrak.
__ADS_1
Seperti tiba-tiba terbangun tengah malam karena lapar dan ingin makan sesuatu. Atau menyuruhku mengelus-elus punggungnya sepanjang malam dan membuatku juga harus menahan hasratku semalaman.
"Bukan mie instan goreng yang direbus mas.. Tapi mie yang di goreng pake bumbu kecap yang pedes. Pake daun bawang sama wortel.." Ucapnya begitu melihatku mengambil mie instan di rak dapur.
"Kan sama saja sayang?" Ujarku yang tak tau apa-apa soal memasak.
"Beda mas.. Kamu ambil bawang merah, bawang putih, sama cabe yang banyak.. trus di iris tipis-tipis" Ujarnya yang berada sedikit jauh dari dapur.
Ku turuti saja, dan mulai mengiris bawang putih, cabai, bawang merah juga daun bawang dan wortel.
Lama-lama aku merasakan pedih sekali di mataku. Ternyata rasanya seperti ini saat memasak. Airmataku turun begitu saja. Dan istriku tertawa girang melihatku yang sedang berjuang demi menuruti keinginannya.
"Mas ga tau kalo rasanya akan se-pedih ini saat memasak.. Mas janji akan menaikkan gaji Mbak Ijah dan Mbak Sri yang sering tersiksa karena bawang ini" Ujarku berubah sentimental.
Ku usap air mataku dengan tanganku, sial sekali aku lupa karena tanganku terkena bawang dan cabai. Tentu saja rasanya semakin pedih.
Aku berlari ke kamar mandi dan mencuci wajahku dengan sabun. Namun masih perih. Saat aku kembali ke dapur, Caramel malah semakin tertawa keras melihat wajahku yang merah.
Ku kecup bibirnya sekilas "Kamu sengaja ngerjain mas ya? Balas dendam karena udah hamilin kamu?" Gurauku yang di sambut dengan cubitan kecil di pinggangku.
"Ini namanya tanggung jawab mas, karena kamu yang ngajakin lembur pagi, siang, malem sampai aku hamil" Ujarnya tak mau kalah.
"Iya.. iya bumil..." Ucapku gemas dan mencubit pipinya kemudian melanjutkan acara masak memasak lagi.
Aku mendengarkan semua yang diperintahkan Caramel padaku, hingga aku bisa menghidangkan mie goreng yang sangat di inginkannya itu.
Aku melihatnya yang mulai mengambil garpu dan mulai memakan sesuap. Namun dia mengernyitkan dahinya.
"Kenapa? Apa yang kurang?" Tanyaku penasaran.
"Kurang pedes mas.. Tapi enak kok" Ujarnya kemudian mulai melahap mie goreng buatanku hingga tandas tak bersisa.
"Tidur yuk mas.." Ajaknya setelah perutnya kenyang dan beranjak pergi meninggalkanku yang masih bingung dengan kelakuan abstraknya.
***
"Untuk proyek baru kita yang berada si cabang Bandung, sejauh ini tidak ada masalah. Saya serahkan pada Pak Umam untuk meninjau secara langsung.." Ucapku terputus saat memimpin meeting siang ini karena getar ponsel dalam saku celanaku.
Drrrrt drrrrttttttt
"Maaf, Saya terima telfon sebentar.." Pamitku pada seisi ruangan dan menuju sudut ruangan.
"Maaf sayang, mas lagi meeting ini... Ada apa?"
__ADS_1
"gimana?"
"Tapi mas sedang meeting sekarang. nanti sore ya.."
Ku lihat seisi ruangan memperhatikanku yang sedang bertelfon ria dengan bumilku yang sedang merajuk minta di belikan gudeg.
"Pesen Gr*bfood aja ya.."
"Mas kan lagi meeting sayang.. ga enak sama staff yang lagi pada meeting"
Aku melirik ke arah semua staff yang hadir dalam meeting siang ini. Ada yang tersenyum secara terang-terangan, ada juga yang hanya mengul*um senyum.
"Iya udah... kamu tungguin dirumah ya.."
"Love you too.."
Ku akhiri dengan berbisik pelan karena malu dengan seisi ruangan yang memandangku dengan penuh senyum.
Aku berdehem sebentar "Maaf, apa diantara kalian ada yang tau gudeg Jogja di Jakarta ini yang paling enak dimana?" tanyaku dengan menahan malu.
Karena aku tidak pernah tau makanan dengan nama Gudeg itu seperti apa. Dan sekarang bumilku sedang sangat menginginkan makanan itu.
"Di Menteng ada yang terkenal pak, untuk lebih jelasnya nanya sama mbah Gugel pasti tau" Celetuk salah seorang diantara mereka.
Betul sekali, kenapa aku tidak berpikir untuk mencari di internet? padahal tadi aku sudah menyarankan Caramel untuk memesannya lewat Gr*bfood. Kenapa aku susah-susah mempermalukan diriku di depan mereka?
"Istri lagi ngidam ya pak?" Celetuk yang lainnya lagi.
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal "Iya... " Jawabku menahan malu.
"Wahhhhh selamat ya pakkk..." Ujar salah satu diantara mereka dan di susul dengan yang lainnya yang ikut mengucapkan selamat.
"Terima kasih semuanya, dan maaf untuk saat ini meeting ditunda sampai Saya kembali lagi" Ujarku tak enak hati dan pergi meninggalkan ruangan meeting.
Sebelum aku mencapai pintu samar-samar ku dengar seorang staff berbicara dengan pelan "Pak bos bucin banget ya"
Sumpah demi apapun, Aku juga merasa ada yang salah dengan diriku.
TBC
Like&Comment Plisss..
Thanks utk vote dan semangatnya 😍😋
__ADS_1
_Kisah jo&jessy dibikin next project aja ya
_Saranghae 💖