Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Gerry POV 5


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


Sudah lebih dari 24 jam tapi Caramel belum bangun juga. Padahal dokter mengatakan masa kritisnya sudah lewat. Tapi melihat kepala, tangan kiri dan kaki kirinya di perban seperti itu membuatku ngilu sendiri.


"Maaf mas tidak bisa menjagamu sayang.."


Berulang-ulang kali kurapalkan kalimat itu saat menggengam tangannya. Aku kalut.


Bapak dan ibu sudah di hubungi dan akan tiba beberapa jam lagi. Tapi mengapa dia belum juga siuman? Apa yang akan ku katakan pada mereka nanti? bahwa aku tidak bisa menjaganya dengan baik.


Ku elus lembut rambutnya "Bukalah matamu sayang.. jangan bikin mas khawatir"


Namun dia masih tetap terpejam. Lebam-lebam biru memenuhi wajahnya yang cantik. Bibirnya tampak pucat. Apa benar dia baik-baik saja?


Kemarin sore saat ada pertemuan dengan klien di luar kantor, Valley menelfonku. Dan aku terperanjat saat dia mengatakan padaku bahwa Caramel mengalamai kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit xxx.


Bagaimana dia yang berada jauh disana bisa tau, sedangkan aku yang berada dekat dengannya sama sekali tidak tau? Ku akhiri begitu saja pertemuanku dengan klien dan mengatur ulang jadwal pertemuan kami.


Aku bergegas ke rumah sakit dan mendapati Reyhan sedang mondar-mandir menunggu Caramel di depan ruang operasi.


Ku cengkeram kerah bajunya dengan geram "Lo apain Caramel?"

__ADS_1


"Bukan gue!" Ujarnya sambil berusaha melepaskan tanganku yang masih menarik kerah bajunya.


"Sumpah, bukan gue! Tapi istri lo!" Ujarnya lagi.


Ku lepas tanganku seketika "Kirana?"


"Uhukkk..uhukkk.. iya.." Jawabnya sambil membenarkan kerah bajunya yang berantakan.


"Bagaimana dia bisa sejahat itu? katakan apa yang terjadi sore itu.." perintahku pada Reyhan yang tampak gusar.


"Cepat katakan atau gue laporin lo karena bersekongkol sama Kirana untuk mencelakai Caramel.." ancamku.


"Gue ga mungkin mencelakai ibu dari anak gue!" Ujar Reyhan lantang.


"Kalo gitu cepet critain bagaimana kejadiannya" perintahku lagi.


"Oke.. Oke " ujarnya pasrah.


"Waktu itu gue berniat buat nganterin Caramel pulang setelah bekerja. Tapi tiba-tiba saja Kirana datang dan marah-marah ga jelas. Gue dan Kirana berdebat dan Caramel pergi menjauh dari kami. tapi tiba-tiba aja Kirana berjalan dengan cepat ke arahnya dan mendorongnya ke jalanan. Caramel yang kaget karena di dorong Kirana itupun refleks menarik baju Kirana dan mereka tertabrak mobil berdua. Gue ga bisa nyegah karena kejadiannya terlalu cepat" ceritanya panjang lebar.


"Iya.. tapi lukanya ga separah Caramel" Ujar Reyhan dengan menundukkan kepalanya.


Aku bergegas ke ruangan dimana Kirana di rawat. Begitu ku buka pintu kamarnya, kulihat ibu mertuaku sedang berada disana, menjaganya.


Dia melengos begitu saja ketika melihatku yang berada di ambang pintu. Ku langkahkan kakiku menghampirinya yang terbaring lemah dengan beberapa luka di wajahnya juga tangan kanannya yang di balut perban.


"Mami tinggal dulu ya... kalian ngobrol saja yang santai" pamit ibu mertuaku dan mengambil tasnya di sofa kemudian pergi meninggalkan kami.


"Aku ga nyangka kamu bisa sejahat itu Na.. " Ujarku mengawali percakapan kami.


"Tega sekali kamu menyakiti Caramel sampai begitu? Dimana pikiranmu?" Ujarku menahan amarah.


"Aku benci liat kalian memperebutkannya!" Ujarnya penuh kebencian.

__ADS_1


"Tapi tidak dengan mencelakakannya juga kan Na?" Ku usap wajahku dengan kasar.


"Maaf, aku tidak bisa membiarkannya kali ini. Biar polisi yang menyelidikinya dan memberimu hukuman atas perbuatanmu" Ujarku dan beranjak berdiri.


"Kamu juga setega ini sama aku Gerr.." Ujarnya disertai isak tangis.


Ku hentikan langkahku "Ini menyangkut nyawa seseorang Na.. Sekalipun kamu juga ikut terlibat dalam kecelakaan ini, tapi kamu yang memulainya"


"Apa memang tidak pernah sekalipun ada aku di hati kamu Gerr?" Ujarnya memelas dan masih di iringi isak tangisnya.


"Pikirkan sendiri apakah yang kamu lakukan selama ini pantas untuk mendapatkan cintaku?" Ucapku dan berlalu begitu saja meninggalkannya yang masih terisak.


Ku tinggalkan ruangan tempat Kirana di rawat dan bergegas menuju ruang operasi, dimana Caramel masih ditangani.


Dan dokter masih juga belum selesai menanganinya. Ku rapalkan doa dalam hatiku agar Caramel baik-baik saja. Ku tangkupkan kedua tanganku di wajahku dengan gusar. Dan Reyhanpun tak kalah gusarnya. Dia berjalan kesana kemari hingga membuatku bertambah pusing.


Dering ponselku mengagetkanku, dari Veronica. Kujawab telfonnya dan dia sudah berada di rumah sakit ini. Dia juga bergegas kemari setelah kukabari bahwa Caramel mengalami kecelakaan. Dan menyuruhku menjemputnya di koridor rumah sakit.


Saat aku berjalan melewati meja informasi, sayup-sayup aku mendengar seorang suster bicara dengan suster lainnya. Aku begitu kaget mendengarnya. Ku tajamkan telingaku sekali lagi. Dan benar, yang mereka bicarakan adalah Kirana.


"Maaf, apa yang suster maksut adalah Maysha Widjaya yang berada di kamar 56A? Saya suaminya, Gerry Sbastian Soewierdjo. Jadi apakah benar, istri Saya tidak akan bisa hamil karena kecelakaan yang di alaminya?"


TBC


Jangan lupa like & Comment ya...


Terima kasih untuk cinta kalian...💖💖💖


Terima kasih untuk semangatnya...


Terima kasih untuk votenya...


Terima kasih untuk like dan komentarnya, juga yang hanya baca saja... 😅

__ADS_1


Selalu ingat untuk berkomentar yang bijak ya... 😍


__ADS_2