Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Gerry POV 9


__ADS_3

.


.


Kamu bisa saja menghapus semua foto dirinya di ponsel mu,


Tapi tidak dengan kenangannya.


_Caramel Kim


.


.


***


"Apa yang kamu katakan pada ayah mertuamu?" Tanya papa begitu aku baru saja memasuki ruang kerjanya.


"Papi yang dengan rela melepaskan ikatan antara aku dan Kirana. Bahkan sebelum aku sempat mengatakan bagaimana kelakuan Kirana" Ujarku sambil menarik kursi dan duduk di hadapannya.


"Kirana tidak akan bisa hamil lagi pah, apa papa masih ingin aku meneruskan pernikahan ini? dan memutus garis penerus keluarga kita?" Ujarku tanpa basa-basi.


Ku lihat papa begitu terkejut mendengar apa yang baru saja ku katakan. Matanya sedikit bergetar dan dahinya berkerut seperti memikirkan sesuatu.


"Tentu saja papa tidak ingin garis keluarga 'Soewirdjo' berhenti di kamu" Ujarnya tegas.


"Tapi tetap saja tidak dengan menceraikan Kirana" imbuhnya lagi.


Sekarang aku yang malah terkejut dengan apa yang dikatakan papa baru saja. Bagaimana bisa?


"Maksut papa apa?" Tanyaku heran.


"Kamu boleh menikahi kekasihmu itu sampai dia hamil dan memiliki anak darimu saja. Dan tentu saja tidak dengan menceraikan Kirana" Ujarnya dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

__ADS_1


"Pah..." Teriakku frustasi.


"Ini keputusan papa. Kamu harus menerimanya" Titah nya tak terbantahkan.


"Gerry benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran papa" Ujarku sedikit emosi.


"Setelah kalian mempunyai anak, kalian harus berpisah" Imbuhnya masih tak berperasaan.


"Papaaahhh..." Teriakku frustasi sambil mengacak rambutku tak beraturan.


"Apakah masih kurang jelas?" Tanya papa kemudian berdiri dan mengambil secangkir teh di mejanya.


Papa menyesap teh nya pelan dan melihat keluar jendela dari ruangannya. Matanya menerawang dengan posisi tubuh yang setengah membelakangiku.


"Aku ingin bahagia pah.. apa papa tidak ingin melihat aku bahagia dengan wanita yang benar-benar kucintai?" Aku menyerah dan menunduk menatap lantai.


"Justru karena papa ingin melihat kamu bahagia sampai kelak, sampai kamu mempunyai anak cucu. Kamu pikir untuk apa papa melakukan ini? tentu saja untuk kebahagiaanmu" Ujarnya dengan wajah yang tiba-tiba berubah dingin.


"Apakah Uang adalah tolok ukur yang papa maksut kan agar aku bahagia?" Ujarku putus asa.


"Tapi Caramel penting untuk hidup aku pah.. Bahkan orang tua Kirana pun ingin kami berpisah. Kenapa papa masih ingin mempertahankannya?" Aku sudah mulai lelah beradu argumen dengan papa.


"Aku akan keluar dari keluarga 'Soewirdjo' jika papa tetap tidak mau merestuiku dengan Caramel dan membuatku bercerai dengan Kirana. Selama ini, aku menuruti papa karena setiap keputusan papa untuk ku adalah sebagai baktiku sebagai seorang anak. Tapi untuk kali ini, aku ingin menemukan kebahagiaanku sendiri pah" Ancamku tegas.


Terdengar ketukan di pintu berkali-kali dan pintu pun terbuka. Aku menoleh dan melihat mama membawa secangkir teh dan di letakkannya di depanku.


"Minumlah.. Agar pikiranmu tenang" Ucap mama sambil mengelus punggungku dengan lembut.


Aku mengangguk dan mengambil secangkir teh itu dan menyesapnya perlahan. Benar, emosiku tidak semeledak-ledak tadi. Ku lihat mama menghampiri papa dan menjajarinya.


"Biarkan Gerry bercerai dengan Kirana mas.." Pinta mama dengan suaranya yang lembut.


"Kenapa kamu tiba-tiba ikut campur dengan masalah ini?" Ujar papa sedikit heran.

__ADS_1


"Aku ingin melihat Gerry bahagia bersama wanita pilihannya mas.." Ujar mama dengan mata berkaca-kaca.


"Dia juga bisa bahagia asalkan dia mau membuka sedikit hatinya untuk Kirana. Kita pun dulu tidak saling mencintai sayang.. Kita juga sama, menikah karena bisnis. Tapi pada akhirnya kita bisa saling mencintai kan?" Ujar papa tetap tak mau menyerah.


"Kamu inget ga mas, dulu aku hampir kehilangan nyawaku kalau saja bukan karena seseorang yang dengan begitu ikhlas mendonorkan sebelah ginjalnya untukku tanpa mau menerima apapun dari kita?" Ujar mama mengingatkan.


Kutajamkan pendengaranku tanpa berkata apapun dan menghalangi percakapan mereka. Jadi, mama hampir meninggal kalau tidak ada seseorang yang mendonorkan ginjal untuknya.


"Kenapa kamu tiba-tiba mengungkit masalah itu?" Ujar papa heran.


"Karena ayah Caramel yang sudah menyelamatkan nyawaku waktu itu mas.. Ayah Caramel yang mendonorkan sebelah ginjalnya untukku dan membuatku sehat sampai sekarang.." Ujar mama yang mengejutkanku.


Papa pun tak kalah terkejut. Dia kembali ke meja di hadapanku dan meletakkan cangkir tehnya yang tinggal setengah itu di atas meja.


"Aku akan mencopot ginjal ini dan mengembalikannya pada Ayah Caramel kalau kamu masih tidak mau merestui mereka mas.." Ancam mama tanpa ampun.


Kulihat mata papa sedikit bergetar.


"Keluarlah.. papa ingin berbicara dengan mamamu sebentar" titahnya padaku.


Aku mengangguk meninggalkan ruangan kerja papa dan menghilang di balik pintu. Aku berdiam sebentar di depan pintu sebelum beranjak pergi. Namun aku tidak dapat menangkap suara apapun dari dalam karena ruang kerja papa yang kedap suara.


Ting


Sebuah pesan masuk ke ponselku. Ku lihat sekilas dan aku berlari begitu saja begitu melihat isi pesan yang kuterima tadi.


TBC


Like, Komen, Kritik dan sarannya kencengin ya kakkkkkk... 😘


Terima kasih untuk antusias kalian yang luar biasa yang membuat Author jadi semakin bersemangatttt....😍


Terima kasih Vote nya dan juga yang sudah mampir baca... 💖💖💖

__ADS_1


*Author ga bisa janji bisa Update setiap hari, tapi akan Author usahakan sebisa mungkin..


__ADS_2