
Tawa itu tiada henti menghiasi bibir Lucas, anak itu tengah berenang dengan sebuah pelampung berbentuk bebek yang lucu. Mata Rayden tidak henti mengawasinya, takut-takut jika anak itu tenggelam. Hari ini Rayden mengajak Lucas berenang dan siapa sangka anak itu begitu menyukai berenang dan sudah langsung bisa begitu sedikit diajari.
"Bagaimana jika berenangnya dilanjutkan besok lagi? Bukankah hari sudah sore?"
"Sebentar lagi, Paman."
Rayden menggeleng lalu lekas mengajak Lucas menepi, hari sudah sore begitu juga dengan suhu udara yang menurun. Ia tidak ingin Lucas justru sakit karena berenang dalam udara yang dingin.
"Besok lagi, kita tambah lagi beberapa pelampung bebek untuk menemani Lucas berenang."
"Yeay! Tambahkan juga pelampung kucing, sapi juga boleh."
"Baiklah paman akan membelikan banyak pelampung untukmu. Sekarang kita pergi mandi."
Rayden mengendong Lucas dengan satu tangannya, mengajak anak itu ke kamar mandi dan mengguyur anak itu dengan shower yang mengalirkan air hangat.
"Paman, mana sabunnya!"
Rayden mengambilkan sebuah sabun cair yang langsung diambil oleh anak itu.
"Kau bisa memakai sabun sendiri?"
__ADS_1
Lucas mengangguk dengan mantap dan lekas menyambuni tubuhnya sendiri, ia terlihat begitu mahir menjangkau sela-sela tubuhnya agar terkena sabun. Rayden tersenyum tipis, menyadari jika Lucas ini sudah lebih dewasa dari anak seusianya.
Biasanya anak seusia Lucas akan banyak merengek dan menangis, tetapi berbeda dengan Lucas yang hampir tidak pernah menangis. Anak itu bersedia pergi sendiri ke tempat penitipan anak, sedangkan anak lain mungkin akan menangis jika ayah atau ibunya terlambat menjemput.
"Paman aku sudah selesai, apakah paman tidak ingin mandi juga?"
Ternyata Rayden terlalu banyak melamun, ia menerima uluran sponge mandi dari Lucas dan lekas membersihkan dirinya.
Setelah mereka berdua mandi kini Rayden membungkus tubuh Lucas dengan handuk dan lekas mengangkat tubuh mungil anak itu. Rayden menggunakan kamar mandi di bawah karena terlalu jauh jaraknya dari kolam renang ke kamar, sehingga sekarang baru akan berjalan ke kamar.
Saat menaiki tangga Rayden tidak menyadari jika Albert sudah duduk di sofa sembari memperhatikannya.
"Siapa anak itu? Dia anak Rayden?" tanyanya pada Matteo di sebelahnya.
"Anak itu bernama Lucas, kebetulan anak itu kekurangan kasih sayang begitu juga dengan tuan Rayden yang tengah patah hati, jadinya mereka nampak akrab."
Albert mengernyitkan alisnya, "Sejak kapan Rayden menyukai anak kecil? Dia selalu mengatakan bocah ingusan yang hanya bisa menangis membuatnya sangat muak."
"Saya juga tidak tahu mengapa Tuan Rayden sangat menyayangi Lucas, padahal dahulu tuan Rayden mengatakan jika tidak berencana memiliki seorang anak karena itu terlalu merepotkan."
"Lalu Rayden menculik anak itu dan menahannya disini?"
__ADS_1
Matteo menggeleng, "Tidak Tuan, Lucas akan diantarkan pulang setelah jam delapan malam. Semenjak ada Lucas tuan Rayden sedikit berubah, ia tidak terus memikirkan nona Dara dan minum anggur semalam suntuk meringankan pikirannya. Sepertinya Lucas memberikan banyak pengaruh untuk tuan Rayden."
Albert mengangguk, ia tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Matteo karena melihat Rayden sudah turun bersama dengan Lucas. Albert meminta pelayannya mengajak Lucas makan sedangkan dirinya bergabung bersama Albert.
"Kau sudah kembali dari Moscow?" tanya Rayden.
"Jika sudah melihatku disini, sepertinya pertanyaan itu tidak diperlukan."
"Aku hanya berbasa-basi."
"Bukankah sebaiknya kau mengadopsi anak itu saja?"
Rayden mengangguk, "Sepertinya ide bagus, lagi pula Lucas juga sepertinya kurang mendapatkan perhatian dari orang tuannya."
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
__ADS_1
And, see you.