
.
.
.
.
.
.
"Mas heran sama kamu, dari sekian banyak tempat di dunia ini, kenapa kamu milih kesini? " Tanya mas Gerry dengan mata terpejam dan bergelung selimut di sampingku.
"Karena dulu aku sempat bingung mas, waktu pertama kali punya keinginan kerja di luar kota. Antara kesini sama Jakarta. Seandainya aku dulu memutuskan untuk kesini, mungkin kita ga akan pernah bertemu" Ujarku sambil menerawang menatap langit-langit kamar hotel.
"Kamu yakin? Jodoh itu ga ada yang tau sayang.. Dan karena kamu adalah jodoh mas, biarpun kamu berada jauh dari mas, Tuhan pasti akan mempertemukan kita" Ucapnya kemudian memelukku.
"Jangan seperti itu terus mas, aku takut diabetes denger gombalan kamu" Gurauku yang semakin mengeratkan pelukanku padanya.
"Mau jalan-jalan ke pinggir pantai mas?" tawarku karena melihat dia yang sekarang sedang usil menciumi kulit leherku.
"sudah hampir siang sayang.." Ucapnya masih dengan menciumi bagian tubuhku yang terbuka.
"Nanti sore aja, sekalian lihat sunset. Kalo sekarang yang ada kaum nya Jonathan yang lagi ngitemin kulit" imbuhnya lagi.
"Bisa aja kamu mas.." Kupukul pelan dadanya.
"Geli mas..." Ujarku karena tak tahan dengan bibirnya yang bermain di belakang telingaku.
"Tapi suka kan?" Ucapnya yang sekarang sudah menind*hku.
"Dasar mesum" Kilahku berusaha menyembunyikan rona merah di wajahku.
"Sekarang saatnya kita kerja keras sayang.. Kita harus Lembur pagi,siang dan kalo malem harus berkali-kali biar Aslan cepet punya adik" Ujarnya yang kemudian melum*t bibirku dengan lembut.
"Itu sih mau nya kamu mas.." Ucapku setelah lidahnya beralih ke dadaku.
__ADS_1
"Kamu ga mau?" Ujarnya yang langsung menghentikan kegiatannya.
"Jangan berhenti mas.." Ucapku sambil mengarahkan kembali kepalanya ke dadaku.
"Mau ganti posisi?" Tawarnya dengan mengerlingkan sebelah matanya dan membalik tubuhku yang sekarang berada di atasnya.
Aku merangkak turun dan menemukan tubuh bagian bawahnya sudah mengeras. Ku mainkan hingga dia sedikit mengerang. Aku mengul*mnya seperti sebuah lolipop. mempermainkannya dan berlama-lama bermain disana.
Sampai dia tidak tahan dan menarikku agar duduk di atasnya "Masukin sayang.." Ucapnya parau karena hasrat yang sudah tak tertahankan.
***
Aku duduk di pasir yang sedikit jauh dari bibir pantai. Menikmati keindahan pantai Kuta yang terkenal akan sunset yang sangat memikat hati. Namun saat ini, matahari belum tenggelam. Dan angin yang berhembus sedikit kencang menerpa rambut dan gaun yang kupakai.
Mas Gerry sedang pergi untuk membeli minuman ketika seorang laki-laki menyapaku dan duduk di sampingku.
"Hai.." Sapanya ramah.
"Oh.. hai" Jawabku dengan sedikit menoleh ke asal suara. Laki-laki pribumi yang sekilas terlihat menarik yang sekarang sedang berusaha mendekatiku.
"Gue Angga" Ujarnya memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya padaku.
"Nama yang unik sesuai dengan orangnya yang cantik" Pujinya terus terang.
"Sendirian?" tanyanya kemudian.
"Nungguin suami lagi beli minuman" Jawabku jujur agar Angga tidak salah paham dengan statusku.
Ku lihat wajahnya yang sedikit terkejut saat mendengar jawabanku. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya sedikit memudar.
"Gue pikir lo single, soalnya umur lo kayaknya ga jauh beda sama umur gue" Ujarnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dari kejauhan, segerombolan anak muda berteriak-teriak dan melambai-lambai ke arah Angga. Tapi Angga tidak menghiraukan dan malah asyik memandang ke lautan lepas.
"Tapi tetep boleh kan temenan sama lo?" Ujarnya masih tanpa menoleh ke arahku.
"Buat apa kalo akhirnya kita ga akan pernah bertemu lagi?" Ucapku ikut memandang ke lautan.
__ADS_1
Tiba-tiba saja segerombolan anak muda tadi sudah berada di belakang kami, dan beberapa orang menarik tangan dan baju Angga hingga dia terpaksa berdiri dan mengikuti langkah mereka.
"Kita pasti bertemu lagi" teriaknya sebelum pergi yang mendapatkan toyoran di kepalanya dari teman-temannya.
Melihat mereka berlalu dengan bercanda ria membuatku teringat masalalu dulu. Seandainya aku tidak menikah muda, mungkin saat ini aku akan seperti mereka. Sedang menikmati liburan bersama teman-teman tentu saja sangat mengasyikkan.
Tertawa dan bercanda bersama. Bila ada salah satu yang sedang patah hati, maka yang lain akan dengan senang hati menghiburnya. Jika ada salah satu yang sedang berulang tahun, maka yang lain akan memberi kejutan yang berkesan.
Menyesal? tentu saja. Yang paling aku sesali sekarang bukan tentang masa mudaku yang terlewati begitu saja. Tapi mengapa tidak dari awal aku dipertemukan dengan mas Gerry? Jadi aku tak perlu merasa menyesal pernah terluka dan menjalani hidup yang sangat berat di usiaku yang masih sangat muda.
"Siapa tadi?" Tanya mas Gerry yang membawa dua buah minuman kaleng ditangannya dan duduk disampingku.
Aku memandangi wajahnya yang teduh. Mata hazel indahnya, hidungnya yang mancung. Bibirnya yang sedikit tebal tapi sangat seksi. Aku menikmati wajahnya yang masih terlihat muda meskipun usianya terpaut sangat jauh denganku.
"Nglamunin apa sih?" Ujarnya gemas dan mencubit hidungku hingga merah.
"Bukannya jawab pertanyaaan mas malah ngelamun sendiri" Ujarnya kemudian sedikit merajuk.
"Apa sih mas?" Tanyaku kembali dan mengambil minuman dari tangannya.
"Tadi siapa?" Tanya mas Gerry lagi.
"Orang ngajakin kenalan. Kenapa mas? Cemburu ya?" Aku meledeknya.
"Jelas cemburu lah sayang.. tapi mas percaya hati kamu cuma buat mas" Ucapnya yakin.
"Sama seperti aku mas, yang akan selalu percaya sama kamu" Ujarku sambil kembali menatap lautan dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Makasih sayang.." Ucapnya kemudian mengecup keningku lama.
"Mas.." Panggilku pelan.
"Hnnn" Jawabnya yang sekarang memejamkan matanya, menikmati sepoi angin yang menerpa wajahnya.
"Kenapa kamu merahasiakan tentang kondisi Kirana yang tidak akan bisa hamil setelah kecelakaan yang menimpa kami mas?"
TBC
__ADS_1
Like & Comment plissss..
Thanks utk Vote dan semangatnya 😍