
.
.
.
.
.
"Kenapa buk?" Tanyaku heran.
"Kamu tidak bilang sama ibuk, kalau ternyata Gerry masih Suami orang"
"Maaf.." Ucapku penuh sesal.
"Aku pikir, aku akan memperkenalkannya secara resmi sama Bapak ibuk saat dia sudah bercerai dengan istrinya" imbuhku lagi.
Veronica yang bingung karena hanya menjadi pendengar diantara kami pun pamit untuk pulang.
"Saya pamit dulu tante" Ucapnya pada ibu.
"Aku balik dulu ya Mel, besok aku kesini lagi" Pamitnya padaku dengan mengelus lenganku sebentar.
"Hati-hati di jalan kak" Sautku yang di jawab dengan senyuman dan anggukan pelan dari Veronica sebelum menghilang di balik pintu.
"Kamu pernah di sakiti suami kamu karena perselingkuhan, kenapa kamu juga seperti itu dengan wanita lain? Apa kamu sudah lupa dengan rasa sakitmu?" Cerca ibu penuh emosi setelah kepergian Veronica.
"Wanita itu, bukan seseorang yang asing buk. Dia yang membuat rumah tanggaku berantakan" Ujarku juga dengan menahan emosi.
Ibu terlihat diam sebentar. Seperti memikirkan sesuatu, karena dari sorot matanya yang tampak sedikit kaget dan bingung.
"Iya buk, istrinya yang berselingkuh dengan mas Reyhan sampai kami bercerai" Ujarku lirih.
"Apa Gerry tau?" Tanya ibu yang masih terlihat bingung.
"Bahkan sebelum Aku kenal sama dia, dia sudah tau semuanya buk.." Kugenggam tangan ibu yang dingin.
"Gerry laki-laki baik yang Aku pilih untuk mendampingiku nanti buk.. tolong restui kami. Setelah rasa sakit yang kami alami karena perbuatan Mas Reyhan dan Kirana, Istri Gerry, Apa ibuk tega dengan tidak merestui hubungan kami?" pintaku memelas.
__ADS_1
Air mata jatuh membasahi wajah ibu yang masih merah sehabis bertemu dengan Gerry tadi. Juga matanya yang menjadi semakin sembab.
"Ibuk hanya tidak mau, kamu di anggap sebagai perusak rumah tangga orang karena Gerry yang masih berstatus suami orang nduk..." Ujarnya diiringi isak tangis.
Ku elus sedikit punggung tangannya dengan jemariku "Maaf buk.."
"Setidaknya untuk sementara kalian jangan bertemu dulu. Sampai Gerry menyelesaikan urusannya dengan istrinya" Ucap ibu yang sudah mulai reda tangisnya.
"Setelah nanti kamu rawat jalan, Ibuk akan bawa kamu pulang biar kaki kamu bisa pulih. Juga untuk memberi Gerry waktu" Imbuhnya lagi.
Ku usap sisa-sisa air mata yang tersisa di wajahnya dengan sebelah tanganku "Jadi Ibuk sudah merestui kami kan?" Tanyaku sedikit tak percaya.
"Kamu selama ini sudah berjuang melawan rasa sakitmu sendirian, dan sekarang kamu sudah bisa membuka hati untuk orang lain. Ibuk tidak akan tega membiarkanmu kembali bersedih nduk.. kalau sampai tidak merestuimu.. Ibuk percaya kamu sudah berpikir matang sebelum menetapkan hatimu untuk Gerry.." Ucapnya menenangkanku.
"Makasih buk..." Ucapku penuh haru.
Setidaknya ibu tidak menentang hubungan kami itu sudah cukup. Aku tidak akan membuat ibu kecewa lagi karena memilih orang yang salah untuk mendampingi hidupku.
Karena aku yakin, Gerry adalah laki-laki baik yang mampu menjaga ku lahir dan batin. Dan tidak akan mengecewakanku.
***
Tenggorokanku terasa sangat kering. Ku buka mataku dan terbangun dari tidurku. Namun sebuah tangan menggenggam tanganku, dengan kepala yang diletakkan di atas tangan yang satunya lagi di tepi ranjang. Matanya terpejam, dia terlelap.
Perlahan matanya terbuka dan langsung terjaga "Maaf, mas ga tau kalo kamu sudah bangun" Ujarnya merasa bersalah.
"Aku juga baru bangun mas, aku haus" Ujarku sambil berusaha membenahi tidurku untuk duduk.
"Jangan duduk dulu, jangan banyak gerak sayang" Ucapnya khawatir.
"Pegel mas..." Rengek ku.
"Mas atur ranjangnya biar agak tegak ya.." Ucapnya lembut.
Aku mengangguk "Iya mas.."
"Mas ambilkan minum" Ucapnya setelah mengatur posisi ranjangku.
"Iya.." Sautku tak kalah lembut.
__ADS_1
"Ibuk, bapak dan yang lain kemana mas?" Tanyaku heran karena tidak melihat mereka sama sekali. Padahal sebelum aku tidur tadi mereka masih berkumpul disini.
"Mereka pulang ke kontrakan kamu, kan ga bagus buat Aslan yang masih kecil kalo harus ikut nginep di rumah sakit" Jelasnya yang melihatku khawatir.
"Terus kok bisa kamu yang disini?" Tanyaku masih penasaran.
"Ibu kamu bilang mau kasih kita waktu sebelum kita pisah sementara" Ujarnya lirih.
"Yang penting, ibuk merestui kita mas.." Ucapku menenangkannya yang terlihat gusar.
"Gimana mas bisa nahan kangen sama kamu sayang?" Ujarnya frustasi.
"Lebih milih gak direstui apa nahan kangen sama aku?" aku memberinya pilihan.
"Ga milih dua-dua nya" Ucapnya merajuk.
Ku pukul pelan lengannya "Kita udah sejauh ini, kamu mau nyerah begitu saja mas?"
Dia menghela nafasnya kasar "Berat banget kalo harus jauh-jauh dari kamu"
Ku ambil tangannya dan ku kecup. Dia sedikit terperanjat kaget namun malah tersenyum senang.
"Gemes banget liat kamu kayak anak kecil gini" Ucapku gemas melihat tingkahnya.
"Anak kecil ga bakal kayak gini sayang.." Ucapnya sambil mencondongkan badannya untuk mencium bibirku.
Ku pejamkan mataku menikmati hembusan nafasnya di wajahku yang nanti akan sangat kurindukan, dan juga ciumannya yang lembut memabukkan.
Biarlah, ini hanya sementara.
Kubuka bibirku untuk memberinya celah membelitkan lidahnya ke lidahku dan mengulumku dengan bergairah. Saling mencecap dan menghisap dengan gelora yang menggebu. Aku pasti akan merindukannya.
Tapi biarlah, ini hanya sementara.
TBC
Jangan lupa Like, komen, kritik dan sarannya ya readers yang budiman....
Terima kasih untuk Vote nya 😘
__ADS_1
ikut grup chat Author ya.. Biar bisa tau apa Author akan Up atau tidak, atau sedang dalam proses juga..
Terima kasih sudah mampir 💖💖💖