
.
.
.
.
.
.
(Reyhan POV_1 minggu sebelum pernikahan Gerry & Caramel)
Mungkin ini yang sering kali orang bilang kalau 'penyesalan selalu datang terlambat'. Karena sepertinya sekarang aku sedang mengalaminya.
Ya, aku sangat menyesali keputusanku dulu saat melepaskan Caramel dari hidupku. Jika saja dulu aku tidak tergoda untuk kembali lagi pada Kirana, mungkin hidupku tidak akan semenyedihkan ini.
"Aku sudah pernah bilang kan mas.. Kalau kamu mau ketemu Aslan, silahkan. Tapi jangan deketin aku atau berusaha meminta rujuk sama aku. Karena aku ga akan pernah berubah pikiran" Ucap Caramel yang terdengar sedikit kesal waktu itu.
"Beri aku kesempatan lagi Mel... aku janji akan menjadi suami yang baik untuk kamu. Menjadi ayah yang baik untuk Aslan. Dan menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kita" Ujarku tak patah arang.
"Minggu depan aku akan menikah mas, kamu tolong berhenti ganggu aku lagi. Aku ga mau membuat Gerry salah paham" Ucapnya tegas.
Aku sudah tau, aku sudah mendengarnya jika minggu depan dia akan menikah. Dan rasanya sangat sakit, ketika aku tau kesempatan itu benar-benar sudah tidak ada.
"Kenapa kamu tega merebut suami dari wanita lain Mel? apalagi saat ini wanita itu sudah tidak bisa hamil lagi karena mengalamai kecelakaan bersamamu, dan sekarang dia sedang berjuang untuk pergi berobat ke luar negeri agar bisa mendapatkan keturunan suatu saat nanti"
__ADS_1
"Apa kamu tega merebutnya dari wanita yang sangat menderita itu?"
Ku gunakan kartu terakhir yang ku punya dengan memanfaatkan kebaikan hatinya yang aku tau, dia tidak pernah tega melihat orang lain menderita karena dia. Karena sepertinya dia tidak tau kondisi Kirana saat ini.
Dan melihat matanya yang sedikit goyah membuatku berpikir bahwa aku masih mempunyai kesempatan. Dia terlihat terkejut dengan fakta yang baru saja di dengarnya.
"Jika aku adalah Caramel yang dulu sangat polos dan gampang di bodohi, aku pasti akan meninggalkan Gerry dan membiarkan wanita itu tetap tinggal di sisinya. Tapi asal kamu tau mas, aku bukan lagi Caramel yang diam saja saat orang lain menyakitiku. Aku sudah berubah. Dan saat mendengar tentang nasib Kirana saat ini kamu tau apa yang kupikirkan?" Tanyanya yang sengaja membuat jeda agar aku sedikit berpikir.
Aku hanya diam tak menjawabnya. Namun sumpah demi apapun, aku sedikit terkejut dengan raut wajahnya yang berubah sinis. Aku seperti tidak mengenalnya. Kemana Caramel yang lemah lembut itu?
"Aku malah bersyukur dia mendapatkan balasan dari perbuatannya, dan aku dapat melihatnya" Ucapnya sambil tersenyum sinis.
Seperti ada yang mengoyak hatiku ketika aku mendengar jawabannya. Caramel sudah berubah. Sangat berubah hingga aku nyaris tidak mengenalinya. Sifatnya yang sekarang terkesan sangat berpendirian dan tegas. Dan juga egois.
"kamu salah mas.. kalo kamu berpikir aku akan meninggalkan Gerry karena keadaan Kirana sekarang. Aku tidak akan meninggalkan Gerry apapun yang terjadi" Imbuhnya lagi dengan sorot mata yang tak bisa ku artikan.
"Kamu berubah Mel.."
"Jika saja dulu kalian tidak melukaiku, semua ini ga akan pernah terjadi. Pulanglah mas... kamu tau betul apa yang kamu lakukan ini sia-sia" Ucapnya dan beranjak berdiri.
"Maaf... Karena pernah melukaimu sedalam itu Mel.. Sekarang aku menyesal. Aku ingin menebus kesalahanku dengan memperbaikinya" Ucapku putus asa.
"Kalau kamu ingin menebus kesalahanmu itu, pergilah dari hidupku mas. Jangan pernah menemui aku lagi saat kamu ingin bertemu Aslan. Jangan ganggu hidupku lagi dengan memanfaatkan Aslan. Karena sekali lagi aku tegaskan sama kamu, aku tidak akan pernah berubah pikiran. Aku tidak akan pernah kembali padamu. Selamat tinggal mas.." Ucapnya yang kemudian meninggalkanku sendiri di ruang tamu dengan berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku.
Ku kepalkan tanganku menahan amarah yang menyesakkan dada. Jadi seperti ini rasanya sebuah penyesalan? Mengapa Tuhan memberikan rasa yang begitu kuat dihatiku untuk Caramel, padahal Tuhan tau hatinya sudah mati untukku?
Bahkan ada banyak wanita di sekelilingku, namun aku tidak bisa melepas Caramel dari pikiranku. Dan sekarang Tuhan sedang menghukum ku?
__ADS_1
***
Dari jauh aku melihat iring-iringan keluarga dari pihak pengantin laki-laki. Gerry begitu gagah, usianya yang terpaut jauh dengan Caramel tidak begitu terlihat. Orang hanya akan menganggap dia dan Caramel hanya terpaut beberapa tahun saja.
Aku tidak menghadiri pernikahan Caramel. Aku hanya melihat mereka dari jauh di dalam sebuah mobil dengan kaca yang tidak terlihat dari luar. Entah apa yang membuatku ingin melihat proses ijab kabul mereka. Padahal aku tau pasti, hati ku akan tersayat-sayat hingga tak bersisa.
Pengantin wanita yang sangat cantik sedang duduk di pelaminan. Dan pengantin pria yang sedang duduk mendengarkan acara yang sedang berlangsung. Sesekali mereka mencuri pandang satu sama lain. Dengan wajah Caramel yang terlihat merah merona dan tampak malu-malu.
Dulu senyum yang sedikit malu-malu itu dia tunjukkan padaku. Dulu mata bulat besar yang bersinar-sinar itu selalu menatapku penuh cinta. Dan sekarang, semua itu sudah bukan untukku lagi.
Saat Caramel berjalan untuk duduk bersama Gerry dan berhadapan dengan bapak dan penghulu, Jantungku mulai berdetak kencang. Semoga saja Gerry salah saat mengucapkan ijab kabul nanti. Pikirku mulai sedikit jahat.
Namun mendengar orang-orang langsung berteriak 'Sah' dan melihat bahu Caramel sedikit berguncang saat Gerry mencium keningnya, Hatiku menjadi sangat sesak dan ngilu. Ku cengkeram erat-erat setir mobil dan kupukul keras. Caramel sudah menjadi milik orang lain. Aku sudah tidak mempunyai kesempatan lagi.
Dan setelah semua proses pernikahan itu, Hatiku malah bertambah sakit. Saat Aslan berlarian dan menghampiri Ayah Gerry dan duduk begitu saja di pangkuannya. Bercanda dan tertawa bersama dengan semua keluarga.
Bocah lucu itu tak henti-hentinya membuat Ayah Gerry gemas dan selalu mencium pipinya yang gembul. Jadi, bahkan Aslan pun begitu bahagia dengan keluarga barunya?
Aku bersandar dan memejamkan mataku sejenak. Ku nikmati rasa sakit yang masih memenuhi dadaku. Aku kalah.
Ku lajukan mobil meninggalkan acara pernikahan mereka. Ku lirik sekilas pelaminan tempat Caramel, Gerry dan pria bermata biru itu sedang bercengkrama. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah cantiknya.
"Semoga kamu selalu bahagia, Caramel. Mantan istriku yang cantik.. Semoga tidak ada lagi yang merebut senyum indahmu itu. Selamat tinggal.."
TBC
Like & Comment ya Readers.... ditunggu selalu...
__ADS_1
Terima kasih untuk Vote dan semangat kalian..
"Have a nice day..😍"