
"Selamat datang, Anna."
Baru saja Anna membuka pintu apartemen barunya tetapi di dalam sana sudah ada Albert yabg menyambutnya. Lelaki itu mengenakan setelan kemeja putih yang lengannya terlipat dan juga dua kancing teratasnya terbuka. Di meja makan sudah ada berbagai hidangan yang masih mengepul, hidangan itu nampak bermacam-macam dan begitu lezat.
Anna mendegus meski perutnya sangat lapar ksrena tadi belum sempat memesan makanan di restoran tetapi keberadaan Albert disini masih menjadi pertanyaannya.
"Bagaimana bisa kau masuk?"
Untuk memasuki unit apartemnnya ini memrlukan sebuah kartu yang dapat di scan dan Anna yakin tidak menggandakannya dan hanya memiliki satu saja. Lalu darimana Albert bisa masuk?
"Itu tidak penting, sekarang lebih baik kau makan terlebih dahulu."
Menyudahi kebingungannya kini Anna mendudukan dirinya di kursi, tidak dapat dipungkiri jika perutnya kini sudah meronta untuk diisi. Hidangan lezat di hadapannya ini seolah memanggil untuk ia santap.
"Kau yang memasak ini?"
Slbert menggeleng, tentu saja ia tidak memiliki keahlian untuk membuat masakan seenak ini. Menurutnya memasak itu bukanlah hal sederhana yang bisa ia lakukan dengan sempurna. Ia memiliki banyak uang lalu menyewa seorang koki bukanlah hal yang memberatkannya.
"Tentu saja bukan, ini masakan koki."
"Baiklah aku tidak peduli, tapi aku sangat kelaparan."
Albert mengambilkan nasi untuk Anna, tidak lupa ia juga memberikan beberapa lauk pada piring gadis itu. Selanjutnya ia duduk di hadapan Anna, tidak ikut makan hanya melihat Anna yang tengah dengan lahap memakan makanan itu.
__ADS_1
"Kau tidak makan?"
Albert menggeleng, ia hanya menatap Anna saja tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Ah iya," Anna baru teringat sesuatu tentang masalah yang baru saja terjadi. Ia mengeluarkan ponselnya yang telah pecah dari dalam tas.
"Kau harus mengganti ponselku!"
Albert menautkan kedua alisnya, ia tidak tahu mengapa ponsel Anna bisa mengenaskan seperti itu dan tiba-tiba saja disuruh untuk menggantinya.
"Aku?"
"Tentu saja, Hanz memecahkannya dan itu terjadi karena menganggapku wanita penggoda. Hais yang benar saja."
Anna mengangguk, "Bukan hanya Hanz, tadi aku bertemu jugs dengan Sarah. Ia terlihat lebih kurus dan kantung matanya menghitam. Sepertinya Sarah sangat mencintaimu, kasian sekali dia."
Albert melipat tangannya di dada, ia tidak begitu peduli dengan Sarah. Janjinya adalah tidak akan menyakiti gadis itu selama mereka masih menikah tetapi krnyataannya sekarang mereka sudah tidak memikiki hubungan pernikahan lagi.
"Salahkan saja si gila harta yang begitu menginginkan uang."
"Maksudmu nyonya Elin?"
"Siapa lagi jika bukan dia."
__ADS_1
Perceraian Sarah tentu dalangnya adalah nyonya Elin. Mengorbankan perasaan putrinys tanpa tahu jika diombang-ambingkan seperti itu sangat sakit, sekarang saja Sarah tidak tahu jika semua itu perintah ibunya. Jika tahu entha bagaimana perasaan Sarah.
"Benar juga, tapi seharusnya ada cara untuk itu. Kau pergi menjalin hubungan diam-diam dengannya, paling tidak agar Sarah tidak terlalu terluka atas semua ini."
"Apakah kau gila? Yang benar saja aku menjalin hubungan diam-diam dengannya."
"Mengapa seperti itu? Sarah sangat kasian."
"Aku tidak mencintainya,"
"Cinta bisa datang kapan saja."
"Tidak karena sudah ada orang dihatiku."
...━━━ Jerat Cinta Wanita Penggoda ━━━...
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
With love,
__ADS_1
Khalisa🌹