Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Pernyataan Masa Lalu


__ADS_3

"Maaf, karena kamu tidak nyaman atas kejadian kemaren" sebuah pesan terkirim ke nomor riko.


"G dibales...., ya Udahlah, toh aku udah coba untuk jelasin" bisik Karin dalam hati.


Karin lalu melempar pelan handphone nya disebelah tempat dia berbaring.


"Brian lagi apa ya?" Karin meraih handphone nya kembali, lalu melihat status WA Brian, gak ada??, hm.... Karin lalu kirim pesan ke Brian, "manjah", isi pesan Karin singkat.


"Iya kaka?" balas Brian.


"Kamu kok gak ada bikin status WA?", tanya Karin dalam pesan nya.


"wkwkwkwk sori kakak, adek tadi sibuk banget, kaga sempat pegang handphone". Lalu mereka tetap berbalas pesan, hingga akhirnya mas Sandi pulang, Karin langsung meletakan handphone nya.


"Sore sayang" ucap Sandi lalu mencium kening istrinya yang masih tidur-tiduran.


" Sore mas" bisik Karin manja.


"Anak-anak mana?" tanya Sandi,


"Lagi pada mandi mas, mereka bilang mau bobok dirumah oma mas" jelas Karin ke Sandi.


"Lo.. bukannya si kakak sekolah?" tanya Sandi kepada Karin.


"Kan besok kalender merah mas, jadi si kakak libur sekolah dan mengaji" terang Karin. Mas Sandi lalu tersenyum nakal.


"ehem.... bakalan bulan madu lagi nih" ucap Sandi nakal pada Karin.


"Apaan sih sayang", muka Karin memerah malu, tapi tetap saja, Karin memeluk Sandi dan mencium leher Sandi serta menggigit gemes telinga Sandi, suaminya itu langsung mengeliat brutal karena sentuhan itu. Tapi sayangnya, anak-anak mereka selesai mandi, berkemas memakai pakaian dan langsung menghampiri mama dan papa mereka.


Selepas magrib mas Sandi mengantar anak-anak mereka ke rumah orang tua Karin, mereka senang nginap disana karena oma sangat sayang pada mereka. saat perjalanan pulang sesampainya di Kafe Sandi tidak sengaja bertemu Riko di pom bensin dekat kafe Karin,


"Hai Kamu teman Karin kan? siapa? lupa namanya" tanya mas Sandi kepada pria itu.


"Riko bang" jawab Riko agak canggung, Sandi lebih dulu selesai mengisi bensin mobilnya dan dia menunggu Riko. begitu selesai isi bensin Riko langsung menghampiri Sandi.


"Mampir yuk" kata mas Sandi.


" Ngak usah bang, saya buru-buru, lagian kotor gini" jawab Riko.


Tiba-tiba handphone Sandi berbunyi, "iya sayang, ada apa?"


"Mas aku jatuh" kata Karin dari balik telepon.


"Tunggu mas dekat kok, kamu nggak apa-apa kan sayang?" mas Sandi langsung menghidupkn mobilnya.

__ADS_1


"kenapa bang?" tanya Riko peduli.


"Karin jatuh dan terluka katanya, duluan ya Ko" jelas mas Sandi panik. Riko penasaran dan mengikuti mas Sandi ternyata macet di ujung jalan kafe, ya ini memang jam macet, karena besok libur anak kuliah pasti pada keluar untuk keluyuran.


Riko mendahului mas Sandi, lalu mampir di kafe Karin, Karin sendirian.


"Karin, kamu kenapa?" tanya Riko


Karin kaget kenapa Riko ada disini.


"Aku tadi pusing lalu jatuh ga taunya lutut aku terluka dan kepala ku sedikit berdarah" rengek Karin.


"Maaf ya, Aku pegang" Riko lalu memegang luka di pelipis mata Karin.


Ya ada sedikit luka di pelipis matanya, Riko meniupnya dekat hingga seakan akan mencium kening Karin, lalu Riko menatap mata Karin.


"Aku sayang kamu" bisik Riko .


Karin hanya bisa mengeluarkan air mata, "maaf.... maaf kan aku, aku juga sayang kamu, tapi aku udah punya suami, kenapa? kenapa baru sekarang kamu ucapkan? maaf... maaf... tetaplah menjadi sahabatku" ucap Karin.


Riko lalu mendekati bibir Karin dan langsung menciumnya, tubuh Karin menggigil dan lemas karena ciuman Riko itu membuatnya shock dan akhirnya pingsan.


"Karin.... Karin..? Riko terus memanggil nama Karin dan menggendong Karin untuk dibawa kerumah sakit, tapi baru sampai diluar kafe, ternyata mas Sandi sudah datang.


"Riko, bisa tolong tutup pintu kafe nya nggak ntar kamu susul kami kerumah sakit B", kata Sandi harap.


"Baiklah" jawab Riko merasa bersalah.


"Kamu siapa?" sebuah suara menegur Riko yang sedang mengunci pintu kafe Karin. Riko lalu berbalik.


" Eh bang kamu? kok kamu bisa pegang kunci kafe?" tanya pemuda bocah itu.


"Iya saya tadi disuruh suami Karin untuk mengunci pintu kafe, karena..", belum selesai Riko bicara si bocah langsung menyambungkan pertanyaan nya.


"Kok bisa? kak Karin mana? mas Sandi mana?" ya pemuda itu adalah Brian, Brian bertanya dengan rasa curiga.


"Karin tadi jatuh dan pingsan, kebetulan saya lewat dan bermaksud mampir, ternyata Karin sedang terluka dan pingsan, lalu suaminya datang dan membawa Karin kerumah sakit B. Lalu..", belum selesai Riko bicara, Brian langsung menaiki motor nya, dan menuju kerumah sakit B dengan kencangnya.


Brian terlihat sangat khawatir, gimana tidak Karin adalah kakak kesayangan nya sedang terluka.


Riko lalu mengikuti dari belakang, dia sebenarnya capek seharian di bengkel, tapi mslaahnya ini adalah Karin, wanita yang dia kagumi, tidak mungkin harus di diami. Sesampai di rumah sakit B, Brian dan Riko langsung mencari Karin, tapi Brian ngak tau harus kemana, dia bertanya ke resepsionis, dan menanyakan nama Karin, tentu saja tidak ada petunjuk, karena itu cuma panggilan, Riko yang dari tadi mengikuti bocah itu lalu menyebutkn sebuah nama panjang yang lengkap, ternyata ketemu. Dan mereka langsung berlari kecil ke ruangan Karin di periksa.


"Kakak?" Brian memasuki ruang rawat Karin dan mendekati tempat tidurnya, ternyata Karin sudah sadar tapi masih dalam keadaan lemes, Brian melihat ada plester dipelipis kanan Karin.


"Gimana keadaan kakak mas?" tanya Brian pada Sandi.

__ADS_1


" Hanya lemes dan butuh istrahat, Karin dari semalam demam dan mas sudah suruh dia istirahat dan nggak usah buka kafe dulu. Karin udah istirahat seharian, lalu mas Antar anak-anak ke rumah mama , tau-tau Karin menelpon mas dan bilang dia jatuh Brian" Jelas Sandi kepada Brian.


"Masuklah Riko, dan Terimakasih bantuannya" ucap Sandi.


Brian lalu menatap curiga ke Riko, bagaimana caranya dia ada di kafe saat kak Karin jatuh dan pingsan? Brian benar-benar tidak menyukai pria ini, dia selalu berfikir buruk pada pria itu. Baginya pria ini adalah pengganggu.


Mas Sandi lalu ke toilet, Brian dan Riko masih menatap Karin yang setengah sadar, lalu tiba-tiba Karin membuka matanya, dan bergumam, "maaf ...". sambil mengeluarkan air mata.


Riko lalu mendekat, "kamu nggak apa-apa?" Riko bertanya pelan.


"Nggak apa-apa" jawab Karin


"Maaf kan aku Karin" ucap Riko.


"Nggak apa-apa ko, hanya saja, makasih untuk semua nya" Riko merasa aneh, kenapa Karin nggak marah? gumamnya dalam hati.


"Mas Sandi mana?"tanya Karin


"Mas Sandi ke toilet kakak" jawab Brian dari sisi sebelah Karin yang satunya.


"Brian?" Karin melihat ke arah Brian dan tersenyum manis...., dia terlihat pucat sekali oleh Brian, Brian lalu membelai rambut Karin, baru pertama Brian melihat Karin tidak mengenakan jilababnya, Karin terlihat jauh lebih muda.


"Kakak gimana? ada yang terasa sakitnya?" tanya Brian.


"Nggak dek, kakak nggak kenapa napa manjah" jawab Karin. Brian tersenyum bahagia di perlakukan seperti itu oleh Karin didepan Riko. Dan Riko memang sebal melihat kedekatan Karin dan Brian.


"Adek kwatir sama kakak, jagalah kesehatan kakak" Brian lalu memegang tangan Karin.


"Jangan membuat semua jadi khawatir, kakak nggak cocok berada ditas tempat tidur ini" kata Brian lagi, lalu tertawa pelan.


"Xixixi dasar adek kampret" ucap Karin bahagia... Karin selalu bahagia dengan candaan mereka, mereka saling membuly. Dan Riko memandang dengan penuh tanda tanya.


"Sayang" mas Sandi datang, Brian langsung melepas tangannya pelan dari Karin.


"Kamu udah bangun?"


Karin tersenyum


"Berterima kasihlah pada Riko yang segera menemukan mu" Mas Sandi terseyum pada Riko dan Riko membalasnya dengan senyum yang tipis.


"Makasih ya ko" kata Karin tersenyum manis.


Dia nggak marah bisik riko dalam hati. Tapi disisi lain, Riko melihat, raut wajah kesal pada Brian.


Riko pamit pulang, lalu Brian tiba-tiba buru-buru pamit juga, Sandi merasa aneh, yah tapi karena capek dia nggak terlalu memikirkannya.

__ADS_1


__ADS_2