Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Gelap


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


Ku pandangi berulang-ulang kali ponsel yang memperlihatkan sebuah sms dari sebuah bank ternama, yang berisi sejumlah nominal uang. Dan jumlahnya bertambah banyak dari yang ku kembalikan satu minggu yang lalu.


Apa aku ambil saja? pikirku usil lalu tersenyum. Uang segini banyaknya seperti tidak artinya sama sekali untuk mereka. Padahal banyak sekali orang yang tidak mampu bahkan hanya untuk membeli sebuah nasi bungkus.


Kali ini kubiarkan saja, kalaupun ku kembalikan lagi pasti Om Rendra akan menambah jumlah uangnya lagi. Dan aku sudah muak.


"Selamat datang.. "


Aku tak melanjutkan tugasku yang menyapa setiap pelanggan yang masuk, ketika kudapati wanita berlipstik merah terang sedang memandangiku dengan tatapan merendahkan.


"Lo cuma kasir minimarket kecil tapi berani godain suami orang? Ah, gaji lo pasti kurang makannya lo mepetin suami orang yang jelas lo tau sangat kaya yang bisa nopang hidup lo yang miskin" Ujar Kirana ketus.


"Maaf, Saya sedang bekerja. Saya tidak bisa mengobrol masalah pribadi dengan Anda karena masih jam kerja" Ucapku profesional.


"Lo ga berani ngomong sama gue karena lo emang bersalah karena udah ganjen sama suami orang?" Kirana kembali mencercaku.


beruntungnya hari masih agak pagi. Toko juga belum begitu banyak pembeli. Kalau tidak, maka akan menjadi tontonan menarik bagi mereka yang melihat percakapan kami.


"Ada CCTV yang merekam setiap gerak-gerik Anda di kasir, selain untuk berbelanja membeli beberapa barang disini, Anda tidak seharusnya mengganggu pekerjaan saya" Ujarku mengingatkan.

__ADS_1


"Lo cuma ****** yang di pelihara suami gue. Berani banget lo ngatur-ngatur gue"


Dia sudah mengangkat tangannya dan hampir menamparku jika tidak kuperingatkan sekali lagi.


"Dan juga, wajah Anda terekam jelas. Bagaimana jika publik sampai tau bahwa nona Kirana, Ah tidak.. nona Maysha Widjaya menunjukkan perilaku tidak baik kepada seorang kasir minimarket?" Aku masih berusaha bersikap tenang.


"Lo tunggu aja, gue bakal bikin perhitungan sama lo" Ucapnya dan berlalu pergi menahan amarah.


Lagi-lagi orang kaya sombong yang mengandalkan hartanya. Dia memanggilku ******? Tidak mungkin kan seorang yang kaya raya seperti dia tidak punya cermin dirumahnya?


Sekali lagi ku abaikan orang-orang yang berusaha menghalangi hubunganku dengan Gerry. Aku kembali menyapa setiap pembeli yang memasuki minimarket untuk berbelanja.


Ting


Sebuah pesan dari nomor tak di kenal masuk ke ponselku.


"Gue bahkan bisa beli minimarket tempat lo kerja dan nendang lo dari pekerjaan lo. Jangan belagu"


Sepertinya Kirana punya banyak waktu luang untuk menerorku dari pada bekerja dan lembur atau pergi dinas keluar kota, seperti yang selalu dia jadikan alasan kepada Gerry untuk berselingkuh.


Tak terasa jam kerjaku sudah hampir habis, dan teman yang menggantikan shift ku sudah datang. Aku pergi ke market dan membeli beberapa barang kebutuhan rumah yang sedang habis.


Sampai lewat jam pulangku aku baru keluar dari toko. Namun yang kudapati malah sosok yang paling tidak ingin ku temui di dunia ini.


"Aku anter pulang yuk.." Tawar mas Reyhan begitu melihatku.


"Kamu tau darimana aku kerja disini?" Tanyaku curiga.


"Tau darimana itu ga penting, sekarang ayo aku antar kamu pulang" Ujarnya gigih.


"Enggak, makasih. Aku jalan kaki saja" Ujarku dan berlalu dari hadapannya.


"Tunggu dulu Mel..." Ucapnya sambil meraih tanganku.

__ADS_1


Ku tepis tangannya yang berusaha meraih tanganku "Ada apa lagi mas?" Ucapku sedikit menaikkan nada bicaraku karena kesal.


"Aku 2 hari lagi pulang, kamu ga pengen nitip sesuatu untuk Aslan?" Ucapnya yang masih berusaha menyentuhku.


Aku mundur setiap dia mendekatiku "Tidak perlu" Jawabku ketus.


"Jadi kamu beneran pengen rujuk sama ****** ini?" Ujar seseorang kepada kami.


Aku menoleh dan mendapati Kirana sedang menatap kami dengan tatapan marah.


"Apa hebatnya dia sih? sampe dijadikan rebutan?" Ujarnya lagi.


"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, jadi aku bebas mau ngejar siapapun itu bukan urusan kamu lagi" Ucap Reyhan tegas.


Jadi benar, mereka sudah putus. Terang saja, Mas Reyhan jadi gencar mendekatiku. Jadi karena dia sudah di buang Kirana?


"Jelas itu jadi urusanku kalo yang kamu kejar itu si ****** ini" Ucapnya sambil menunjuk ke arahku.


"Jaga bicara kamu Na..!" Ujar Reyhan penuh amarah.


Apa sebenarnya yang di inginkan Kirana? Dia marah karena aku berkencan dengan Gerry, tapi dia juga marah ketika tau mas Reyhan mendekatiku. Dia juga selalu mengatakan aku ******. Sepertinya aku harus mengirim sebuah kaca besar kerumahnya.


Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri ketika mereka bertengkar. Ku langkahkan kakiku menjauhi mereka dan ku tinggalkan saja mereka berdebat.


Namun sebuah tangan mendorongku hingga aku terjatuh kepinggir jalan. Ada seberkas cahaya yang menyilaukan mataku juga suara klakson yang sangat nyaring di telingaku. Dan semuanya menjadi gelap.


TBC


Like & Comment selalu Author tunggu ya...


Terima kasih untuk Vote nya..


Terima kasih untuk yang sudah baca.. 💖💖💖

__ADS_1


Dan untuk yang tidak suka dengan karya Author ini, tolong berkomentarlah yang bijak. Author juga manusia biasa, yang juga punya hati.


Maaf untuk update yang sedikit terlambat, Author sedang badmood sesaat 😅


__ADS_2