Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Selingkuh Euy


__ADS_3

Maura pun mulai bersemangat untuk membebaskan diri dari Mami Lin, walau kali ini Dia sangat berhati hati dengan Bela, namun Dia menerima usulan Bela untuk kerja di luaran sana untuk menambah pendapatan. Kayak Author aja selingkuh ke plaform lain😁.


Maura menyusun kembali barang yang baru di belinya hari ini.


"Aku harus bisa mendapatkan uang 20 juta itu," gumamnya.


"Tapi apakah aku bisa membalaskan sakit hati ini ya Allah, aku begitu kotor, aku begitu hina, aku rapuh, namun aku juga tidak bisa terus dibayangi di mana saat itu aku sangat terluka, aku harus membalasnya, aku harus kuat, biarlah dosa ini aku tumpuk dulu, toh kelak aku bisa bertobat dan minta pengampunan-MU," gumamnya.


Sayup sayup di dengarnya lagu dari Rossa'Hijrah cinta" entah mengapa dadanya merasa sesak Dia pun terduduk di lantai, sambil mengelus dadanya yang nyeri, air matanya pun mengalir, lagu itu begitu menyentuh di hatinya.


"Maura! Maura bangun! Kok tiduran di lantai sih, Cepat makan malam, bentar lagi mungkin langganan mu bakal datang, cepatlah berbenah," ucap mamy Lin.


"Oh apa sudah malam? Aku belum maghrib Mi," eh keceplosan.


"Magrib? Emang kamu sholat?" tanya mami heran.


"Oh, itu, iya kadang kadang," sahutnya.


"Ya sudah, cepatlah!" titahnya lagi.


Maura pun dengan cepat merapikan rambut dan berjalan kebelakang untuk mengambil wudhu. Dia sholat Maghrib 3 rakaat dan berdo'a sangat panjang. Selesai berdo'a dia merapikan mukena dan menyimpannya kembali.


"Mi, Sabtu ini aku cuti ya, mau malam mingguan sama Bela," ucap Maura saat berada di ruang makan.


"Bagaimana dengan Aufan?" tanya Mami Lin.


"Libur Mi, tiap malam Minggu, mungkin dia jalan sama pacarnya," ucap Maura.


"Eh, emang kalian ngelakuin itu tiap malam ya Ra?" tanya teman yang lain.


"Lakuin apa?" Maura pura pura bego.


"Ah kamu, ya Asoy geboy lah, mau ngapain lagi?" ucap sang teman lainnya.


"Nggak kok, ngapain tiap malem, emang penganten baru apa?" protes Maura, Walau mereka satu profesi, namun tetap saja Maura merasa malu kalau membahas masalah itu.


"Trus kalian ngapain tiap malam tu cowok mau kemari dan bayar mahal Elo?" tanya teman yang agak menyebalkan.


"Kami cuma ngobrol doang," ucap Maura.


"Aaah, sudah, makan ayo! Sebentar lagi kita kerja!" ucap Bela mengalihkan perhatian semua orang.


"Cuma nanya doang, aku juga pengen punya pelanggan tetap kayak Dia, kali aja gajih besar tapi nggak terlalu cape dengan berbagai macam gaya," ucap yang lain.


"Hei, kamu itu udah jadi lobang semut, nggak mungkin ada yang mau, Maura 'kan masih satu pemilik, dari Virgin sampai sekarang," ucap Bela lagi keceplosan.


"Masa? Dari Virgin, emang benar Ra?"


"Udah ah, aku udah selesai, aku duluan,"

__ADS_1


Maura pun meninggalkan dapur dan berjalan ke kamarnya, dia terpana saat melihat lelaki itu sudah ada di kamar pribadinya.


"Tuan? Udah datang?" tanya Maura sedikit takut.


"Hmmm, ke marilah!"


Aufan yang berbaring di kasur Maura, melambai ke arahnya, Maura pun masuk dan menutup juga mengunci pintu.


"Mengapa di kunci?" goda Aufan sambil tersenyum genit.


"Ooh?" Maura pin dengan lugu kembali berjalan me arah pintu ingin membuka kunci.


"Nggak usah, terlanjur di kunci kok, sini!"


Maura kembali berjalan mendekati Aufan si casanova.


"Malam besok kamu nggak ke mari kan?" tanya Maura sambil duduk di sisi ranjang,


"Emang kenapa? Kamu mau selingkuh?" tanya Aufsn sinis.


"Selingkuh apaan, aku ini hanya milikmu kalau malam hari, tapi aku dan kamu bukan siapa siapa kalau siang hari," jawab Maura.


"Eeeh, tapi ingat! Milikmu, hanya milikku, nggak boleh jadi lobang semut,"


Lobang semut apa sih, itu lo, biasa kan kalau semut satu lobang di masukin beratus ratus semut, paham kan?


"Siapa bilang?" tantang Maura.


"Kau boleh ke mana saja kau mau, tapi mengapa aku tidak?" ucap Maura protes.


"Karena aku sudah mengontrak mu, ingat!?" suara Aufan meninggi dan menekan.


"Hufs, baiklah, aku kalah, sekarang kau mau aku bagaimana?" tanya Maura.


"Aku malam ini akan pulang, Mami kurang sehat, jadi minta di temani, sedang papi saat ini ke luar kota, ini, aku hanya ingin mengantar ini," segepok uang mingguan di letakkan di tangan Maura, Maura pun kaget dan entah mengapa langsung meneteskan air matanya, sedang Aufan sudah menjauh dan berjalan menuju pintu, tanpa perduli reaksi Maura, saat Dia membayar wanita hina itu.


"Sungguh aku ini sangat hina, Bunda... Maafin Maura,"


Bunda adalah panggilan ibu panti saat dia di adopsi.


***


"Aufan, kau pulang juga? Aku dengar Mami sakit, jadi malam ini aku akan menginap di sini," ucap Vena sambil menggandeng tangan Aufan.


"Kapan kau datang?" tanya Aufan.


"Baru saja, kau dari mana? Kok ada wangi perempuan gini sih?" tanya Vena curiga.


"Namanya juga dari kantor, paling kesenggol parfum karyawan," ucapnya santai.

__ADS_1


"Kapan kita menikah?" tanya Vena.


"Tunggu rumah kita selesai dulu, perlu berapa kali aku mengatakannya padamu heh?"


Aufan pun masuk kamarnya dan menutupnya, padahal Vena ingin ikut masuk.


"Aufan, kok di kunci?" tanya Vena kesal.


"Aku mau mandi, kau temui Mami saja!" titah Aufan.


Tak ada sahutan dari luar kamar, selesai mandi, Aufan pun keluar kamar dan menemui Maminya.


"Mi, sakit apa? Apa kita perlu ke dokter?" tanya Aufan, sambil menggenggam tangan wanita yang masih terlihat cantik itu.


"Tidak perlu, sudah minum obat kok, kalian kapan menikah? Mami ingin menimang cucu Aufan," ucapnya, padahal tadi Vena lah yang menyuruh calon mertuanya itu bicarakan masalah pernikahan mereka.


"Nanti Mi, Rumahnya belum selesai," sahut Aufan.


"Kalian bisa tinggal di sini dulu, lagian anak Mami 'kan cuma kamu, rumah ini mau di apain, kalau Mami dan papi tidak ada?" ucap Mami lagi.


"Nanti aku pikirkan itu Mi,"


Percakapan mereka sangat asyik, hingga malam semakin larut, akhirnya mereka pamit, seperti biasa Vena pasti tidur di kamar Aufan, Mami atau pun Papinya tak pernah melarang, bagi mereka, Aufan sudah dewasa.


***


Malam minggu yang di nanti pun tiba, Bela dan Maura tampak berdandan cantik. Namun kali ini Mereka tidak berpakaian murahan, namun berpakaian serba tertutup, menggunakan levis panjang, dan kaos tipis lengan pendek. Mereka pun meluncur menuju perkantoran mewah, membawa kartu ehem ehem ehem.


"Eh kamu bawa kon***m nggak?" tanya Bela.


"Bawa 2," ucap Maura.


"Kok 2 doang? Emang Loe mau layanin 2 doang?" tanya Bela.


"Itu aja kalau dapet, kalau nggak gimana?" ucap Maura lagi.


Mereka menaiki taksi dan berhenti di halaman parkir perkantoran. Bela sudah berhasil menemukan target.


Senja mulai beranjak, Maura masih berdiri di halaman ketika seorang Om meneleponnya, ternyata Bela yang merekomendasikannya.


Maura pun menuju Hotel tersebut.


"Kau Maura?" tanya oom itu ketika Mauta sampai di halaman Hotel dan berdiri menunggu Oom tersebut.


"Iya, Om Cho?" tanya Maura.


"Iya, ayo!"


Pria itu menggandeng Maura berjalan menuju Lift. Maura merasa tidak enak, karena Pria itu jauh lebih tua dAri dirinya.

__ADS_1


"Demi cuan," lirih hatinya


BERSAMBUNG...


__ADS_2