
Tampak Aufan berbaring di atas kasur empuknya. Sementara Vina sedang membuatkan minuman hangat untuk sang suami. Aufan tampak sedang melamun, dan sedang memikirkan wanita yang ada di apartemen itu.
"Siapa wanita itu? kenapa dia mau dinikahkan denganku? Maura... siapa Maura? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu," batin Aufan.
"Sayang... Ini tehnya, kamu minum dulu ya!" ucap Vena.
Vena pun duduk di samping Aufan. menyuguhkan teh hangat untuk sang suami.
"Terima kasih. Bolehkah aku bertanya satu hal?" tanya Aufan.
"Silahkan, aku akan menjawab mu," ucapnya.
"Benarkah kau itu istriku?" tanya Aufan.
"Benar, kenapa kau tidak percaya? sebentar... biar aku ambil album foto kita waktu menikah," ucapnya swraya berdiri dan mengambil album foto pernikahannya.
"Kapan kita menikah?" tanya Aufan lagi.
"Sekitar satu bulan yang lalu," ucapnya.
"Oh"
Aufan pun mengambil album foto yang diserahkan Vena padanya, dia membuka album itu satu persatu dan benar, semua foto pengantin di situ adalah dirinya dan Vena.
"Jadi sebenarnya, siapa wanita itu?" batin Aufan lagi, sia masih sangat penasaran dengan wanita yang ada di apartemen sebelumnya.
"Sebenarnya kau ada di mana dua hari ini?" tanya Vena.
"Aku bersama wanita yang bernama Maura, dan aku mengira dia adalah istriku," ucap Aufan.
"Maksudnya? kalian berhubungan badan?" tanya Vena merasa resah dan khawatir.
"Selayaknya suami istri," ucap Aufan lagi.
"Ya Tuhan... Kau berzina Aufan. Cepat mandi sana! mandi yang bersih!" titah Vena merasa jijik.
"Mana aku tahu? Kukira dia adalah istriku, dan dia juga mau kok, kami suka sama suka," ucap Aufan.
"Keterlaluan Maura! berani sekali dia mempermainkan kita, pelakor itu akan aku jambak rambutnya dan ku cincang kalau bertemu denganku! Awas saja kau Maura!"
Vena terlihat sangat marah dan kesal.
"Tapi katanya, dia sedang hamil anakku?" ucap Aufan lagi.
"Mas, kamu jangan percaya sama wanita seperti itu! dia hanya ingin mendapatkan warisan mu, kau kan orang kaya, tentu saja semua wanita berebut ingin menjadi istrimu, mereka mengambil kesempatan dalam kesempitan, karena kau lupa ingatan, maka mereka mempergunakan waktu ini sebaik mungkin. Kau jangan percaya! ingat itu! lihat ini! Ini adalah bukti bahwa kita adalah suami istri yang sah," ucap Vena.
"Baiklah, aku ingin istirahat, aku merasa capek."
__ADS_1
Aufan pun berbaring setelah menghabiskan teh panasnya. Tak berapa lama Aufan pun tertidur.
***
Pak Irlangga tampak tergesa gesak menuju apartemen rahasia Aufan. Dia akan membawa Maura untuk tinggal di rumahnya. Dia sangat bahagia karena mendengar kabar bahwa Maura sedang mengandung anak Aufan, atau cucunya sendiri. Sesampainya di apartemen, Pak Irlangga mendorong pintu Maura dengan sangat kasar dan tergesa-gesa.
"Maura!" Maura yang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan apartemen tersebut pun kaget
"Pak?" sapa Maura, saat melihat ayah Aufan mendobrak pintunya kasar.
"Ayo! Kemasi bareng-bareng mu! kau ikut aku!" titah Pak Irlangga.
Maura pun bingung. Dia mundur dan menempel di dinding.
"Mau di bawa ke mana saya, Pak, saya tidak salah, semua ini rencana Aman Pak, saya tidak tahu apa-apa," ucap Maura.
"Kau ikut saja denganku! nanti kau akan tahu," ucap pak Irlangga lagi.
"Tapi saya tidak mau dipenjara, tolong lepaskan saya! tolong lepaskan saya!" ucap Maura lagi.
"Ha ha ha... Mana mungkin aku memenjarakan mu, cepatlah! Ayo semuanya, bereskan pakaian yang ada di dalam ruangan ini! " titahnya pada ke dua suruhannya.
Kedua suruhannya itu pun segera membereskan dan membuka lemari dan memasukkan semua baju yang ada di sana, termasuk baju Aufann yang sudah lama ditinggalnya di dalam lemari itu.
"Pak, mau di baw ke mana saya... tolong maafkan saya!" ucap Maura sangat merasa takut.
"Sudahlah... nanti kau juga akan tahu, mana Aman?" tanya Pak Irlangga.
"Apa benar kau sedang hamil" tanya Pak Irlangga.
"Iya Pak," ucap Maura.
"Apa benar anak yang kau kandung itu adalah anak Aufan?" tanyanya lagi.
"Iya Pak," ucap Maura.
Maura merasa sangat takut karena melihat kedua body guard pak Irlangga yang sangat besar. Setelah selesai merapikan semua barang Maura, kemudian Maura pun diajak untuk meninggalkan apartemen.
" Ayo cepat! kita akan segera pergi dari sini," ucap Pak Irlangga .
"Tapi Mau di bawa ke mana saya?" tanya Maura lagi.
"Kau akan tahu nanti, yang jelas, aku tidak akan menyakitimu, ucap Pak Irlangga.
Akhirnya Maura pun mau dibawa, karena walaupun dia melawan, tentu saja dia tidak akan sanggup untuk melawan 3 orang laki laki itu. Apa lagi kondisinya yang sedang hamil.
Akhirnya Maura dibawa pulang oleh Pak Irlangga ke rumahnya, tepat di halaman Aufan, Maura pun tahu bahwa ini adalah rumah Aufan.
__ADS_1
"Kenapa Bapak membawa saya ke mari?" tanya Maura.
"Karena ini adalah rumah untuk cucuku kelak," ucap Pak Irlangga.
"Maksud Bapak?" tanya Maura.
"Anak yang di kandungan mu itu adalah darah daging ku juga."
"Tapi saya tidak bermaksud memberikan anak ini kepada Aufan," ucap Maura.
"Siapa bilang kau akan memberikannya pada kami? karena kau pun akan tinggal di sini," ucap Pak Irlangga.
"Maaf Pak, bagaimana bisa saya tinggal di sini sedangkan Aufan sendiri sudah mempunyai istri? " ucap Maura.
"Setahuku, Vena itu menunda untuk hamil, dia hanya ingin bersenang-senang dengan Aufan. Sementara kau? aku tidak tahu Apakah kalian sudah menikah atau belum, namun kau sudah mengandung cucu kami, darah daging kami," ucap Pak Irlangga, Sia berbicara dengan sangat lembut .
"Pak... tapi saya tidak mau dicap sebagai pelakor tolong lepaskan saya! Pak, kalau kelak anak ini lahir, saya akan mempertemukan dengan kalian, tapi saya tidak akan memberikannya," ucap Maura.
"Aku tidak percaya padamu, aku hanya ingin melihat anak itu tumbuh, tubuh di sekelilingku, hanya itu," ucap Pak Irlangga.
"Tapi tidak mungkin istri Aufan bisa menerima kami, aku takut akan terjadi sesuatu kepada saya, ataupun anak ini kelak," ucap Maura.
"Selama aku ada di rumah ini, dia tidak akan berani macam-macam."
Akhirnya mereka pun sudah sampai di depan teras rumah. tampak Ani istri Pak Irlangga sudah menunggu di depan pintu.
"Lah, kau berhasil membawanya?" tanya ani
Dia pun menyambut kedatangan Maura dengan penuh sukacita.
"Iya sayang..m tolong bawa dia ke kamar tamu, kau berikan semua keperluan untuknya. Hari ini aku akan ke kantor sebentar untuk mengurus segala sesuatu tentang perusahaan kita," ucap Pak Irlangga.
"Baiklah Pah, hati-hati," ucapnya.
Kemudian Pak Irlangga pun kembali masuk ke dalam mobil, meluncur bersama sopir menuju kantornya.
Sementara Maura di gandeng oleh ibu mertua tirinya, masuk ke dalam istana megah itu.
"Ayo sayang! kita masuk dulu!" ajak Ani mertuanya.
Maura pun terpaksa mengikuti langkah sang mertua. Tepat di depan pintu ruang utama.
"Mami? dia? Bukankah orang yang pernah bertemu aku di mall dulu?" ucap Vena.
"Kenalkan... dia Maura, wanita yang sedang mengandung anak Aufan," ucap Vena.
"Mami! Kenapa Mami membawa dia kemari" be tak Vena ketus.
__ADS_1
Vena pin turun dari tangga dan menghampiri Maura. Mungkin dia berniat untuk menjambak Maura kali ini. Maura merasa takut ,dia pun mundur beberapa langkah.
Bersambung...