Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Pendarahan


__ADS_3

Jam 19.00.


Mbak Alin tampak sibuk dan berlari ke dapur memanggil bibi. Wajahnya sangat panik nafasnya ngos-ngosan, tidak dapat dibayangkan apa yang terjadi sebenarnya, dia pun segera mengambil telepon yang ada di meja dapur.


"Bibi... Tolong...! Paaaa ayooo buka hp-nya," gerutu Alin sambil berbicara acak aduk.


"Ada apa Alin? Ada apa Alin? kenapa teriak-teriak?" tanya Bibi juga ikut panik.


"Cepatlah! sana! aku harus nelpon tuan, Maura... Maura," ucap Alin sambil menunjuk kamar Maura.


Bibi pun berlari ke kamar Maura, tanpa paham apa yang terjadi sebenarnya. Sementara Alin terus menghubungi pak Irlangga, namun tidak ada jawaban.


"Baiklah, aku akan pergi sendiri," gumamnya sambil berlari ke kamar Maura.


Bibi yang sudah berada di kamar Maura pun kaget luar biasa, ketika melihat oemandangan yang sungguh menegangkan.


"Astagfirullah... apa yang terjadi Nduk? Kenapa Ndukvkenapa begini?" tanya Bibi seraya mendekati Maura.


"Bibi, perutku sakit, Bi tolong, Bi, lihat! ada darah Bi, hiks hiks hiks, sakit Bi," rengek Maura.


Sambil memegangi perutnya yang sangat mules, Maura pun menangis menahan sakit yang luar biasa, seakan perutnya itu di obok onok oleh jin dan semacamnya.


"Ayo cepat, kita harus segera pergi dari sini Alin! cepetan! sopir satpam saja, atau Siapa lah kita cari bantuan, " ucap Bibi panik.


Alin pun pergi keluar dengan tergesa-gesek dan memanggil Paman satpam, dan kebetulan Paman satpam juga bisa menyetir, karena syarat untuk bekerja di rumah Irlangga harus bisa menyetir, walaupun hanya seorang satpam.


Satpam tergesa-gesa menghidupkan mesin mobil, kemudian masuk ke dalam dan mengangkat Maura yang sudah pingsan, dengan kecepatan penuh Paman satpam pun membawa Maura menuju Rumah Sakit.


Alin dan Bibi juga ikut ke sana. Sementara Bibi lupa, kalau sekarang dia sedang menggoreng ikan di dapur, karena saking paniknya. Saat di perjalanan, telepon Alin berbunyi, ternyata Tuan Irlangga yang menelpon.


"Alin... ada apa?"


"Pak Bos, gawat Pak Bos, Maura pendarahan Pak Bos, sekarang kami menuju Rumah Sakit," ucap Alin.


"Apa? pendarahan? Kenapa bisa pendarahan?" tanya Pak Irlangga langsung terdengar panik.


"Aku juga tidak tahu pak Bos, tadi Saat Aku ingin mengantarkan susu, jam 19.00 tadi aku mengetuk-ngetuk pintu Nona Maura, namun aku mendengar ringisan nya, lalu aku masuk, Nona Maura sudah di lantai dengan darah di bawahnya," ucap Alin.


"Ya Tuhan... sekarang kalian ada di rumah sakit mana? Biar aku menyusul," ucapnya.

__ADS_1


"Kami masih di perjalanan Tuan Bos, nanti akan saya kabari Tuann Bos, yang pasti, rumah sakit terdekat pa Bos, silahkan ke sana Tuan Bos," ucap Alin.


Akhirnya telepon pun ditutup.


"Bi.. apa yang terjadi? tadi kan dia baik-baik,l saja? kenapa sekarang begini?" ucap Alin


Mereka panik, sangat takut kalau terjadi sesutu dengan kandungan Maura.


"Iya, aku juga tidak tahu, kenapa bisa seperti ini? ya Tuhan, tolong lindungi dia Tuhan, dia orang baik, jangan pernah sakiti dia Ya Tuhan," gumam Bibi.


Walaupun dia pingsan, namun keringat seperti biji jagung terus mengalir deras di jidadnya. Setelah berapa lama, mereka pun sampai di sebuah rumah sakit terdekat, tanpa pikir panjang, Pak sopir pun mengangkat Maura tanpa menunggu perawat membawa branker, Maura langsung ditangani di ruang IGD.


Perawat pun memasangkan infus, dan memanggil kan dokter, dan langsung diperiksa. Kemudian dokter menyimpulkan bahwa dia salah makan, entah makanan seperti apakah, yg di maksud.


"Apakah anda keluarga Nona Maura?" tanya perawat pada Alin.


"Ya... kami keluarganya," ucap Alin.


"Maaf... Nona Maura sepertinya salah makan, dan mungkin di dalam makanan tersebut mengandung semacam virus, yang membuat kandungannya pendarahan. Sebenarnya, apa yang Nona Maura makan sebelum ini terjadi?" tanya perawat.


"Kami hanya memakan rujak, Pa, tapi Kami bertiga makannya Loh, kenapa kami tidak ada reaksi sama sekali?" tanya Alin.


"Iya... mungkin ini hanya virus yang bisa menyerang pada kandungan saja, tapi sama orang normal tidak akan ada reaksinya," ucapnya lagi.


"Nah... kalau itu saya kurang tahu, yang pasti dia telah memakan makanan yang membuat kandungannya lemah. Memangnya buah apa saja yang kalian makan banyak?" tanya perawat lagi.


"Perawat, kami hanya memakan buah-buahan biasa Pak, seperti Nanas, Jambu dan juga mangga muda, cuma itu kok," ucap Alin


"Baiklah... kami akan segera melakukan tindakan, mudah-mudahan tidak terlambat," ucap lerawat.


"Tolonglah Pa, tolonglah! kalau sampai terjadi sesuatu dengan anaknya, habislah kami Pa, tolonglah!" ucap bibi sangat takut dengan kemarahan pa Irlangga.


Begitu juga Alin, wajahnya sampai pucat karena menahan rasa takut. Bahkan tangannya pun terasa dingin.


"Iya, kami akan mencobanya," ucap perawat.


Segala tindakan pun dilakukan dan kemudian obat yang sangat bagus dengan takaran dosis yang sudah sesuai sudah dimasukkan ke infus Maura. Maura yang terlihat pingsan dan pucat itu pun masih tidak ada reaksi.


Sementara darah masih mengucur di bawah kaki Maura.

__ADS_1


"Mana Maura, mana Maura?" tiba-tiba Pa Irlangga datang dan langsung masuk ke ruangan yang sudah disebutkan oleh bibi.


"Tuan Irlangga."


"Maura! apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia sampai pendarahan?" ketus Irlangga panik.


"Tuan... sabarlah, semoga perawat dan dokter bisa mengatasi ini," ucap Alin.


"Apakah dia terjatuh Alin? Apa yang kau lakukan sehingga kau tidak bisa menjaganya dengan baik?" marah Irlangga sama Alin.


"Tidak ada yang jatuh Pa Bos, ini pendarahan murni,bukan terjatuh, tadi saat aku mengantarkan susu ke kamarnya, dia sudah berada di lantai, dan aku tanya apa dia terjatuh? dia tidak terjatuh Tuan, orang hamil memang bisa pendarahan."


"Bukankah dia tidak bekerja keras? Kenapa bisa pendarahan?" tanya Irlangga lagi.


"Aku tidak tahu Tuan, nanti biar Tuan Bos dengar sendiri penjelasan dari perawat," ucap Alin lagi.


Jantungnya ketar-ketir karena merasa takut, takut kalau kalau tangan pa Irlangg itu melayang ke wajahnya.


"Baiklah, aku harap kau benar, jangan sampai terjadi sesuatu kepada cucuku," ucapnya kemudian.


***


Sementara di rumah. tepat jam 19..30 malam Api di dapur Pa Irlangga sudah semakin membesar, karena api yang lupa dimatikan oleh Bibi. Sementara Mami yang masih di perjalanan menuju rumah karena baru berjalan-jalan bertemu dengan sahabat sosialitanya, makan malam bersama. Dia baru sampai di depan pagar rumah. Rumah yang terlihat sepi saat Mami masuk ke dalam ruang tamu.


Bau gosong pun sudah tercium saat Mami masuk di ruang tamu, dia sangat kaget.


"Bibi... Bibi... Kau di mana?" teriaknya.


Namun tidak ada jawaban, kemudian dia melihat ke arah dapur yang mulai menimbulkan asap.


"Apa yang terjadi?"


Kemudian dia pun berlari menuju dapur. Namun, saat melihat dapur, tabung gas yang ada di dalam dapur itu pun meledak, sehingga Mami yang memang sudah dekat dengan dapur pun terkena sembaran api itu, dia kaget.


Mami berteriak sekuat tenaga.


"Bibi... Maura... Alin," teriaknya.


Aufan dan Vena yang lagi santai di atas pun kaget saat mendengar ledakan dan teriakan Mami. Mereka menuruni anak tangga dengan cepat, saat menengok ke arah dapur, dia kaget, api di dapur sudah sangat besar antara bingung mau menolong atau mau ngapain, Aufan akhirnya hanya mematung.

__ADS_1


Sedangkan Vina sudah kacir keluar rumah tidak menghiarukan Mami, yang sudah jatuh di lantai berdekatan dengan api, yang menyambar tirai pintu dapur.


Bersambung...


__ADS_2