
Maura yang sudah berada di Mall pun tampak murung, entah apa yang Dia pikirkan, sesekali dia menatap Aman yang mengikutinya dari belakang. Kemudian berjalan kembali menuju toko baju.
"Maaf Aman, aku mau ke toilet," ucap Maura tiba-tiba.
"Baik Nona...." Aman mau mengantarnya.
"Tidak usah, kau tunggu saja di sini, nanti aku ke mari lagi ya!" titahnya.
"Baiklah, apa Nona tau toiletnya?" tanya Aman.
"Aku akan bertanya," sahutnya.
"Biar saya antar sampai depan Toilet Nona," pinta Aman.
"Nggak usah Aman, aku bisa kok, diam di situ, ini perintah!" ucap Maura tegas.
"Baik Nona," sahut Aman.
Tanpa curiga Aman pun duduk di kursi mall besar tersebut, sementara Maura berjalan sambil tersenyum, setelah berjarak beberapa meter Maura pun menoleh menatap Aman yang tampak duduk manis sambil memainkan Hpnya.
"Saatnya beraksi," ucap Maura.
Maura pun berbelok dan mencari jalan keluar dari Mall tersebut. Dengan berjalan cepat Maura pun menuju parkiran Mall dan keluar dari Area gedung tersebut.
"Syukur aku sudah keluar, sekarang aku mau ke mana?" gumamnya.
Setelah lama berpikir, Maura pun memutuskan untuk pergi ke toko bunga Ibrahim kembali. Setelah mendapatkan gojek online, dia pun berangkat menuju toko bunga Ibrahim.
"Enak saja mau menjadikanku istri simpanan, emang ku pe*lakor apa? Keterlaluan lelaki itu, seenaknya mau memperlakukan perempuan, mentang-mentang aku ini wanita satu malamnya," lirih Maura sambil sesekali memonyongkan bibirnya.
Maura sudah sampai di toko bunga Ibrahim. Ibrahim yang sedang duduk termenung di depan Toko bunga, tidak menyadari kedatangan Maura.
"Tuan Ibrahim!" sapa Maura.
"Maura? Kau datang? ayo masuk! aku akan membayar gaji mu bulan ini," ucap Ibrahim.
Walau Ibrahim tampak senang dengan kedatangan Maura, namun terlihat wajahnya ada kesedihan yang sedang tersembunyi di balik senyuman itu.
"Maaf Tuan, aku tidak ingin mengambil gaji ku tapi... Bolehkah aku bekerja pada Tuan lagi?" tanya Maura.
"Kenapa? Bukankah...."
"Apa tidak boleh lagi ya?" potong Maura.
"Oh, boleh kok, aku hanya kaget," jawab Ibrahim.
Terlihat wajah Ibrahim kini berseri, karena merasa senang, Maura kembali lagi bekerja padanya.
"Tapi bolehkah aku meminta satu syarat?" tanya Maura.
__ADS_1
"Syarat? Apakah itu?" tanya Ibrahim.
"Aku ingin tidak terlihat di sini, dengan kata lain, pekerjakan aku di belakang layar, atau hanya mengurusi bagian paketan dan rangkaian bunga di belakang," pinta Maura.
"Memang ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Ibrahim.
"Aku tidak ingin laki itu menemukanku Tuan," sahut Maura.
"Kau ini aneh Maura, bukankah dia Ayah dari bayi yang kau kandung? Tapi mengapa kau ingin menjauhinya? Apakah dia menyakitimu?" tanya Ibrahim khawatir.
"Tidak, aku tidak ingin di cap sebagai pelakor, Dia sudah beristri Tuan," ucap Maura.
"Ooh? Jadi?"
"Ya... Aku tidak ingin menyakiti istrinya, lebih baik aku yang menjauh," ucap Maura.
"Baiklah, hari ini kau istirahat saja, kau cuti dulu selama satu minggu, untuk memulihkan kondisimu ya!" titah Ibrahim.
"Baik Tuan, terima kasih banyak," ucap Maura.
Maura pun berjalan meninggalkan Ibrahim ke belakang toko untuk menemui Mira. Sementara Ibrahim terus menatap kepergian Maura, sampai Maura menghilang di balik pintu. Ibrahim tampak tersenyum bahagia.
"Ya Allah, apakah Dia jodohku?" lirih hati Ibrahim.
Dia kembali duduk dan menatap layar ponselnya, tentu saja di sana ada foto Maura yang dia curi saat Maura sedang merapikan bunga mawar di toko tersebut.
***
Telepon Vena berdering. Namun Vena tampak tak bermaksud untuk mengangkat teleponnya. Dia menutuli telinganya dengan bantal. Hatinya terlanjur sakit, karena di tinggal Aufan balik ke Indonesia tanpa alasan yang jelas.
"Kau sungguh jahat Aufan, mati saja kau! Biar aku menjadi janda kaya," gerutunya di dalam bantal.
Telepon itu terus berbunyi dan tak mau berhenti. Maura semakin kesal, namun akhirnya Dia mengambil Hp-nya dan...
"Nomor siapa ini? Kok nomor baru?"
Vena pun bangun dan berjalan ke washtafel untuk berkumur-kumur, mungkin ada liur basi yang mengganggunyaπ.
"π·ππππ... ππππππ πππππ πππ?" ππππ’π π πππ.
"π°ππ πππππ π’πππ ππ πππππ ππππ π°ππππ πππππ πππππππππ π°πππ π½πππ? ππππππππ πππ πππ ππ πππππ πππππ, πππ ππππ ππππππππ π½πππ πππππ-πππππ ππππ πππ," ππππ ππππππ πππ.
"π°ππ πππππ bππππππππ πππππ πππππ-πππππ, πππ πππππ-πππππ ππππ πππππππ."
πΊπππ
Vena memutuskan telepon. Kemudian dia kembali menarik selimutnya, dia semakin kesal ketika Aufan mengirim seseorang untuk menemaninya jalan-jalan di Jepang.
"Dasar suami Luknuk, tidak tahu diri. Awas saja kalau nanti kau sakit-sakitan, kau akan tahu akibatnya, aku juga akan meninggalkanmu, dan mengambil semua hartamu!" Gerutu Vena sangat kesal.
__ADS_1
Ternyata hati Vena sangat busuk. Namun... kembali telepon Vena berdering.
"Apaan sih? berisik banget!" kwtusnya lagi.
Dia pun berdiri dan berjalan memasuki kamar mandi, dia tidak menghiraukan telpon yang berbunyi berulang-ulang. Vena melepaskan semua lakai*annya dan berendam di bathub sambil memejamkan matanya.
Hatinya sangat kesal, dia pun teringat malam pengantinnya, yang telah tergadai karena Aufan juga meninggalkannya malam itu.
"Apakah wanita yang bernama Maura itu, yang telah mengambil kebersamaan indah ku denganmu Aufan?" lirihnya wanita licik itu.
Dia bahkan bisa menebak apa yang belum dia ketahui, hanya dengan mendengar Aufan pernah memanggil nama Maura.
Telepon di luar terus berdering dan akhirnya, Vena lun menyelesaikan mandinya dan mengangkat telepon.
"Hello... siapa lagi ini, aku lagi sibuk sekarang," ketusnya tanpa membaca nama penelepon.
"Kau pulang sekarang ya, Aufan kritis, dia di tusuk saat di perusahaan tadi siang," ucap Mami Aufan.
"Apa? Di tusuk? Aufan? Oke... aku akan segera kembali," sahut Vena gugup dan terkejut.
Namun seaaat kemudian, dia tersenyum.
"Hemmm, ini pasti balasan untukmu, karena kau telah meninggalkanku di sini, tapi berarti benar dong, kalau dia sedang ada pertemuan penting dengan kliennya?" gumamnya lagi.
Dia merasa sedikit iba, kemudian Vena mengambil baju dan berganti pakaian. kemudian dia membukakan pintu kamar.
"Apa Anda sudah siap untuk jalan-jalan?" tanya orang suruhn Aufan.
"Tidak, kita akan segera kembali ke Indonesia."
"Ada apa Nona? Kenapa kembali? saya disuruh Tuhan Aufan untuk menemani Anda jalan-jalan selama liburan," ucapnya.
"Apa kau tidak tahu? Aufan sekarang sedang sekaratsi Rumah sakit. mungkin saja Dia besok akan mati, itu akibatnya kalau berani meninggalkan aku sendirian di sini."
"Astagfirullah, Benarkah? Mari kita kembali Nona!" ajak lelaki itu.
Akhirnya setelah menggemasi semua baju-baju bersama lelaki itu, mereka pun kembali ke Indonesia .
Jakarta tempat jam 22.00 malam.
Vena sudah berada di Indonesia. Dia pun meluncur menuju rumah sakit dan menemui Aufan yang sedang terbaring lemah.
"Sayang... Aufan, apa yang terjadi? jangan pergi Sayang, jangan pergi Sayang, hiks hiks hiks... Aku sungguh mencintaimu, aku tidak mau kau tinggalkan," ucapnya sambil menangis dan memeluk Aufan.
Mami Aufan yang melihat pun merasa Iba. kemudian membelai kepala Vena.
"Sabar Sayang," ucap mertuanya.
Vena pun tersenyum sambil membenamkan wajahnya di tubuh Aufan.
__ADS_1
"Awas saja kalau kau mati, biar aku yang akan mengambil warisan mu," lirih hatinya.
Bersambung...