Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Operasi Cesar


__ADS_3

Tepat jam 00 dini hari.


"Uwek... uwek...uwek...."


Dua bayi lelaki telah lahir ke dunia dengan cara operasi caesar. Sementara Maura masih terlihat lemas di atas pembaringannya dan para dokter pun masih menjahit luka bekas operasi di perut Maura, terlihat keringat dingin membasahi wajah Maura, dia juga menggigil seperti kedinginan.


"Ya Allah ..., ternyata seperti Inikah rasanya melahirkan?" gumam Maura, sambil terus berdzikir di dalam hatinya.


Sementara di luar ruangan, Pak Irlangga dan Alin masih menunggu dengan harap-harap cemas.


"Tuan, apakah Tuan ingin minum? biar aku belikan keluar sebentar," ucap Alin.


"Baiklah, aku ingin minuman yang dingin ya, sekalian cemilan juga, ini uangnya," ucap Irlangga.


Kemudian Alin pun pergi meninggalkan ruang operasi, tak berapa lama, 2 cucu Pak Irlangga pun dibawa oleh dua perawat, keluar dari ruangan operasi tersebut.


"Tuan," sapa perawat.


"Oh ..., ini cucuku?" Pak Irlangga pun langsung berdiri dan menyambut kedua cucunya dengan perasaan takjub. Tetesan air mata lolos begitu saja dari ke dua bola matanya.


"Kami akan membawanya ke ruang bayi dulu , Tuan."


"Tunggu! Aku ingin mengazankan nya dahulu, boleh kan?" ucap Pak Irlangga.


"Baik Tuan, silahkan."

__ADS_1


Dua bayi itu pun di azan kan oleh Pak Irlangga bergantian, setelah selesai, Pak Irlangga kembali menyerahkan bayi itu kepada ke dua suster itu.


"Ya Allah ..., betapa bahagianya aku hari ini, aku mendapatkan dua cucu yang sangat tampan. Aku berharap mereka akan menjadi anak yang sholeh kelak, aamiin," ucapnya.


Pak Irlangga pun kemudian mengejar kedua Suster itu, mau ngapain lagi dia?


"Suster, Maaf... aku ingin bicara sebentar," ucap Pak Irlangga, saat perawat sudah di tengah perjalanan menuju ruang Bayi.


"Iya Tuan, Ada apa?" tanya mereka.


"Bolehkah aku meminta rambut mereka? Soalnya aku ingin tes DNA diam-diam, maaf bisakah kalian merahasiakan ini?" tanya pak Irlangga.


"Boleh Tuan, karena kau adalah kakeknya, silahkan," ucap suster.


Kemudian Pak Irlangga pun meminjam gunting kepada Suster itu, dan mengambil beberapa rambut cucunya tersebut.


"Iya Tuan, Tuan bisa mempercayai kami," sahutnya.


Pak Irlangga pun menyerahkan gunting kembali pada suster. Pa Irlangga mengeluarkan uang kertas berwarna merah 2 lembar, namun Suster itu menolak, namun Pak Irlangga mendesak, hingga akhirnya mereka pun mau.


"Terima kasih banyak Tuan," ucap mereka.


Pa Irlangga menyimpan rambut itu dengan masukannya ke dalam kantong celanya.


Dia pun kembali ke depan ruangan operasi. Tak berapa lama, Alin pun datang, dengan membawa minuman.

__ADS_1


"Ini Tuan, makanan dan cemilannya," ucapnya


"Terima kasih Alin."


Pak Irlangga segera meneguk minuman itu, karena merasa sangat haus, karena sudah satu jam mereka menunggu Maura Operasi.


!Tuan, kenapa wajah Tuhan terlihat tegang? apakah terjadi sesuatu dengan Nona muda?" tanya Alin.


"Maura baik-baik saja, begitu juga kedua cucuku, mereka sudah dibawa keluar untuk dibawa ke ruang bayi, tapi aku masih menunggu kabar Maura, yang masih menyelesaikan penutupan bekas operasinya." ucap Pak Irlangga.


"Nih ..., dimakan dulu, biar Tuan tidak tegang."


Akhirnya Pa Irlangga memakan cemilan dan menghabiskan minumannya.


Setelah beberapa waktu, akhirnya Maura pun tampak di dorong keluar dari ruangan operasi. Dibawa ke ruangan Vip yang di pesan Pa Irlangga.


Pa Irlangga sangat senang dengan suasana hari ini, Maura tampak sehat walau baru operasi, jadwal minum dan makan pun sudah di beri suster. Alin lah yang akan membantu Maura melakukan jadwal makan dan minumnya dari dokter.


"Maura Sayang, ala sakit?" tanya Pa Irlangga layaknya menanyai anaknya sendiri.


"Tidak Pa, masih ada reaksi obat, jadi belum terasa," ucapnya.


"Hello mami..."


2 bayi lucu itu di bawa menemui Maura. Maura lun tersenyum lebar, dan,terus menciumi dua bayi kembar itu.

__ADS_1


"Terima kasih ya Allah," gumamnya.


Bersambung...


__ADS_2