Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Harapan Aufan


__ADS_3

Ibrahim tidak berani mempertanyakan perihal pesanan bunga dari Aufan. Setelah selesai minum es kelapa muda, Ibrahim pun pamit pada Aufan.


"Baiklah Tuan, saya duluan dulu ya! nanti saya kabari berapa harga yang harus Anda transfer ke rekening saya," ucap Ibrahim sopan..


"Baiklah, Tuan Ibrahim, sebelumnya, terima kasih banyak," ucap Aufan kembali.


Ibrahim pun pergi meninggalkan warung tersebut.


"Paman, aku akan mengirimkan bunga setiap hari kepada Maura, mungkin saja hatinya akan terbuka untuk menerimaku kembali," ucap Aufan pada pamannya, Dito.


"Bagus juga usahamu itu, mungkin saja nanti dia akan tergetar untuk menerimamu lagi," ucap Aufan.


Kemudian mereka pun menghabiskan es kelapa mudanya, dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Sementara di toko bunga Ibrahim, Ibrahim terduduk dan tersandar di kursi santainya. Entah mengapa wajah Maura kini menari-nari di kepalanya.


"Oh tidak bisa seperti ini, aku tidak boleh membayangkan Maura, karena dia sekarang sudah menjadi istri Aufan," batin Ibrahim.


Semakin keras dia ingin melupakan Maura, namun bayangan itu semakin nampak di pelupuk matanya.


"Tuan Ibrahim, hari ini kami sudah menyelesaikan semua barang kiriman. Apakah masih ada yang perlu kami kerjakan?" tanya Mira.


"Oh iya, Mira tunggu! tadi aku bertemu dengan Maura, dia sudah melahirkan anak kembar," ucap Ibrahim.


"Benarkah? Alhamdulillah, di mana Tuan bertemu dengan Maura? tanya Mira.


" Di panti asuhan, di tempat aku menjadi donatur tetap di sana, katanya Maura juga dulu pernah tinggal di sana," ucap Ibrahim.


"Syukurlah, Berarti Tuan tahu tempat sekarang Maura tinggal. Kira-kira Boleh nggak aku berkunjung, Aku sangat merindukannya, pasti anaknya sangat imut seperti wajah Maura dan juga Aufan 'kan?" tanya Mira.


"Sangat tampan, dan anaknya kembar," ucap Ibrahim.


"Waaaaw. Boleh saya berkunjung? Makin gemes saya dengarnya Tuan, saya pengen berkunjung secepatnya," ucap Mira.


"Tentu saja boleh, nanti kapan-kapan kita akan ke sana bersama, dia melahirkan anak kembar, dua-duanya laki-laki yang sama tampan," ucap Ibrahima lagi.


"Pasti anaknya sangat tampan, saya ingin menjenguknya Tuan," ucap Mira.

__ADS_1


"Oh iya, besok pagi tolong antarkan paket bunga ke sebuah hotel, Nanti aku kirim alamatnya ke hp-mu ya!" titah Ibrahim.


"Siap Tuan," Mira pun beranjak pergi ke belakang. Ketika Inrahim kembali berbicara.


"Tapi paket bunga ini dari Aufan, memang aneh, mengapa dia mengirimkan bunga seindah itu ke sebuah hotel?" heran Ibrahim.


"Maksud Tuan? Tuan Aufan mengirimkan bunga ke sebuah hotel? Bukan ke tempat Maura sekarang di panti?" tanya Mira.


"Benar. Tadi aku ketemu dengan Aufan, dia ingin kita merangkaikan bunga yang sangat cantik, dan mengirimkanya ke sebuah hotel besok pagi," ucap Ibrahim.


"Keterlaluan Aufan, apa mungkin Aufan selingkuh?" tanya Mira.


"Entahlah, aku juga tidak tahu, tapi sudahlah, yang penting kita akan mengirimkannya besok, tolong rangkaikan yang sangat indah."


"Siap Tuan."


Ibrahim pun pergi meninggalkan toko tersebut, menuju rumahnya, rumah Ibrahim adalah rumah yang sangat mewah dan juga besar, dia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ibunya yang hanya terduduk di kursi roda. Sudah berapa tahun ini ibunya sakit. Ibrahim sangat perhatian kepada ibunya. Kalau ada waktu dia pasti akan menemani ibunya untuk jalan-jalan di halaman rumah.


***


"Maura, Kenapa kau ingin diam di sini?" tanya Pa Irlangga.


"Di sini aku pasti merasa nyaman, aku sudah akrab dengan mereka, mereka semua bagai adik-adikku sendiri Pah," ucap Maura.


"Baiklah, semua Panti Asuhan ini akan aku renovasi, termasuk gerbang dan juga halaman bermain ini, dan aku juga akan meletakkan satu satpam di depan agar tidak ada orang bisa sembarang masuk" ucap pa Irlangga.


"Terima kasih banyak Pah, semoga Papa selalu direncanakan rezekinya, Oh ya pah, bagaimana kabar mami? Apakah dia sudah sembuh dari sakitnya? kemarin katanya Wajah Mami terbakar kan?- tanya Maura.


"Ya, syukurlah, sekarang dia sudah sembuh total, cuma ada sedikit bekas luka bakar di wajahnya, namun mungkin bulan depan kami akan ke Luar Negeri untuk operasi wajah yang sedikit meninggalkan bekas itu," ucap Irlangga.


"Pah, aku terima kasih banyak loh sama Papa, Papa sangat baik padaku, walaupun sebenarnya aku sudah menolak anak Papa, namun sama sekali Papa tidak merasa benci padaku," ucap Mura.


"Maura, Aku hanya ingin cucuku sehat, aku juga sangat menyesal Aufan telah melakukan kejahatan kepadamu di masa lalunya."


"Iya Pah, aku juga minta maaf, karena aku belum bisa untuk menerima Aufan dan entahlah, mungkin sampai kapan aku tidak tahu."


"Maura, yang penting kau sehat tanpa beban likiran. Baiklah Maura, mungkin satu minggu lagi rumah kalian akan siap. Aku ingin cucu-cucuku merasa nyaman tinggal di sini, kalau ibunya bahagia, cucu-cucuku pun jadi sehat kan?" ucap Pak Irlangga.

__ADS_1


"Terima kasih Pah, kalau begitu, aku pulang dulu ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Akhirnya Pak Irlangga pun pergi meninggalkan kediaman Maura, menuju rumahnya sendiri, karena Pak Irlangga tidak mau ada yang tahu, sehingga setiap kali pak Irlangga ke panti asuhan menemui Maura dan cucunya, Pak Irlangga dari kantor dan menggunakan taksi lewat belakang kantor, agar tidak seorang pun tahu bahwa Pak Irlangga sedang pergi ke mana.


Sementara di rumah besar, tepatnya di kamarnya Mami, tampak dia sedang penerima telepon dari Pa Agung.


"Ani, sekarang aku memerlukan uang 10 juta, untuk keperluan anak sekolah," ucap Agung di dalam telepon.


"Bukankah kemarin aku baru memberimu uang 5 juta? Bagaimana mungkin aku harus memberimu lagi uang sebanyak itu?" ucap Mami.


"Aku tidak peduli, yang penting kau harus memberikan uang sebanyak itu, kalau kau tidak ingin rahasiamu bongkar," ucap Agung.


"Kenapa kau terus memeras ku Agung! Bukankah aku juga sudah memberi pekerjaan padamu?" ucapnya.


"Pekerjaan? hanya sebagai sopir Kau sebut pekerjaan? pekerjaan macam Apa itu? gajinya pun tidak sesuai," ucap Agung.


"Agung, kai harus rajin, kau harus memperlihatkan kesungguh-sungguhan dan ketekunan mu, kalau Irlangga sudah merasa nyaman denganmu, dia pasti akan menaikkan jabatan mu, Agung!" ucap Mami lagi.


"Benarkah? tapi aku tidak perlu proses yang lama, aku perlu proses cepat Ani!" ucap Irlangga lagi.


"Agung, aku mohon, kau harus bersabar sementara ini, " ucap Mami lagi.


Tanpa mereka sadari, dari balik pintu, ternyata pak Irlangga sudah berdiri di depan pintu dan menguping semua pembicaraan Anikl dengan Agung.


Irlangga hanya takjub dan terdiam. Karena Dia belum mengerti apa yang sedang dibicarakan mereka, namun saat ini karena Irlangga sudah mencurigai ada sesuatu rahasia antara Ani dan Agung.


Bersambung...


Yuk mampir di karya temena ku nih, pasti seru!


Judul : Aku yang Kaubuang


Napen : Ayuza


__ADS_1


__ADS_2