Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Sekamar namun Musuhan


__ADS_3

Aufan sudah berada di rumah sakit. Vena dan Pak Irlangga tampak mondar-mandir di depan ruangan IGD itu, menunggu kesadaran Aufan kembali.


"Pah... sebaiknya Papa pulang saja, biar aku yang menemani Aufan," ucap Vena.


Mungkin Vena takut ada sesuatu rahasia yang akan diungkapkan oleh perawat, tentang kesehatan Aufan.


"Tidak Ven, dia adalah anakku satu-satunya, aku takut akan terjadi sesuatu padanya," ucap Irlangga.


"Tidak apa-apa Pa, nanti akan aku kabari kalau terjadi sesuatu padanya, papa perlu istirahat. Lagian Papa harus menghandle perusahaan, karena selama ini Aufan tampak sakit-sakitan" ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa, setidaknya, aku akan menunggunya di sini sampai dia siuman, kalau aku pulang sekarang, aku akan sangat khawatir padanya," tambah Irlangga.


"Baiklah Pa, kalau begitu... Papa bisa istirahat di kursi depan, biar aku yang akan menjaga Aifan di dalam sini, sampai nanti kita mendapatkan kamar, karena semua kamar di sini penuh Pak, VIP pun juga penuh, jadi walau pun uang kita banyak, namun tidak bisa memaksa mereka untuk memberikan kamar pada kita," ucap Vena.


"Baiklah, aku akan menunggu di depan saja," ucap Irlangga.


Dia pun akhirnya meninggalkan ruangan IGD tersebut.


"Fan... jangan sampai kau kembali normal. Aku tidak ingin kau mengingat semua tentang Maura, kalau sampai kau bangun dan kau tahu kalau yang sedang hamil itu memang mengandung anakmu, bisa-bisa kau meninggalkan aku," ucapnya.


Vena kemudian duduk di samping Aufan, dia juga sudah menyiapkan obat yang biasa dia berikan pada Aufan, membawanya dari rumah.


Tak terasa, karena sangat mengantuk akhirnya Ven pun tertidur lelap, sementara Aufan tampak mulai menggerakkan tangannya, dan mulutnya pun kumat kamit memanggil nama Maura.


"Maura... kau kah itu? Maura," lirihnya pelan.


Tangannya juga menggapai-gapai ke depan, seakan dia melambai ke arah seseorang yang dipanggilnya, dalam tidurnya itu, saat itu.


Irlangga masuk, dan melihat kejadian tersebut. Sia pin mendekat.


"Aufan... kau sudah bangun? Ah teryata cuma mangigau, kau ini begitu aneh Aufan, dalam tidur kau selalu memanggil Maura, namun ketika kau terbangun, kau tidak mengenalinya. Bahkan kamu melupakannya. kau juga tidak ingat kapan kau berhubungan dengannya, ini sangat aneh," ucap Irlangga.


Sedang Aufn terus menggapai-gapai seakan melambai ke arah seseorang.


"Aufan... Hei! cepat bangun! kau kenapa Aifan?" panggil Irlangga sambil terus menggoyang-goyangkan badan Aufan.


Vena yang mendengar keributan pun terbangun.

__ADS_1


"Ada apa Pah?" tanya Vena.


"Itu, lihat! Dia terus memanggil-manggil nama Maura, tanpa berhenti," ucap Pak Irlangga.


Vena pun berdiri dan menggoyang-goyangkan tubuh Aufan.


"Aufan!" panggil Vena lagi.


Akhirnya... perlahan Aufan pun membuka matanya, dan menatap Vena.


"Vena," lirihnya.


Aufan seperti orang linglung saat melihat wajah istrinya itu berada di depan wajahnya.


"Kau sudah sadar? Apakah ada yang sakit?" tanya Vena.


"Tidak, aku hanya merasa pusing, tapi kok aneh ya, aku terus bermimpi wanita yang bernama Maura, yang sedang hamil besar. Aku juga memanggil-manggilnya, namun dia tidak memperdulikanku, Bahkan dia pergi dengan seseorang yang menjemputnya, di seberang sungai," ucap Aufan.


"Itu hanya mimpi Fan, sebaiknya kamu minum dulu obatmu," ucap Vena.


Vena pun menjauh dan membuka semua obat yang dia bawa dari rumah, kemudian menyerahkannya pada Aufan, setelah itu Vena pun keluar dari ruangan tersebut.


"Vena, Kau mau ke mana?" tanya sang mertua.


"Aku mau keluar sebentar pa, mau ke kantin. mungkin saja masih buka, aku merasa haus dan lapar," ucap Vena.


Vena pun pergi meninggalkan ruangan itu, padahal dia hanya ingin membuang bungkus obat yang ada di dalam tasnya, karena dia takut nanti setelah Aufan diperiksa, mungkin saja perawat menanyakan obat yang sekarang dikonsumsi Aufan.


Sementara di kamar, di ruang IGD Pak Irlangga tampak duduk di sisi Aufan.


"Fan, Sebenarnya kamu ini kenapa sih? obat sudah dibelikan yang mahal-mahal, tapi ingatanmu belum juga normal, seperti dahulu. Apa benar kamu benar benar melupakan Maura? Tapi saat kau tidur, kau bahkan mencari-carinya, dan bahkan setiap mimpimu itu, kau selalu bertemu dengan Maura," ucap Pak Irlangga.


"Aku juga tidak tahu Pak, aku juga bingung, ketika aku terbangun, aku benar-benar tidak bisa mengingat siapa itu Maura? namun saat aku tertidur, aku pasti selalu memimpikannya," ucapnya.


"Baiklah, kalau begitu, kau tidur saja dulu, aku mau pulang dulu, nanti biar Vena yang menemanimu di sini, karena kau sudah bangun, besok ada meeting perusahaan. Meetingnya sangat besar, jadi aku tidak bisa begadang,"


Pak Irlangga pun akhirnya pergi meninggalkan umah Sakit tersebut.

__ADS_1


***


Seminggu sudah berlalu, kini saatnya Maura dapat giliran untuk tidur bersama Aufan. Di kamarnya, perasaan Maura tidak karuan, dia bahkan merasakan perasaan yang sangat aneh, dadanya pun dag dig dug dor, padahal sebelumnya kan dia sering melakukan hubungan itu dengan Aufan, tapi kali ini dia benar-benar merasa panik dan nervous.


Akhirnya Maura pun memutuskan ke dalur untuk mengamnil minum.


"Maura! Kenapa kau masih di sini?" tanya Pak Irlangga.


Saat ini Pak Irlangga juga ke dapur mengambil air minum.


"Pah.. aku hanya merasa lapar Pah, jadi aku mencoba untuk mencari cemilan," ucap Maura.


Padahal Maura sedang berbohong, karena sekarang di kamar sudah ada Aufan yang menunggunya.


"Oh baiklah, cepatlah, Aufan ada di kamarmu kan?"tanya Pak Irlangga.


"Iya Pah, dia sudah dari tadi di kamar, mungkin sekarang dia sudah tidur," ucap Maura.


Akhirnya Maura pun mengambil cemilan yang ada di kulkas, dan kembali ke kamarnya, saat Maura ke kamarnya, dia pun Mengunci pintu dan perlahan berjalan menuju ranjang, yang di sana sudah terlihat Aufan berbaring dengan telentang, saat Maura duduk di sisi ranjang dan memutuskan untuk berbaring di sisi Aufan. Aufan pun langsung bangun dan duduk.


"Kenapa kau kemari?" Ketus Aufan pada Maura.


"Emangnya kenapa?" tanya Maura tidak mengerti.


"Aku tidur di kamar ini, bukan berarti aku tidur seranjang denganmu, sana kau tidur di bawah!"


Aufan pun melempar bantal ke lantai, mengusir Maura dari Ranjang tersebut. Maura pun berdiri, hatinya sangat sakit, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Kemudian Maura memungut bantal itu, dan berbaring di atas hamparan hambal yang ada di kamar tersebut. Maura pun membelakangi ranjang, sementara Aufan tampak menatap pundak Maura dan Tersenyum puas.


"Rasain lo wanita penggoda, hanya karena kau ingin mendapatkan hartaku, kau tega mengaku-ngaku sebagai wanita yang telah mengandung anakku," ucap Aufan.


Aufan pun berbalik membelakangi Maura, dan tertidur pulas. Sementara Maura, dia menangis dalam diam. Air matanya bercucuran, hatinya sangat sakit dan sedih.


"Aufan... Kenapa kamu melupakanku? kau bahkan mengejar-ngejar ku dan mencari ku ke ujung dunia sekalipun saat itu, namun kini setelah aku menjadi istrimu, kau bahkan ingin membuang dan mencampakkan ku, begitu saja, kalau bukan Papa, mungkin aku tidak mungkin berada di rumah ini," lirih Maura.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2