Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Curiga


__ADS_3

Akhirnya Irlangga memilih untuk mengirimkan mata-mata dan melakukan pergerakan di setiap kegiatan Agung.


Sementara di rumah Irlangga, ia juga mendekati bibi dan memberitahukan perihal kecurigaannya kepada Mami, tentang masa lalu mereka. Pa Irlangga mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya, dia pun dengan tergesa-gesek pergi meninggalkan rumahnya menuju perkantoran mewah miliknya.


Sementara dia menyetir sendiri untuk menghindari Agung agar Agung bisa bebas berada di dalam rumah.


Setelah dia mendengar pembicaraan istrinya, dia yakin, bahwa Agung dan Mami bukan taman biasa di masa lalu.


"Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan tadi? Istriku bilang, kalau Agung seperti memerasnya, apakah ada rahasia di antara mereka?" tanya Irlangga.


Dia pun mengambil teleponnya, dan memghubungi seseorang kembali.


"Hello aku ingin kau mengikuti ke mana pun Agung Pergi! Aku ingin kau memberikan kabar kepadaku, aku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh istriku itu," ucapnya.


"Baik Tuan Bos, aku akan melaksanakannya."


***


Pagi yang cerah, Mira pun akhirnya mengantarkan bunga ke sebuah hotel yang sudah disebutkan oleh Aufan, dia pun mendatangi resepsionis untuk bertanya.


"Tuan, aku ingin mengantarkan bunga ini ke lantai 3, ke nomor kamar 207," ucap Mira.


"Maaf Nona, kamar nomor itu sudah kosong, sejak kemarin, sebenarnya bunga itu untuk siapa?" tanya resepsionis.


"Aku lupa bertanya, tapi bunga ini dikirim dari seseorang untuk seseorang yang spesial."

__ADS_1


"Maaf Nona, tapi benar kamar itu sudah kosong, sejak kemarin, penghuninya sudah pindah ke tempat lain," ucapnya lagi.


"Baiklah, terima kasih banyak," sahutnya.


Kemudian Mira pun berjalan meninggalkan resepsionis, dan mengambil teleponnya.


"Tuan Ibrahim, maaf, nomor kamar 207 itu sudah kosong Tuan, tidak ada siapa-siapa di sana," ucap Mira.


"Benarkah? Baiklah, kau tunggu di sana! Aku akan menghubungi Aufan dulu."


Ibrahim pun kemudian menutup telepon. Kemudian Ibrahim di tokonya tampak menghubungi Aufan.


"Hello..., Tuan Aifan, maaf, nomor tujuan pengiriman bunga itu kosong Tuan, alias Orangnya sudah pindah. Emangnya Tuan mau mengirimkan bunga itu kepada siapa?" tanya Ibrahim.


Karena penasaran. Akhirnya dia pun beranikan diri untuk bertanya.


"Maura? jadi maksud Anda Maura ada di hotel itu?" heran Ibrahim.


Karena setahunya, sekarang Maura sudah tinggal di Panti Asuhan.


"Iya, aku ingin mengirimkan bunga itu kepada Maura, yang ada di hotel itu," ucap Aufan.


"Yapi Maura sudah tidak ada di sana Tuan! Tuan bisa datangi sendiri ke mari, kalau Hotel itu sekarang kosong," ucap Ibrahim.


"Apakah punya nomor Maura?" tanya Aufan.

__ADS_1


Ibrahim bingung. Bukankah Aufan itu suaminya Maura? Tapi mengapa dia tidak memiliki nomor Maura.


"Oh maaf, kan kemarin aku lupa mensave jadi semua pesan masuk sudah aku hapus," bohong Ibrahim.


Sekarang Ibrahim mengerti, kalau sebenarnya Aufan dan Maura tidak sedang baik-baik saja, ada harapan yang kemudian hadir di hati Ibrahim.


"Baiklah, kalau begitu, berikan saja bunga itu depan hotel tersebut, dan uang pembayaran sudah ku lunasi di rekening mu ya!" ucap Aufan.


"Baik Tuan, Terima kasih banyak."


Aufan pun menutup telepon tersebut.


"Berarti Maura dan Aufan sekarang sedang bertengkar, atau mungkin Maura sekarang sedang melarikan diri, dan bersembunyi di Panti Asuhan itu," batin Ibrahim.


Kemudian dia pun tersenyum dan kembali menelpon Mira.


"Mira! kau tunggu di sana! Aku akan segera ke sana! kita akan menemui Maura, hari ini juga," ucap Ibrahim bersemangat.


Bersambung...


Yuk mampir di karya temen nih. pasti seru


Judul : Ternyata dia jodohku


Napen : Sofa Marwa

__ADS_1



__ADS_2