Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Aufan Bertemu Maura dan si Kembar


__ADS_3

Saatnya Aufan dan Maura dipertemukan di sebuah restoran yang sudah dijanjikan oleh Maura. Aufan sangat senang karena dia akan bertemu dengan istri dan anak kembarnya.


"Papa bener 'kan? mau mempertemukan aku dengan Maura? Papa akan membawaku bertemu dengan ke dua anak kembar ku 'kan?" tanya Aufan terlihat sangat girang saat mereka berada di dalam mobil menuju restauran yang di janjikan Maura.


"Iya, aku akan mempertemukan mu dengan Maura dan anak kembar mu," sahut sang Papa.


"Berarti selama ini Papa tahu, kalau dan papa sering bertemu dengan mereka? Kenapa Papa merahasiakannya dariku?" tanya Aufan terdengar kesal.


"Karena aku tidak percaya denganmu. Lihatlah kelakuanmu selama sebulan ini, kau terus saja memakai jasa wanita-wanita malam itu, apa kau tidak takut terkena penyakit?- tanya Pak Irlangga.


"Papa, aku ini stress terus memikirkan Maura. Kenapa Papa tidak pernah mempertemukan ku?" tanya Aufan.


"Aku sedang memperingatkan mu, kau itu harus memperbaiki akhlak mu, adab mu, agar Tuhan mendengar do'amu, tapi kau malah bercebur ke jurang yang sangat dalam," ucap Irlangga.


"Seandainya Papa dari awal mengatakan dan mempertemukan aku dengan Maura, tentu saja aku tidak akan seperti ini Pah," sahut Aufan tidak mau di salahkan.


"Belum tentu, karena itu sudah sifat dan tabiatmu," sahut Irlangga.


Tak berapa lama, akhirnya mereka pun sudah sampai di sebuah restoran, terlihat dua baby sitter dan juga Maura dan Alin ada di sana, bersama dua bayi kembar yang sangat lucu, dan tampan.


Aufan pun segera turun dari mobil, dan melompat mengejar dan mendekati mereka. Sepertinya Aufan sangat tidak sabar untuk bertemu Maura dan ke dua bayi Kembarnya.


Aufan pun berlari kecil dan sampailah dia ke hadapan Maura, dia berdiri dan menetap wajah Maura yang sangat cantik, dengan kerudung yang sangat besar, bahkan kakinya pun kini telah dipasang kaos kaki yang terlihat hanya tangan dan wajahnya saja.


Maura hanya menunduk, tidak menatap sedikitpun wajah Aufan.


"Maura ..., Kenapa kau seperti itu?" tanya Aufan.


"Sebaiknya kita duduk dulu!" ajak Maura.


Restoran Itu tampak sunyi, tak satupun ada orang di sana karena Pak Irlangga telah membooking satu restoran itu untuk mereka makan hari ini.


Aufan pun mendekati si kembar dan mencium kedua buah hatinya itu.


"Kalian tampan sekali, kalian sangat tampan seperti Papa kalian ini," ucap Aufan.


"Tuan, Aku ingin berbicara denganmu empat mata," ucap Maura.


Kemudian Maura berjalan ke pojokan dan duduk di sebuah kursi. Aufan pun mengiringinya.


"Sebelumnya, aku minta maaf, mungkin aku pernah menyakiti hati Tuan, tetapi aku sama sekali tidak pernah menginginkan hal itu."


"Maura. Mengapa kau berkata seperti itu? seakan ingin menjauh saja. Kau jangan pergi-pergi lagi dariku," ucap Aufan.


"Tuan, apakah kau ingin terus bertemu dengan anak-anakmu?" tanya Maura.


"Tentu saja aku ingin, mereka sangat tampan dan lucu, persis seperti papahnya 'kan?" puji Aufan.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kau ingin masih bertemu dengan mereka, aku ingin kau menceraikan ku hari ini juga."


Bagai petir di siang bolong, Aufan kaget, dan sungguh tidak percaya, Maura yabg mau bertemu dengannya hanya untuk meminta berpisah darinya.


"Maura! apa yang kau katakan? Mengapa kau katakan hal buruk itu? tidak! aku tidak akan pernah melepaskan mu!" ucap Aufan ketus.


"Kalau begitu. Kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan anak-anakmu lagi!" ucap Maura.


"Kenapa kau membatasi ku? Mereka itu anak-anakku," ucapnya.


"Karena aku ingin kau menceraikan ku, setelah itu, barulah kau bisa bertemu dengan mereka, "ucapnya.


"Kenapa kamu melakukan ini Maura?"


"Karena kau tidak pernah bisa berubah! Aufan."


"Apa maksudnya? Apa maksudmu dengan aku tidak bisa berubah?"


"Aku tahu semua yang kau lakukan selama sebulan ini, kau tidur dengan mereka setiap malamnya, aku tahu itu," ucap Maura pelan dan lembut. Dia sangat mencoba menahan emosinya.


"Itu karena kau! karena kau terus menjauh dariku, Maura!"


"Tapi kau tidak pernah bisa berubah. Maaf, aku tidak bisa toleransi itu, jadi keputusanku sudah bulat, selama 1 bulan ini bukannya kau memperbaiki diri, namun kau malah melakukan hal yang lebih buruk dan bej**at dari sebelumnya.


"Maura, apa maksudmu? Kau dulu juga siapa? Kalau kau kini mendadak berubah, aku pun bisa berubah!" ketus Aufan.


"Do'a semacam Apa itu? itu pasti doa yang salah! tidak mungkin Tuhan mengijinkan kita untuk bercerai? sedang kita sudah mempunyai dua anak, Maura!"


"Aufan, cukup, semakin kau memaksa untuk kembali, aku semakin tertekan, tolong lepaskan aku," pinta Maura.


"Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskan mu!" ketus Aufan.


"Berarti kau tidak akan bisa bertemu dengan anak-anakmu lagi."


Maura berdiri dan pergi meninggalkan Aufan, namun tidak semudah itu Aufan menerimanya, dia tidak akan pernah menerima perpisahan itu. kemudian Aufan berjalan cepat dan menarik tangan Maura.


"Maura! Aku tidak akan pernah melepaskan mu, aku tidak akan pernah menceraikan mu , Maura!" bentaknya nyaring.


"Tolong lepaskan aku," ucap Maura.


Maura pun kini mulai meneteskan butiran butiran kecil di sudut matanya. Hatinya sakit saat ingat laporan Bela, bahwa dia kini telah menjadi casanova sejati.


"Tidak!"


"Aufan! Lepaskan!" bentak sang Papa, karena tidak twga melihat menantu kesayangannya itu menangis.


"Papa, aku ini anakmu, kenapa kau seperti terus membelanya?" tanya Aufan heran.

__ADS_1


"Karena dia menantu sekaligus ponakan ku, kau itu adalah kakak sepupunya Aufan! Apa kau mau terus menyakitinya, sementara dia sudah tidak bisa menerimamu lagi heh?" ketus Irlangga.


"Jadi sekarang Papa yakin, kalau dia memang anak Bu Winar?"


"Ya, Ani yang telah membuang Maura di depan panti asuhan itu bersama Agung," ucap Irlangga.


"Mami? Agung sopir Papa?"


"Ya."


Aufan kaget dan melongo. Sesaat dia tampak mati rasa, namun tiba-tiba dia berjalan cepat setengah berlari.


"Aufan ..., mau ke mana kau? Hey, jangan gegabah, mereka sudah di tangkap."


Namun Aufan tidak perduli.


***


Waktu terus berlalu. Agung dan Mami juga akhirnya di jebloskan ke penjara karena kesalahannya mereka di masa lalu.


Pagi ini, tampak Maura sudah berada di rumah barunya di dalam panti asuhan.


Hari ini, tepat 3 bulan 10 hari sejak kata talak terlontar dari mulut Aufan, karena desakan Irlangga sang Papa.


"Nona, apa kau ingin Teh?" tanya Alin.


Alin terus setia menemani Maura hingga saat ini. Maura tidak pernah kekurangan uang, perusahaan cabang telah dia handle dengan baik dan semakin maju.


"Iya, boleh."


Alin pun membuatkan teh hangat buat Nona nya.


Keseharian Maura sekarang mengurus anak dan juga rutin ke pengajian mingguan di dekat tempat tinggalnya.


"Assalamualaikum."


Ketika terdengar salam dari seseorang yang sangat Maura kenal.


"Wa alaikumsalam, Tuan Ibrahim."


Bersambung...


Terima kasih reader ku. Walau pun like nya sepi. Namun Viewnya melonjak, hingga 5800. Orang. Mungkin saja mereka nggak sempat nge like dan komennya. Namun aku ucapkan terima kasih pada kalian semua.



__ADS_1


__ADS_2