Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Menunggu yang Melelahkan


__ADS_3

Mami Aufan masih menunggu kedatangan sang pengantar bunga, namun sudah 10 menit lebih dia menunggu pengantar bunga itu pun belum datang juga. Akhirnya Mami Aufan ke dapur untuk menemui bibi.


"Apakah tadi ada pengantar bunga kemari Bi?" tanya Mami Aufan.


"Tidak ada Nyonya besar, tapi aku tidak tahu juga, karena aku sejak tadi ada di dapur," ucap bini.


"Oh... baiklah, di terima kasih, mungkin belum datang," ucap Mami Aufan.


"Tunggu Nyonya, tapi kayaknya tadi Nona Vena seperti berbicara dengan seseorang dari teras depan," ucap bibi.


"Benarkah? Baiklah, aku akan menanyakan padanya langsung. Mungkin saja dia yang sudah mengambil bunganya dari penjual bunga itu," ucap Mami Aufan.


Mami Aufan pun pergi meninggalkan dapur menuju teras. Namun dia tidak menemukan Vena. Dia juga ke atas, ke kamar Aufan, saat membuka kamar itu, yang ada hanya Aufan yang berbaring, sepertinya Aufan masih tidur.


Mama Aufan pun kembali ke bawah.


"Bi... apakah Bini ada melihat Vena?" tanya Mami Aufan lagi.


"Tidak ada Nyonya besar, sejak dia berbicara dengan seseorang tadi, aku tidak melihatnya di mana pun," ucap bibi.


"Baiklah, mungkin dia ada di sekitar rumah ini," ucap Mami.


Mami pun ke teras rumah untuk melihat di sekitar, namun dia tidak menemukan siapa pun di sana.


"Kemana wanita itu? Masa iya Vena sedang pergi pagi pagi begini?" gumam Mami.


"Mi, ada apa?"


Tiba-tiba Vena datang dari sampai ke rumah.


"Vena, aku mencari mu kemana-mana, kau dari mana?" tanya Mami.


"Aku cuma jalan-jalan Mi, ada apa mencari ku?" tanya Vena.


"Apakah kau melihat ada tukang bunga datang ke mari? Wanita yang kemarin itu lho," tanya mami.


"Emangnya Mami pesan bunga untuk apa?" tanya Vena basa basi.


"Ada deh pokoknya, kamu lihat nggak?" tanya Mami Aufan lagi.


Tidak Mi, tadi aku cuma di sini aja, tadi nggak ada yang dateng kok... udah ya Mi, aku mau mandi dulu," ucapnya.


Vena pin pergi meninggalkan halaman. Mami terus menunggu dan duduk di halaman teras.


"Sudah 30 menit kok nggak datang juga? Nggak biasanya begini," gumamnya.


Mami sangat khawatir kalau bunga tidak datang, dia masuk dan bermaksud menghubungi tukang bunga itu.


Dia memutuskan untuk menelpon, dia pun masuk ke kamar dan mengambil handphonenya.


"Hello... aku Nyonya Ani yang tadi memesan bunga, Apakah bunga sudah siap?" tanya Mami.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, kamu sudah mengantar nya ke rumah Anda tadi," ucap yang menerima telepon.


"Benarkah? tapi kok belum datang ya?" ucap Mami.


"Sudah lama kok Nyonya, sebentar... itu orang yang ngantar udah datang... mbak mira, ini yang mesan bunga hari in**i, nanya katanya bunganya udah diantar apa belum ?" tanya temen Mira.


"Sudah kok mbak, sudah aku antar, tadi seorang wanita yang menerimanya," ucap Mira.


"Benarkah? seorang wanita?" tanyanya.


"Iya Nyonya," sahut Mira.


"Apa mungkin Vena ya?" batinnya.


Kemudian Mami pun menutup telepon dia berjalan mengelilingi rumah, setelah dia merasa curiga, apa yang telah Vena lakukan di belakang rumah tadi.


Dia memindai sekeliling belakang rumah, benar saja, di bawah bunga yang rimbun, tampak bunga mawar berserakan di sana.


"Keterlaluan Vena, ternyata kau sungguh kurang ajar Vena," gumam Mami.


Kemudian dia pun menghubungi toko Ibrahim, dan kembali memesan bunga. Kali ini ada pesan, agar bunga harus Mami yang bayar langsung.


Sementara Aufan tampak duduk di sisi ranjang nya. Dia tampak mulai bugar dan sehat.


"Mas, kita jalan-jalan yuk! Samlai malam, aku capek di rumah terus, aku sangat bosen," ucap Vena.


Padahal itu hanya alasannya saja, sebenarnya Vena ingin membawa lari Aufan malam ini, karena dia tau Aufan akan di nikahkan dengan Maura.


"Baiklah... aku mau mandi dan ganti baju dulu ya," ucap Aufan.


"Mas... aku duluan ya, nanti aku tunggu di depan," ucap Vena.


"Baiklah," ucap Aufan.


Vena pun turun dan mengintip kiri kanan rumah, namun tidak ada yang keluar kamar. dia menunggu Aufan di garasi mobil. Sementara Aufan tampak berjalan santai menuruni tangga.


"Aufan kamu mau ke mana?" tanya Mami yang baru keluar dari kamarnya.


"Aku makan di luar sebentar Mi," ucap Aufan.


"Kau jangan pergi, kau tidak di izinkan pergi hari ini oleh papah mu," ucap Mami.


"Tidak diijinkan Papa? Kenapa Mi? Sebentar saja kok," ucap Aufan.


Karena Aufan sudah di kasih tau Vena, agar tidak ada yang tau tentang kepergian mereka siang ini.


"Aku juga nggak tau, kata Papamu, malam ini keluarga akan berkumpul, jadi tidak boleh pergi," ucap Mami.


"Sebentar saja Mi, ya... Makan doang," ucao Aufn lagi.


"Janji sebentar ya! nanti Papamu marah aku takut," ucap Mami.

__ADS_1


"Iya Mi, janji," sahutnya.


"Iya Mi, aku merasa bosan di rumah terus, terima kasih Mi,"


Aufan pun pergi meninggalkan rumah menuju garasi. Vena tampak tersenyum.


"Pernikahan itu tidak boleh terjadi, kau tidak boleh menikah dengan siapa pun, enak saja, mau mewariskan perusahaan pada anak Maura. Aku menunda kehamilan bukan berarti tak mau hamil, tapi aku mau menikmati kebersamaan duku," batin Vena


Audan pun sudah sampai di dalam mobil. Mereka berdua sudah duduk manis. Vena pun menghidupkan mesin.


"Sayang... apa kamu yang nyetir?" tanya Aufan.


"Iya Fan. Biar aku saja yang nyetir, kamu istirahat saja, lagian kan kamu masih sedikit sakit loh, kamu belum sembuh benar. Ayo pasang sabuk mu!" ucap Vena.


Akhirnya mereka pun meluncur meninggalkan kediaman keluarga Irlangga. Sepanjang jalan Vena tampak tersenyum puas, karena pernikahan malam ini tidak jadi dilaksanakan.


Tak Berapa lama, telepon di HP Aufan berdering. Vena sudah menebak itu. Dia kesal sendiri karena luoa menyuruh Aufsn mematikannya.


"Hello Pa! ada apa?" sahut Aufan.


"Kau di mana Fan? Kau tidak boleh pergi, malam ini ada acara keluarga, kau harus pulang, ayo pulang!" bentak sang ayah.


Ternyata Ayahnya sudah datang dari kantornya.


"Pa... aku makan sebentar di luar kok, nanti aku pulang kok," sahut Aufan.


"Nggak bisa! pokoknya sekarang kamu pulang!" ketus Irlangga.


"Sebentar doang Pah. Ya ya... sebentar ya..." rayu Aufan.


"Baiklah... satu jam dari sekarang," jawab Papanya.


"Baiklah..."


Kemudian Aufan pun menutup telepon. Dan menyimpannya kembali.


"Sayang... kita mau ke mana?" tanya Aufan.


"Sebentar, kita mampir di toko obat dulu, aku mau beli obat, karena obat sakit kepalaku sudah habis," ucap Vena.


Tak Berapa lama, Vena pun berhenti di sebuah apotek, untuk membeli obat. Sementara di rumah. Waktu terus berjalan. Sudah 30 menit berlalu dan sekarang sudah berubah menjadi satu jam, namun Aufan dan Vena belum juga datang.


Kemudian malam pun sudah menjemput, namun Vena dan Aufan masih juga belum datang, semua keluarga sudah berkumpul untuk menikahkan Maura.


"Keterlaluan Aufan, Apa yang sebenarnya dia lakukan? Apakah dia tau akan di nikahkan malam ini?" gumam Pa Irlangga kesal.


"Tidak ada yang memberitahukannya Pa," ucap Mami.


"Sudah ditelepon berulang kali namun mereka tetap tidak menjawab, bahkan sekarang HP mereka mati," ucap Papa Aufan.


Maura yang hanya melihat reaksi Papa Aufan pun merasa yakin bahwa Aufan tidak akan pernah mau menikah dengannya.

__ADS_1


"Seperti inikah menunggu?" batin Maura.


Bersambung...


__ADS_2