
"Duduklah... Maaf sebelumnya, kenapa dia sampai jatuh? ini sangat berbahaya bagi keselamatan janin yang di kandungnya,"
Dooor
"Ap... apa? Janin? Janin apa?" Bela seperti orang bego dan syok saat mendengar kata Janin. Bahkan dia sampai bergeser dari duduknya.
"Iya Nona, apakah kau tidak tau? Saat ini kami tidak bisa memperkirakan usia kehamilannya, nanti kalau Dia bangun, barulah kita tanyakan terakhir Dia haid kapan," ucap perawat.
"Baiklah Mas," ucap Bela.
"Ini resep obat, kau bisa ambil di apotik rumah sakit," ucap perawat.
Bela pun berjalan gontai menuju apotik, sambil terus melamun dan membayangkan, apa yang barus dia lakukan kalau Maura terbangun.
"Maura... apa yang harus aku katakan padamu? Kau hamil? Apa aku harus mengatakannya pada Mami?"
Bela sangat bingung dan frustasi membayangkan reaksi Maura nanti. Bela pun menebus obat dan kembali ke ruangan Maura.
"Bela! Ada apa? Kenapa murung?" tanya Mami heran.
"Anu Mi, nggak papa, aku lagi bingung aja," ucap Bela.
"Uaaaaah." Maura tampak menggeliat dan terbangun dari pingsannya.
"Maura, kau sudah bangun?" tanya Mami sambil mendekati Ranjang pasien.
"Iya Mi, di mana aku, kenapa kepalaku pusing sekali?" tanyanya sambil memijat-mijat kepalanya.
"Tadi kamu tergeletak di lantai kamar, emang apa yang terjadi? Tadi malam 'kan kamu sedang di kunjungi Aufan?" tanya Mami.
"Oooh...." Maura pun kembali teringat bagaimana malam tadi dia seperti bermimpi, hingga terbangun di pagi hari, saat Aufan menghempaskan tangannya dan dia terjatuh di lantai, merasakan perih di perutnya.
"Ooh, perutku? Kenapa perutku sakit sekali, lalu aku pendarahan, pendarahan karena apa, apa aku haid?" tanyanya bingung sendiri.
"Tidak papa, kamu baik-baik saja kok, oh ya Mi, Mami boleh pulang kok, biar aku yang menemani Maura hari ini," ucap Bela pada Mami.
"Iya, aku merasa kurang istirahat nih, aku pulang saja ya? Maura juga udah bangun, nanti kalau ada apa-apa telepon saja aku ya!" ucapnya seraya berdiri dan mencium jidat Maura.
"Iya Mi," sahut Maura seraya tersenyum.
Mami pun melangkah pergi meninggalkan kamar pasien. Sementara Bela menatap wajah sahabatnya itu, Dia pun menyusun kata-kata untuk menyampaikan kabar ini, entah Maura sudah tau namun sengaja merahasiakannya darinya, atau Maura benar-benar belum tau, dan ini yang mungkin akan menjadi delima.
"Kenapa Loe natap Gue begitu?" ucap Maura ketus.
"Ra, emang apa yang terjadi? apa kamu bertengkar sama Aufan? Kenapa sampai Loe pendarahan?" tanya Bela.
"Dia sangat marah dengan kejadian malam tadi, pas kita keluar, dan ternyata Aufan memata-matai kita, dia menuduhku tidur dengan lelaki yang kemaren duduk denganku di taman waktu nyemil makan empek-empek," ucap Maura.
"Oooh, jadi itu juga yang membuat dia sangat marah, sampai pintu aja nggak di tutup," ucap Bela.
"Pintu? Pintu apaan?" tanya Maura heran.
"Ya pintu kamar Loe lah, kalian maen pintunya nggak di tutup, emang Loe nggak tau?" tanya Bela heran.
"Mana ku tau? Dia nganu aku aja aku nggak tau, aku kecapean dan itu ku kira mimpi," ucap Maura.
__ADS_1
"Pantesan, eh tapi kenapa kamu pendarahan? Apa kamu tau?" tanya Bela menyelidiki.
"Saat aku ke kamar mandi, dia mencengkram tanganku dan menghempaskan nya kasar, hingga ku terduduk di kamar mandi," ucap Maura.
"Untung saja janin mu tidak apa-apa," ucap Bela keceplosan.
"Janin, janin apaan?" Maura kaget dooong.
"Maaf Ra, sekarang kamu sedang hamil..."
"Apa? Hamil?" kaget Maura.
"Sssssst, iya, emang kamu nggak pakai pengaman apa?" tanya Bela lagi.
"Ya Allah...."
Maura langsung lemes dan meraba perutnya yang masih rata.
"Jadi kamu juga belum tau?" tanya Bela.
"Tidak," geleng Maura pelan.
Kini wajahnya terlihat cemberut, seperti melamun dan sedih.
"Maura, lalu apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan menggugurkan kandungan mu?" tanya Bela khawatir.
"Hmmm," Maura menggeleng.
"Apakah anak ini, anak Aufan?" tanya Bela ragu.
Bela hanya bilang O dan mengangguk tanda mengerti. Bela dan Maura tampak sama-sama terdiam. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini.
"Bela!" seru Maura tiba-tiba, membuat Bela kaget.
"Ada apa? Kagetin aja," ucapnya.
"Aku mau pensiun, aku akan mencari pekerjaan, aku akan memberitahukan ini pada Aufan, kalau Dia mau bertanggung jawab mungkin itu lebih baik, namun kalau Dia menolak kehadiran bayi ini, tak masalah," ucapnya.
"Tapi apakah Dia akan percaya kalau bayi ini adalah anaknya?" Bela meragukan jawaban Aufan nanti.
"Iya, aku juga berpikir begitu, tapi sudahlah, aku akan pensiun dan akan mengatakannya terlebih dahulu, kapan aku boleh pulang?" tanya Maura.
"Mungkin kalau kesehatanmu stabil, eh tapi bagaimana kalau malam ini Aufan datang ke kafe?" tanya Bela.
"Aku harus pulang hari ini juga, biar aku bisa mengatakannya," ucap Maura lagi.
"Baiklah, apa terasa masih ada darah keluar?" tanya Bela.
"Mungkin tidak lagi, tolong urus kepulangan ku ya!" pinta Maura.
"Oke,"
Bela pun menuju ruang administrasi untuk bertanya masalah kondisi Maura. Setelah beberapa saat, ternyata Maura diperbolehkan pulang, tapi harus rawat jalan, dan menjaga janinnya dengan baik. Mura dan Bela lin pulang dengan menaiki taksi menuju kafe.
***
__ADS_1
Malam menjelang, Maura tampak berdandan sangat cantik malam ini. Wajahnya di rias dan di kasih sedikit mike up tipis, kulitnya yang mulus dan bersih membuat pesona kecantikan dalam dirinya semakin terpancar. Maura sudah siapkan seribu kata-kata yang baik untuk mengatakan kalau saat ini Dia sedang mengandung anak Aufan. Dia pun berulang kali mengubah posisi duduknya. Ketika riba tiba pintu di buka setengah kasar, Maura pun menengadah, dan menemukan sosok yang si tunggunya kini sudah datang
"Tuan," lirihnya.
"Kau sudah menungguku? Baguslah, mungkin malam ini terakhir kalinya aku datang ke sini, setelah ini, kau boleh menjadi lobang semut sesuka hatimu."
Deg
Kata kata pembuka Aufan membuat hati Maura sakit, bagaimana tidak, kata-kata yang tadi di susunnya kini sudah mulai sirna entah ke mana.
"Apa maksud Tuan?"
Maura memberanikan diri untuk bertanya, walau pun sangat takut.
"Kau layani aku dulu, layani aku sebaik mungkin malam ini, mungkin saja aku akan berubah pikiran dan merindukanmu," ucap Aufan lagi, seraya mendekati wajah Maura.
Maura hanya diam dan menantang wajah Aufan yang kini hanya berjarak 1cm di depan wajahnya. Sang casanova pun semakin berani dan mendekat, semenit kemudian, kini mereka mulai menyatu, tak ada jarak antara mereka, Maura begitu hanyut alam buaian Aufan, hingga lupa apa yang akan Dia katakan malam ini.
"Apakah kau nanti akan merindukanku jeh?"
Di sela-sela percumbuan itu, Aufan melemparkan pertanyaan itu.
"Ya," sahut Maura.
"Tapi setelah ini aku tidak akan menemui mu lagi, bagaimana?" ucap Aufan
"Entah," jawab Maura.
Aufan pun mulai berselancar di lautan asmara yang mereka ciptakan itu, hingga tangan Aufsn mulai menyusul jadi tentara mata-mata.
"Tunggu!" cap Maura.
"Kenapa?" tanya Aufan.
"Aku lagi berhalangan," ucap Maura.
"Ish, kotor," ucap Aufan spontan, dan menjauhkan diri dari Maura.
"Maaf," ucap Maura.
"Kenapa tak bilang dari tadi?" ucap Aufan kesal.
"Maaf, sebenarnya...."
"Baiklah, aku akan pergi sekarang, ini uang terakhirmu, aku berharap kau akan baik-baik saja setelah ini, carilah pekerjaan yang halal," ucap Aufan lagi ."Oh iya, minggu depan aku akan menikah, datanglah kalau kau tidak keberatan, tapi hany la sebagai tamu," ucap Aufan.
Door
Maura kaget bukan kepalang, dadanya terasa di hantam oleh ribuan paku yang menusuk.
"Me... Menikah?" ulangnya.
"Ya, selamat tinggal,"
Aufan berjalan menuju pintu dan menghilang begitu saja.
__ADS_1
BERASAMBUNG...