
Aufan pun pergi membawa Vena keluar kamar. Vena tersenyum menatap Maura yang terlihat menangis.
"Mamp*us Loe," Isyarat mulut Vena saat menatao Maura.
"Maura... Kau tidak apa apa Nak?" tanya Pa Irlangga seraya mendekati Maura.
"Tidak apa apa Tuan, bolehkah aku minta satu hal?" tanya Maura.
"Katakanlah, aku pasti bisa menyanggupinya," ucap Pa Irlangga yakin.
Bagi Pa Irlangga, uang bukanlah masalah baginya. Karena uang itu tidak ada artinya di matanya. Perusaan yang sangat besar, uang berlimpah, membuat Dia merasa pasti sanggup memenuhi permintaan Maura.
"Aku ingin Aufan menikahi ku, demi status anak yabg di ku kandung ini," ucap Maura. Ragu ragu.
"Jadi? Benar kalian belum menikah?" tanya Irlangga.
"Iya... Dan aku tidak bisa menceritakannya sendiri, karena aku tidak sanggup. Kalau Papa ingin tau kisah hidup ku, Papa bisa menanyakannya dengan Aman langsung, karena dia tau segalanya," ucap Maura.
Pa Irlangga pun menghela nafas berat. Dan menghempaskan nya kasar. Kemudian menatap Maura seraya tersenyum manis.
"Baiklah, malam ini juga, aku akan menikahkan mu dengan Aufan," ucapnya.
"Terima kasih Pa!" sahut Maura dengan senyum kebahagiaan.
"Aku tidak akan membiarkan cucuku lahir tanpa ayahnya, kau tenang saja, aku akan menyuruh Aufan menikahi mu malam ini juga," ucap Pak Irlangga.
"Tapi bagaimana kalau Aufan menolak pernikahan kami ini Pak?" tanya Maura.
"Kau tenang saja Maura! dia tidak akan bisa menolak permintaanku ini, aku tidak mau dibantah oleh siapapun, karena aku adalah kepala keluarga di rumah ini, sekarang kau istirahat saja, persiapkan dirimu untuk acara pernikahan nanti malam, nanti biar mami mu yang membantu kau menyiapkan gaun pernikahan malam ini," titah Pak Irlangga.
"Baik Pak, terima kasih atas semua perhatian papa pada Maura, "ucap Maura.
Akhirnya pak Irlangga pun pergi meninggalkan kamar Maura. Dia mengeluarkan teleponnya dan menghubungi Aman. Mungkin dia perlu penjelasan pada Aman tentang kejadian yang menimpa anaknya, seperti yang dikatakan Maura tadi.
"Hello Aman, cepat kau ke rumahku, aku tunggu kau di Pendopo depan, cepat! aku sedang sibuk, jadi tidak bisa menunggu terlalu lama," ucapnya di telepon.
"Baik Pak, saya segera datang," ucap Aman.
__ADS_1
Pak ElIrlangga pun berjalan menuju pendopo, di halaman rumahnya. Dia juga memesan minuman dingin pada Bibi, agar mengantarkan ke pendopo tersebut.
Setelah menunggu 20 menit. Aman pun datang. Aman merasa sangat takut.
"Pak Bos," sapa Aman.
Aman gemetar merasa takut dan cemas karena selama ini Dia jarang sekali berhadapan dengan Bos besarnya tersebut. Karena Aman hanya kaki tangan Aufan saja.
"Duduklah! Aku ingin mencari tahu apa yang terjadi antara Aufan dan Maura? sebenarnya siapa Maura? dan bagaimana bisa Aufan berhubungan dengan wanita itu, hingga hamil tanpa menikah?" tanyanya.
"Pak Bos, Tapi aku tidak yakin menceritakan ini pada Pak Bos, aku takut Pak Bos tidak bisa menerimanya," ucap Aman.
"Malam ini aku akan menikahkan Maura dengan Aufan, tapi aku ingin tahu semua cerita mereka berdua, Maura pun sudah mengatakan padaku, bahwa kau mengetahui semua cerita mereka berdua," ucap Pak Irlangga.
"Benarkah? berarti Maura mengizinkan aku menceritakan semua kisahnya?" tanya Aman.
"Iya... dia yang menyuruhku agar mencari tahu kebenaran tentang mereka berdua, dari mu langsung," ucap pak Irlangga.
"Baik Pak Bos, begini Pak Bos, sebenarnya Maura adalah wanita malam, dan saat itu Bos Aufan sedang sedikit mabuk, saat ke cafe Maura bekerja, dan saat itulah kejadian yang tidak bisa dihindarkan itu terjadi. Sebenarnya aku sudah berusaha menahan Pak Bos. Karena itu adalah perbuatan curang. Namun sepertinya Pak Bos tidak menggubrisnya, dan akhirnya terjadilah malam yang suram itu, bagi Maura, gadis yang sangat baik."
"Jadi Maura itu hanya seorang penyuguh minuman di sebuah Cafe?"
"Sslahabat seperti apa itu? tega sekali dia sama teman sendiri, kasihan Maura, baiklah aku sudah mengerti sekarang. Tapi apa kamu yakin? anak yang dia kandung itu 100% adalah anak Aufan?" tanya Pak Irlangga.
"Iya Pak Bos, saya merasa sangat yakin, karena dia itu anak yang jujur, dia tidak pernah berbohong, dia hanya melayani Aufan Setelah dia dihancurkan oleh Aufan dan sahabatnya itu," ucap Aman.
"Terima Kasih aman, sekarang... Tolong hubungi penghulu dan saksi lainnya."
"Baik Pak Bos," sahht Aman.
Aman pun pergi meninggalkan istana Irlrlangga. Sementara Pak Irlangga masuk ke dalam rumahnya.
"Mami sayang ... Tolong persiapkan acara untuk malam ini, suruh Bibi memasak berbagai macam masakan, karena malam ini aku akan menikahkan Maura dengan Aufan."
"Benarkah? tapi bagaimana dengan Vena?"
"Kita tidak bisa membiarkan Maura hidup di rumah ini tanpa status, dan aku tidak ingin calon pewaris tunggal aku itu, lahir tanpa aya. Jadi Vena harus menerima nya, lagian selama ini kan Vena itu bisanya hanya belanja, shopping, dan jalan-jala.Bahkan dia saja tidak ingin mempunyai anak secepatnya, sedangkan aku sudah tua, dan perlu pewaris istanaku ini," ucap papah Aufan.
__ADS_1
"Baiklah sayang, aku akan mempersiapkan semuanya," sahutnya lagi.
***
Di Toko Mira sahabat Maura.
"Tuan Ibrahim... malam ini maura akan menikah dan Maura mengundang kita untuk hadir di pernikahannya l, apakah Tuan Ibrahim mau ke sana?" ajak Mira.
"Benarkah? tapi aku merasa tidak bisa ke sana, karena kau tahu kan, aku juga memendam rasa pada Maura? Aku titip salam saja untuknya, mudahan dia berbahagia dengan lelaki pilihannya," ucap Ibrahim.
"Baiklah Tuan, kalau begitu aku pamit, aku akan merangkai bunga untuk Maura, karena mertua perempuan maura memesan bunga dari tempat kita ini."
Akhirnya Mira pun pergi meninggalkan Ibrahim, yang tampak sedih.
"Maura, akhirnya kau menemukan tambatan hatimu, mudahan kau bahagia Maura." lirih hati Ibrahim, walaupun dia merasa sakit, namun, teruntai doa untuk kebahagiaan Maura, karena Ibrahim mencintai Maura dengan tulus.
Sementara dengan Mira, Setelah selesai merangkai bunga, Mira pun pergi menuju kediaman Aufan, tiba di depan pintu Aufan. ternyata ada Vena yang sedang duduk santai di dekat pintu.
"Selamat sore Nona, aku mengantar bunga untuk Nyonya Ani," ucap Mira.
"Bunga untuk apa? tanya Vena.
"Katanya malam ini ada acara pernikahan, di sini, dan ini kami sudah membawakan bunga untuk Nyonya Ani," ucap Mira.
Betapa kagetnya Vena, saat mendengar ada acara pernikahan, sementara dia tahu di rumah ini tidak ada lelaki single. Yang ada hanya papa dan juga Aufan, tentu saja Vena sudah menyangka bahwa mereka akan menikahkan Aufan dengan Maura.
"Maaf Nona l, Mungkin anda salah orang, di sini tidak ada orang yang mau menikah," ucap Vena.
"Yapi bener kok ini nomor hp-nya. Dia juga sering memesan bunga kepada kami," ucap Mira.
"Baiklah... sini biar aku yang membawanya," ucap Vena.
Kemudian Vena pun mengambil bunga itu dan membayarnya. Selepas kepergian Mira, Vena pun Membawa bunga itu ke belakang rumah, dan memukul-mukulnya dengan kayu yang panjang hingga hancue.
Sementara di dalam rumah. Tampak ani baru keluar dari kamarnya.
"Mengapa Tukang bunga belum datang ya? biasanya tidak pernah terlambat," ucap Mami heran, karena bunga yang dia pesan belum juga datang.
__ADS_1
Bersambung...