
Seperti biasa. Pagi ini Maura beraktivitas di kebun belakang. Maura terlihat sangat senang, Dia bernyanyi-nyanyi riang.
"Apakah Aufan menginginkanku? atau cuma ingin mendapatkan anak ini...? Sayang... tumbuhlah yang sehat, agar kelak kau bisa membela ibumu yang lemah ini," lirih Maura.
"Minggir... minggir semuanya! aku mencari seseorang," teriakan seseorang di depan toko membuat Maura kaget.
"Siapa yang Tuan cari? mau apa?" tanya Mira yang ada di toko.
" lAku mencari seseorang, dan aku harus menemukannya, Aku ingin tahu apakah orang itu ada di sini, atau tidak,"ucap suara seseorang.
"Tuan... tapi Tuan mencari siapa? katakan saja namanya, biar kami yang mengatakannya, Apakah orang itu ada di sini atau tidak," jawab Mira.
"Aku tidak akan mengatakannya, aku akan mencarinya sendiri," ucap lelaki itu.
Lelaki itu pun menerobos masuk ke dalam toko, dan membuka pintu belakang toko.
Alangkah kagetnya Maura saat menatap pintu yang terbuka.
"Aman?" pekik Maura.
Aman pun juga kaget dan segera berlari mengejar Maura, Maura juga berlari menghindari kejaran Aman.
"Kenapa kau masuk tanpa izin?" teriak Ibrahim yang melihat Aman mengejar Maura.
Maura dan aman saling kejar-kejaran, namun apa daya, tenaga Maura tidak sekuat dan selincah dulu, karena dia sekarang sedang mengandung, dan dia takut terjadi sesuatu dengan kandungannya, Aman pun berhasil menangkap tangan Maura.
"Tuan mau apa? Lepaskan aku!" bentak Maura .
"Aku ingin membawamu bertemu dengan Mami Aufan," ucap Aman.
"Untuk apa Tuan membawa aku ke Maminya Aufan? Aku tidak mau!" ketus Maura.
"Ini sangat penting, dia tidak akan menyakitimu, Mami akan menjagamu. Dia sangat ingin bertemu dengan calon cucunya," ucap Aman.
"Tidak, aku tidak mau!" ucap Maura lagi.
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Aman.
"Aku ingin hidup bebas, Aku tidak ingin disuruh dan diperintah oleh Tuan Aman atau Maminya, dengarkan aku! sekarang tuan Anda sedang sakit parah, katanya dia mengalami geger otak ringan, dan mungkin dia tidak mengingat siapapun di antara kalian, kecuali irang yang paling kuat di ingatannya, jadi seandainya Aufan meninggal, sedangkan aku berada di tangan Maminya, setelah aku melahirkan, aku pasti dibuang dan Bayiku pasti diambil olehnya!" ketus Maura.
"Jangan berpikiran begitu, kau 'kan belum tahu yang sebenarnya," ucap Aman.
"Aku sudah tahu sifat Mami Aufan, dia hanya menginginkan bayi ini kan?" ucap Maura lagi.
__ADS_1
Aman pun mengingat-ingat bahwa benar, Mami itu orangnya judes, pemarah, sombong, angkuh, namun saat mendengar Aifan punya bayi, tiba-tiba wanita itu menjadi lembut.
"Lalu apa yang bisa kau lakukan untuk Aufan?" tanya Aman.
"Kata dokter, Aifan akan kembali pulih apabila dia bersama seseorang yang sangat melekat di otaknya. Tapi aku tidak tahu siapa yang saat ini dia inginkan?" ucap Maura.
"Benarkah? kalau itu pasti kau orangnya, karena saat bangun tadi dia selalu memanggil namamu, bahkan Vena pun sangat marah, dan kau... jangan sampai bertemu dengan Vena, tapi bukankah kalian belum pernah bertemu?" tanya Aman.
"Iya... dia memang belum pernah menemuiku, tapi aku tahu kok wajahnya Vena itu, karena aku sudah pernah bertemu di mall waktu itu," ucap Maura.
"Ingat! kau harus menghindari bertemu dengannya, jangan sampai ketahuan kalau kau adalah wanita yang sedang mengandung anak Aufan," ucap Aman.
" lEmangnya dia tahu?" tanya Maura.
"Maaf Maura, tadi aku keceplosan, dan mengatakan kalau yang bernama Maura itu mengandung anak Aufan," ucap Aman merasa bersalah.
"Benarkah? kalau begitu aku harus ganti nama," ucap Maura.
"Sebaiknya begitu," ucap zaman.
"Baiklah, panggil saja aku Rara, mudahan kami tidak akan bertemu," ucap Maura.
"Tapi bagaimana dengan Aufan? dia selalu memanggil namamu, Apakah kau mau ikut denganku? biar kau bersembunyi di Apartemen Aufan, tapi aku tidak yakin, tapi kau harus menunggu Aufan bangun, apa yang akan terjadi dengan Aufan, kita akan tau nanti," ucap Aman.
"Tapi aku tidak bisa melepaskanmu, kau harus ikut aku, ayo! kau tinggal saja di Apartemen itu, sebelum aku memastikan Aufan mengingat siapa! Aku tidak ingin kehilanganmu lagi Maura, aku takut Aufan akan sangat marah padaku!" bentak Aman.
Aman juga membawa dua orang body guard. Maura tidak mungkin melawan.
"Hai! kau masuk tanpa izin, aku bisa melaporkanmu ke polisi," ucap Ibrahim yang baru tiba di tempat kejadian.
"Tuan maaf, kalau Tuan ingin melaporkanku, aku juga bisa melaporkan tuan, dengan tuduhan membawa kabur istri orang yang sedang hamil," ucap Aman.
Ibrahim pun tak bisa berkutik dan terdiam, kemudian dia menatap Maura.
"Maura... ini terserah kau. Kalau kau ingin aku melindungi mu. Kau boleh tinggal di sini, dan aku akan memanggil polisi," ucap Ibrahim.
"Tuan, aku tidak ingin menyusahkan Tuan, baiklah, aku akan ikut Tuan itu," ucap Maura.
Akhirnya Maura pun pergi mengikuti Aman ke Apartemen yang dulu pernah Maura tinggali.
Di sana Maura disediakan semua bahan yang Maura inginkan, namun pintu dikunci dari luar, karena Aman tidak mau kecolongan lagi kali ini. Aman pun kembali ke rumah sakit dengan wajah sayu.
"Aman!" panggil Vena yang melihat Aman masuk ke ruangan Aufan.
__ADS_1
"Apa kau sudah mendapat kabar dari Maura?" tanya Vena lagi.
"Maaf Nona, Aku tidak bisa menemukannya, bagaimana mungkin aku bisa menemukan wanita itu, di kota yang sangat besar ini? mungkin saja sekarang dia sudah keluar kota dan pulang ke kampungnya," ucap Aman.
"emangnya kau tahu di mana kampungnya? tanya Vena.
"Mana aku tahu Nona, tempat tinggalnya di sini saja aku tidak tahu, apalagi kampungnya?" ucap Aman.
"Keterlaluan kau! Aku curiga... jangan-jangan kau hanya berbohong padaku, coba tatap mataku!" ucap Vena.
Aman pun dengan berani menatap mata Vena, dia sudah bertekad untuk melindungi Maura, wanita yang sedang hamil anak Tuannya itu, Lagian Aman juga sekarang mulai mengagumi Maura, dan dia tidak senang dengan Vena.
"Jadi kau berkata jujur, bahwa kau tidak mengenal Maura?" tanya Vena.
"Iya Nona, dengan sangat yakin aku tidak mengenal yang namanya Maura, aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali, namun aku tidak tahu di mana tempat tinggalnya," sahut Aman.
"Baiklah, kau boleh pergi!"
Aman pun keluar meninggalkan ruangan itu. Tak berapa lama, Mami menyusul. Mami pun izin keluar.
"Vena, aku merasa lapar, sebaiknya Aku cari cemilan dulu ke kantin, kau mau nitip apa?" tanya Mami.
"Terserah Mami aja, aku pusing nih, aku tidak bisa berpikir apa-apa sekarang," ucap Vena.
Mami pun pergi meninggalkan ruangan itu, dan menyusul Aman.
"A man tunggu...! Apa benar kau belum menemukan Maura?"tanya Mami.
"Benar Bu Bos, aku belum menemukannya, Aku bingung harus mencarinya ke mana," ucap Aman.
"Baiklah, tapi sekarang ini Aufan sedang dalam masalah besar, karena Aufan sekarang mengalami gager otak ringan, mungkin saja setelah bangun dia tidak mengenali kami semua, kecuali wanita yang bernama Maura itu," ucap Mami.
Aman pun berinisiatif dan merencanakan sesuatu.
"Benarkah? Kasihan sekali Bos," iba Aman.
"Baiklah, kau temukan Maura, sampai dapat. kita sudah sepakat, kau akan mendapatkan sebuah rumah kalau kau bisa menemukan Maura," ucap Mami.
Kemudian Mami pun pergi meninggalkan Aman.
"Bu Bos, Maafkan Aku, sebenarnya sekarang aku lebih memilih pilihan hati nurani ku daripada uang," lirih Aman.
Bersambung...
__ADS_1