Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Sangat Khawatir


__ADS_3

Pa Irlangga yang melihat perubahan wajah Istrinya pun heran, Pa Irlangga bahkan menatap wajah tamu dan Mami bergantian.


"Ada apa? Kau siapa?" tanya Irlangga.


"Dia ..., teman lamaku pa, ayo masuk!" ucap Mami mencoba tenang, walau sebenarnya hatinya sangat tak karuan.


Irlangga, Mami dan juga Lelaki itu masuk. Mereka bertiga duduk di ruang tamu, sesekali Mami memohon dengan isyarat agar Lelaki itu bisa diam.


"Maaf, Tuan, aku datang ke sini ingin bersilaturrahmi, sekalian minta sesuatu sama Ani," ucap lelaki itu.


"Minta sesuatu?" heran Irlangga.


"Oh iya, namanya Agung Pa, dia teman lamaku," ucap Ani merasa sangat khawatir.


"Ooh ..., begitu ya, kenapa dia tidak pernah ke mari?" tanya Irlangga.


Pa Irlangga bahkan lupa sedang ada urusan mencari Aufan yang membawa lari bayi Maura.


"Karena aku sedang berada di Luar Negeri beberapa tahun ini," sahut Agung.


Tiba-tiba suara tangis bayi dari kamar atas membuat mami dan Irlangga kaget.


"Aufan," lirih Irlangga seraya berdiri dan berlari ke loteng atas.


"Agung, aku mohon! Tolong jangan katakan apa pun pada suamiku, aku akan hancur, aku mohon," ucap Ani.


Agung hanya tersenyum menyeringai. Tatapan misterius Agung membuat Mami sangat takut. Bahkan kini dia merasa demam mendadak.


"Kita liat saja nanti," ucap Agung, menambah beban pikiran Mami.


"Ani! Cepat ke mari!" panggil Irlangga dari atas loteng.


"Iya Mas," sahutnya.


Ani pun segera meninggalkan Agung dan menaiki anak tangga. Hatinya sangat kacau. 'Apakah rahasia selama 23 tahun ini akan terbongkar?' Lirihnya.


"Ani, tolong kau bawa cucuku turun, aku ada urusan dengan Aufan," ketus Irlangga.


"Cucu? Ini anak siapa?" tanya Mami yang heran.


Bayi itu terus menangis karena ingin Mimi ASI, bahkan tidak bisa di tenangkan sama sekali. Mami pun mengambil bayi dan dodotnya, namun tetap tidak mau diam.


"Bawa dia ke bawah," titah Pa Irlangga.

__ADS_1


"Iya Pa," sahut Mami.


Mami pun membawa bayi itu turun ke bawah. Sementara Pak Irlangga menatap tajam ke arah Aufan yang masih duduk di atas ranjangnya.


"Aufan! apa sebenarnya yang kau inginkan? Kenapa kau membawa lari bayi mungil yang masih memerlukan perhatian ibunya itu? hah!" ketus Oa Irlangga.


"Terus? apa yang Papa lakukan? Kenapa Papa menyembunyikan Maura dariku? dia itu istriku Pa! aku sudah lama mencarinya, Aku bahkan seperti orang gi*la karena tidak berhasil menemukannya.


" Itu kecerobohanmj sendiri," ktusa Papanya tak mau di salahkan.


"Papa tidak menghiraukan ku! papa sama sekali tidak memperdulikan ku! papa tahu kan selama beberapa bulan ini aku tampak stres karena mencari Maura?" ucap Aufan kesal.


"Ini semua karena perbuatan mu! kau sendiri kan yang tidak mengakui bahwa anak itu bukan anakmu? bahkan dengan terang-terangan kau menyakiti hati Maura, kau juga mengusirnya dari rumah, kau dengan Vina sengaja menyakiti hatimu Maura agar dia minggat dari rumah Ini kan? Setelah dia minggat kenapa kau mencarinya?" ucap pak Irlangga marah.


"Ya La, memang aku orang yang bod**oh, namun aku tidak tahu semua ini adalah rencana Vena. Vena telah meracuni otak ku Pah, dia telah mengendalikan bku!" ucapnya.


"Iya ..., karena kau terlalu menjadi budak cinta Vena, kau bahkan tidak tahu kalau istrimu itu sedang berselingkuh, dari sejak kau pacaran, aku sudah tidak merestui kalian. namun aku tidak berdaya, tapi kau tahu kan saat kau melihat reaksiku, saat bertemu dengan Vena, saat kau berpacaran dulu, aku slalu cuek padanya," ucap Irlangga.


"Bagaimana aku tahu kalau Papa sebenarnya tidak merestui kami? sepertinya Papa cuek saja saat aku membawa Vena ke sini."


"Itu karena aku takut kau malah nekat kabur dari rumah, sedangkan Kau adalah pewaris satu-satunya di rumah Ini kan?" ketusnya lagi.


"Sekarang Aku ingin kembali sama Maura, Aku ingin kembali merajut harapan kami yang pernah hilang, tolong aku Pa," ucapnya.


"Pa ..., Tolong aku Pa, aku mohon ..., Kalau papa yang membujuk Maura, Mungkin dia akan mau menerimaku kembali Pa," ucapnya.


"Aku tidak mungkin membujuknya, tidak! Aku tidak akan memaksanya untuk kembali padamu, kau berusahalah sendiri, ingat! jangan sekali-kali lagi kau berani membawa bayi itu jauh dari Maura, Bagaimana kalau dia sakit? dia itu bayi yang sangat perlu ASI. Bukan susu formula, ngerti!?" kata Irlangga sangat marah.


Irlangga kemudian pergi meninggalkan kamar Aufan, saat dia turun di tangga pertama, dia sengaja berhenti dan berdiri di situ. Karena ingin tahu apa yang sedang dibicarakan istrinya dengan lelaki yang bernama Agung.


"Aku akan memberikan pekerjaan, Tapi tolong rahasiakan semua yang pernah kita lalui, Aku ingin kau benar-benar merahasiakannya, karena ini adalah yang akan memperkeruh hubungan kami, aku mohon," pinta Mami.


"Kita lihat saja nanti," ucapnya.


Pa Irlangga pun turun, sehingga suara tapak kakinya terdengar oleh mereka berdua.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Pak Irlangga.


"Papa, ini Pah, temanku ini ingin mencari pekerjaan di perusahaan kita. Apakah ada pekerjaan yang bisa Papa berikan padanya?" ucap Mami.


"Pekerjaan? Baiklah, nanti aku akan memikirkannya, kalau saat ini pekerjaan sih belum ada, tapi apakah kau bisa menyetir?- tanya Pak Irlangga.


"Tentu saja saya bisa Tuan, saya ahlinya dalam menyetir," ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang Ayo ikut aku!" Pa Irlangga kemudian mengambil bayi dari pelukan Mami, dan pergi meninggalkan rumah tersebut.


Sedangkan Mami pun mengjringinya dari belakang.


"Aku ikut Pah," ucap Mami.


"Tidak! kau tidak perlu ikut, kau urusi saja anak mu itu, Aku tidak punya waktu lagi untuk mengawasinya, aku malah tambah pusing kalau memikirkan dirinya," ucap Irlangga.


Saat di halaman, tiba-tiba Dito datang, dan diq sangat kaget saat melihat Agung ada di sana.


"Kau? bukankah kau laki-laki yang pernah aku temui di rumah sakit, saat kakak iparku melahirkan?" tanya Dito.


.Agung seketika gugup.


***


23 tahun silam


"Aku harus segera memasukkan obat ini ke dalam infus Nyonya Irlangga, agar dia sakit-sakitan dan perlahan akan meninggal," ucap seorang Lelaki muda.


Setelah itu lelaki itu pun menyuntikkan obat itu ke dalam infus Nyonya Irlangga, saat selesai, tiba-tiba Dito datang.


"Hai ..., siapa kau?" tanya Dito.


"Aku ..., mohon maaf, aku salah kamar," ucap lelaki itu gugup, seraya pergi dengan tergesa-gesa.


"Hei, tunggu!" oanggil Dito karena Dito merasa curiga. Namun lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan ruangan tersebut.


"Mengapa dia tampak mencurigakan?" tanya Dito.


Tiba-tiba Nyonya Irlangga menggeliat terbangun.


"Dito ..., kau sudah datang? aku merasa haus, tolong berikan aku minum," ucap Nyonya Irlangga.


Dito pun mengambilkan air untuk Kakak iparnya yang baru melahirkan Normal.


"Kakak ipar, Apa kau melihat ada laki-laki yang masuk ke kamar ini?" tanya Dito.


"Tidak, Memangnya kenapa?" tanyanya.


"Oh ..., tidak apa-apa, ini airnya," ucap Dito.


Ny. Irlangga pun meminum air putih itu dengan beberapa tegukan.

__ADS_1


Beesambung...


__ADS_2