Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Salah Paham Bikin Cemburu


__ADS_3

Kiara dan lelaki itu sama-sama terpaku berdiri di tempatnya. Bahkan mereka lupa Sudah berapa detik kah mereka terpaku. Sementara Bu Siti tampak bingung melihat kelakuan Kiara dan lelaki itu.


"Tuan Ibrahim, Ayo silakan masuk!" Ajak Bu Siti.


Ternyata Ibrahim si pemilik toko bunga, tempat Maura bekerja dahulu. Ibrahim juga yang sempat menyukai Maura, tentu saja Ibrahim tidak menyangka bisa bertemu dengan Maura.


"Terima kasih Bu," ucap Ibrahim, namun matanya tidak lepas dari wajah Maura.


Akhirnya Ibrahim pun masuk ke dalam, namun dia masih menatap Maura. Penampilan Maura yang sekarang jauh berbeda dengan penampilannya dulu, kalau dulu dia selalu pakai rok mini, baju kaos biasa, sedangkan sekarang Maura sudah memakai pakaian muslimah sejati, pakaian panjang syar'i dan tebal, kerudungnya yang menutupi sampai di bawah perutnya.


"Tuan Ibrahim, Apakah Tuan mengenal Maura?" tanya Bu Siti kemudian, karena merasa heran sejak datang tadi Ibrahim selalu menatap ke arah Maura.


"Oh iya Bu, Kebetulan kami saling kenal," ucap Ibrahim.


"Ya Bu Siti, saya sudah lama mengenal Tuan Ibrahim, karena saya pernah bekerja di tokonya Bu," ucap Maura.


"Oh ..., begitu ya? Jadi kalian sudah pernah kenal? baguslah kalau begitu, Oh iya Maura, Tuan Ibrahim ini adalah donatur tetap Panti Asuhan kita, jadi setiap bulan dia ke mari untuk menyetorkan infaknya kepada kami di sini, Alhamdulillah berkat Tuan Ibrahim, adik-adik semua di sini bisa makan layaknya orang-orang lainnya," ucap Bu Siti.


"Masya Allah, Alhamdulillah. Terima kasih Tuan Ibrahim, sedangkan aku saja tidak pernah ke mari setelah aku meninggalkan panti ini," ucap Maura.


"Oh jadi kau dulu juga tinggal di Panti ini?" tanya Ibrahim.


"Iya Tuan. Saya tinggal di sini selama 23 tahun, dan saya keluar setahun yang lalu, setelah perjalanan berlika-liku saya pun bekerja di toko Tuan, akhirnya sekarang Saya memutuskan untuk kembali ke sini," ucap Maura.


"Benarkah? kalau begitu, kita akan sering bertemu," ucap Ibrahim.


"Iya Tuan, tentu saja," sahut Maura.


Sekarang Ibrahim semakin menyukai penampilan Kiara ini, karena notabennya Ibrahim adalah orang yang sholeh, walaupun tidak terlalu fanatik, tapi dia tahu tentang agama, bahkan sholatnya pun tidak pernah bolong.


"Oh ya Bu, ini untuk bulan ini, maaf cuma bisa memberi segitu," ucap Ibrahim seraya menyerahkan sebuah Amplop yang isinya mungkin kurang lebih 4 atau 5 juta.


"Terima kasih, Tuan Ibrahim. Terima kasih banyak. Barakallah, Allah pasti membalas kebaikanmu," ucap Bu Siti.

__ADS_1


"Sama-sama Bu, ucapnya.


"Oh iya Maura, Apakah itu anakmu?" tanya Ibrahim, karena Ibrahim tahu kalau Maura duku hamil. dan saat itu Ibrahim juga tau, kalai Maura kembali bersama Aufan.


"Iya Tuan, ini adalah anakku. Mereka kembar," ucap Maura.


"Oh ..., selamat ya, Selamat atas kelahiran bayinya. Oh ya Bu Siti, kalau begitu aku pamit dulu," ucap Ibrahim. walaupun Ibrahim sangat menyukai penampilan Maura, namun Tentu saja dia tidak berdaya apapun, karena sekarang dia tahu kalau Maura sudah mempunyai dua anak, dan juga sudah bersuami, akhirnya Ibrahim pun pergi meninggalkan rumah Ibu Siti tersebut, tanpa sepatah katapun.


"Terimakasih Tuan!" ucap Bu Siti sedikit nyaring saat Ibrahim beranjak pergi. Ibrahim hanya mengangguk.


"Maura, sebaiknya kalian istirahat dulu, mari! di kamar sini, biar anak-anak membersihkan dulu bangunan yang itu. Dan mungkin kita perlu mencari tukang bangunan untuk memperbaikinya," ucap Ibu Siti.


"Terima kasih banyak Bu," sahutnya.


Tak berapa lama, anak-anak pun datang dan menyerbu makanan yang dibawa Maura. anak-anak di panti tersebut tidak terlalu banyak hanya berkisar antara 20 sampai 25 orang, jadi uang 5 juta sebulan ya cukup-cukupin Bu Siti untuk keperluan mereka semua hanya untuk makan.


Saat di kamar, Alin pun mendekat dan sedikit berbisik.


"Justru itu aku ingin tinggal di sini, agar Papa memperhatikan tempat ini, kalau cucu-cucunya tinggal di sini, otomatis dia akan membersihkan lingkungan di sini, aku yakin Papa sangat baik untuk menyalurkan bantuannya dan merenovasi tempat ini, agar layak ditinggal oleh mereka, aku ingin mereka juga mempunyai tempat bermain di halaman ini. Bukankah tempat ini sebenarnya sangat luas?" sahut Maura.


"Kau memang pintar Maura," ucap Alin


Akhirnya mereka pun masuk ke kamar yang sudah disediakan Ibu Siti, kamar yang tidak begitu besar, mereka pun meletakkan Rayyan dan Raihan karena mereka sudah tertidur pulas, di atas kasur yang sudah rapi dan bersih. Sprei baru di ganti oleh Ibu Siti.


Sementara Ibrahim, dia terus mengendarai motornya menuju pulang ke rumah, karena merasa haus, ia pun mampir di sebuah kedai es kelapa yang ada di pinggir jalan, saat asik meminum es kelapa, tiba-tiba ada sebuah mobil mendekat dan berhenti di dekat kedai tersebut.


Alangkah kagetnya Ibrahim saat melihat laki-laki yang ada di dalam mobil tersebut, saat laki-laki itu turun dari mobilnya Ibrahim lin bergumam,"Aufan? bukanlah dia suami Maura?" ucap Ibrahim.


Ternyata Aufan dan Dito yang baru pulang dari hotel dan berjalan-jalan menghabiskan waktu hari ini, mereka pun turun dan mendekati warung es kelapa kemudian duduk di seberang Ibrahim.


Ibrahim diam tidak menyapa, dia hanya diam, dia merasa takut kalau Aufan tidak mau menegurnya, karena kasus terdahulu, namun tiba-tiba Aufan menatap Ibrahim.


"Hei ..., kau? bukankah kau Ibrahim? Ibrahim sang pemilik toko bunga itu ya 'kan?" tanya Aufan.

__ADS_1


"Oh iya benar, aku Ibrahim," sahutnya.


"Bagaimana kabarmu sekarang?" tanya Aufan.


"Kabarku baik-baik saja kok," ucapnya.


"Apakah kamu masih jualan bunga?" tanya Ibrahim, Iya, aku masih jualan bunga," sahut Ibrahim.


"Oh baiklah, kalau begitu, aku ingin membeli sebuah bunga yang besar, tolong kau kirimkan secepatnya, nanti aku kirim alamatnya ya! dan sekalian harga bunganya aku transfer," ucap Aufan.


"Baik Tuan. Selamat ya atas kelahiran bayi kembarnya," ucap Ibrahim.


"Oh iya, terima kasih, kok kamu tau juga? apa Maura yang memberi kabar padamu?" tanya Aufan.


"Iya, aku tahu dari Maura," Jawab ibrahim.


"Kuurang ajar Maura, Apakah Maura Masih berhubungan dengan lelaki ini?" gumam Aufan dalam hatinya.


"Oooh ..., tolong bikinkan bunga yang begitu indah dan sangat mahal ya, aku ingin mengirimi Istriku bunga itu, mana nomormu, biar aku kirim alamatnya," ucap Aufan.


Ibrahim pun memberikan no teleponnya. Setelah berhasil di save, Aufan pun mengirimkan alamat Hotel Maura tinggal.


"Maaf Tuan, apa aku akan mengirim bunga itu ke Hotel ini?" tanya Ibrahim heran.


"Iya," sahut Aufan.


"Apakah dia beristri lagi? Bukankah Maura sekarang diam di panti?" batin Ibrahim


Bersambung...


Mampir di Mendadak jodoh ya


Udah Tamat.

__ADS_1


__ADS_2