Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Bumil Pingsan


__ADS_3

Ayah Aufan terus berjalan menaiki anak tangga dan berhenti di depan pintu Aufan, langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara istrinya sedang bercakap-cakap dengan Aufan dan Vena.


"Dengarkan aku baik baik! Kau harus mengalah, kalau kau tidak mengalah, maka kita semua tidak akan dapat apa-apa, dan sekarang dinikahi atau pun tidak, Maura sudah diberi Papamu sebuah perusahaan kecil, Aufan, jadi kalau kau ingin masih tetap menikmati hasil dari perusahaan Papamu, kau harus menurut padanya, kalau tidak! pasti kau akan dibuang di jalanan seperti anak kucing!" ketus Maminya.


"Mi... tapi aku tidak tahu siapa itu Maura? bahkan aku tidak ingat siapa dia? mengapa bisa-bisanya dia mengatakan kalau anak yang dikandungnya itu adalah anak ku?" ucap Aufan.


"Sayang... mungkin apa yang dikatakan Mami ada benarnya, sebaiknya kita menurut saja pada perkataan Papa, tapi kamu jangan sampai terpengaruh oleh Maura, karena mungkin dia hanya menipu kamu saja, kamu saja tidak ingat kapan kamu berhubungan dengannya, anak itu pasti bukan anakmu, tapi karena Papa terus bersikukuh dengan kepercayaannya, biarlah, toh nanti juga bisa tes DNA," ucap Vena.


"Baiklah, aku akan menuruti apa katamu saja," ucapnya.


"Ha ha ha ha, bagus lah kalo begitu, akhirnya kalian sadar juga, kau tidak bisa terus mengelak dari tanggung jawab Aufan, malam ini siap-siaplah untuk menikah dengan Maura! ketus pak Irlangga pada Aufan.


"Baik Pa, aku akan menikahi Maura malam ini, tapi hanya untuk menikahi, tidak untuk tinggal bersama," ucap Aufan.


"Itu terserah kau, namun yang jelas, dia adalah cucuku, maka Dialah yang berhak atas warisan yang aku miliki sekarang, ingat! jangan sampai kau melarikan diri lagi, kali ini kau akan menyesal," gertak Papanya.


Pak Irlangga pun pergi meninggalkan kamar Aufan. kemudian turun dan mengetuk pintu Maura.


"Maura! Apa kau di dalam?" panggil Pa Irlangga.


"Iya, sebentsr," sahut Maura.


Tak berapa lama, Maura pun membukakan pintu, terlihat bahwa Maura baru saja menangis.


"Maura, kenapa kau menangis? apakah mereka berbuat sesuatu padamu?" tanya Pa Irlangga.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa, jadi orang yang tidak berguna saja di rumah ini, karena aku telah mengganggu kehidupan kalian, bahkan Vena pun sangat marah padaku, aku mengerti, bahwa aku adalah wanita pengganggu di kehidupan mereka," ucap Maura.Dia merasa sedih.


"Maura, kau jangan berkata seperti itu, aku mendukungmu dan aku percaya bahwa bayi yang kau kandung itu adalah cucuku, jadi kau jangan berpikir macam-macam, malam ini kalian akan menikah, aku baru saja menemuinya, dan dia mau menerima Maura, sebagai istrinya, walaupun itu hanya sebatas istri status di atas kertas, untuk mengesahkan anak itu nanti, setelah lahir, jadi kau bersiap-siap saja," ucap Papa Aufan.


"Papa... Apakah ini benar? haruskah aku menikah, sementara Aufan sudah punya Vena?" tanya Maura.


"Dia harus tanggung, jawab, kau istirahat saja suli, nanti malam jangan kau lupa.


Papa Aufan pun pergi meninggalkan kamar Maura. Maura kembali menutup pintunya.


"Tuhan... Sebenarnya kehidupan seperti apa yang harus aku jalani ini? aku merasa lelah ya Tuhan, apapun yang terjadi aku akan menerimanya, tapi tolong jaga aku dan bayiku ini, dari kezaliman orang-orang yang ingin mencelakai kami ya tuhan."


Maura pun berbaring di kasurnya, tak terasa Maura pun tertidur, sehingga dia tidak menyadari bahwa hari semakin gelap, waktu berlalu, malam pun tiba.


"Maura ke mana nih, kok belum keluar?" tanya papa Aufan.


"Ada apa Pa?" tanyanya.


"Maura belum keluar dari kamarnya, coba kamu panggil, acara akan segera dimulai," ucap Papanya.


"Benarkah? kemana wanita itu? bukankah dia sudah tahu? Dasar wanita tak tau diri, membuat orang terus mengkhawatirkan nya saja," ketus Aufan.


Aufan pun berjalan membuka pintu Maura tanpa permisi, dilihatnya Maira tampak masih tertidur di ranjang nya.


"Ya tuhan... perempuan seperti apa dia ini? kenapa dia tidur enak sekali, tanpa memikirkan orang lain, bahkan dia lupa kalau malam ini dia akan dinikahi," ucap Aufan.

__ADS_1


Aufan pun mendekati Maura yang sedang terlelap. ditatapnya wajah cantik itu, terkilas bayangan di mana pertama kali dia menjamah wanita itu, Aufan pun kembali memegang kepalanya yang tiba tiba sakit.


"Ingat, kau tidak boleh melayani siapapun selain diriku! kau hanya milikku!" ucap Aufan malam itu.


"Oh tidak... apakah benar kau adalah masa laluku? jelas sekali itu adalah wajahmu, Maura, kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?" gumamnya.


"Aufan! Cepatlah! bawa Maura ke mari!" titah sang Papa.


"Kenapa kau tidur? bukankah kau sudah tahu hari ini kita akan menikah? keterlaluan kau ini? Papa sampai memohon mohon padaku, agar menikahi mu, tapi ternyata kau malah enak enakan tidur," lieih hatinya kesal.


"Hai kerbau... ya tuhan... mengapa tidurnya lelap sekali? Aufan lun mendekati dan menggoyang goyang tubuh Maura. Namun ternyata Maura demam, badannya panas.


"Pah, kemari!" teriak Auflfan tiba-tiba panik.


"Ada apa?" jawab Papa Aufan.


"Ke mari Pa!" teriak Aufan lagi terdengar panik.


Papa Aufan pun segera mendekati kamar Maura. Dia masuk kedalam.


"Maura demam Pa, sepertinya dia juga pingsan," ucap Aufan.


"Ayo cepat bawa Dia ke rumah sakit#" titah Papanya.


Akhirnya malam ini kembali pernikahan pun gagal, karena Maura demam tinggi, Maura pun dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2