
Maura pun dibawa ke klinik terdekat. Maura masih tidak sadarkan diri, Bidan pun memeriksa denyut nadi Maura.
"Maaf Tuan... istri Anda baik-baik saja. Mungkin dia hanya kelelahan. Istirahat yang banyak, jangan sampai bekerja terlalu berat, karena kandungannya ini masih sangat muda," ucap bidan.
"Apa? kandungan? jadi dia hamil Bu?" tanya Ibrahim.
"Apakah anda belum tahu?" tanya bidan heran.
"Oh... iya...saya belum tahu," ucapnya.
"Selamat, Anda akan mempunyai momongan," ucapnya.
Kemudian Ibrahim pun terdiam.
"Baik bu, bidan pun meninggalkan ruangan kamar Maura di rawat. Sedang Ibrahim hanya menatap Maura penuh misteri.
"Sebenarnya, siapa kau Maura?" tanya Ibrahim dalam hati. Ibrahim pun meletakkan minyak kayu putih di dekat hidung Maura agar mau cepat siuman, tak Berapa lama Maura pun menggeliat.
"Di mana aku?" lirik Maura.
"Maura... kau sudah bangun?" tanya Ibrahim
"Kenapa aku ada di sini?"tanya Maura.
"Tadi kau terjatuh saat membawa beras, lalu kau kubawa kemari," ucapnya.
"Terima kaih Tuan," ucap Maura.
Wajahnya tampak pucat, mungkin karena janin yang di kandungnya. Dan dia kurang istirahat.
"Kenapa kau mengangkat beras begitu berat?" tanya Ibrahim.
"Oh... itu tadi mau masak Tuan,"
"Maura tidak perlu sungkan, panggil saja aku Ibrahim," ucap Ibrahim.
"Rasa tidak pantas Tuan, kau 'kan bosku" ucap Maura.
"Aku ingin tanya sesuatu padamu," ucap Ibrahim.
"Silahkan Tuan," ucap Maura.
"Apakah kau pernah menikah? Lalu? Di mana suamimu?" tanya Ibrahim.
"Kenapa Tuan bertanya seperti itu?" tanya Maura.
"Tidak apa-apa, kata bidan, kandungan mu baik-baik saja kok, tapi kalau tidak boleh lagi bekerja berat," ucap Ibrahim.
Maura pun terdiam. Dia menatap Ibrahim, entah apa yang sedang dia pikirkannya.
"Oh terima kasih banyak, kau telah membawaku berobat kemari," ucap Maura
"Sebenarnya... di mana suamimu?" tanya Ibrahim lagi penasaran.
"Aku... aku belum bisa menjelaskannya sekarang, sebaiknya kita pulang, aku tidak apa-apa kok," ucap Maura.
"Tapi kau masih kurang sehat, sebaiknya kau dirawat dulu di sini, selama semalam," ucap Ibrahim.
"Tidak usah Tuan, aku baik-baik saja kok," ucapnya.
"Mungkin kau tidak bisa lagi bekerja di warung ku, Maura...," ucapnya.
"Ada apa? apa karena aku hamil kau menolak ku? Aku masih kuat kok, tolong aku, hanya ini pekerjaan yang bisa ku lakukan," ucap Maura terlihat sedih.
"Sebenarnya, siapa dia? Sepertinya dia sangat memerlukan pekerjaan," batin ibrahim.
"Tuan...," desak Maura lagi penuh iba.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku takut nanti kau sakit. Mungkin aku akan disalahkan. Bagaimana kalau kau bekerja di toko Bungaku saja," ucap Ibrahim.
"Toko bunga? apakah kau juga mempunyai toko bunga?" tanya Maura.
"Iya, aku juga punya toko bunga kok, mungkin di sana Kau lebih santai, Kau hanya duduk manis, sementara nanti akan ada banyak pelanggan yang memilih bunga-bunganya sendiri, dan kemudian minta diantarkan, bagian pengantar pun ada bagiannya. Jadi kau tidak usah khawatir, kau santai saja ya, kau cukup mencatat pesanan mereka, lalu melaporkannya pada karyawan, nanti karyawan lah yang akan mencarikan bunga yang mereka maksud," ucap Ibrahim.
"Baiklah, aku bersedia, sekarang Ayo kita pulang!" ajak Maura.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ibrahim.
"Tidak Tuan, aku sudah sehat kok," ucapnya lagi.
"Ayo!"
Ibrahim pun menyelesaikan administrasinya dengan bidan yang ada di klinik tersebut. Mereka pun pulang menuju rumah yang disediakan di warung makan itu.
***
Sementara Aufan tampak masih uring-uringan di kamarnya, kemudian dia menuju kamar mandi. Menyiram air ke tubuhnya yang masih memakai baju, dia terus menyiram air ke tubuhnya hingga semua pakaian yang ada di tubuhnya pun basah kuyup, kemudian dia melepaskan pakaiannya dan keluar kamar mandi, mengganti dengan baju yang baru.
Aufan terlihat mengambil kunci mobilnya, dan keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga.
"Mau ke mana Fan?" tanya sang mama.
Vena yang mendengar mamanya berteriak pun segera berlari ke ruang tamu, saat melihat Aufan berjalan menuju pintu utama.
"Tunggu!" teriak Vena.
Namun Aufan tidak perduli. Dia terus berjalan memasuki mobilnya.
Bruk
Menutup pintu kasar.
"Aufan buka! aku ikut," ucap Vena.
"Faaaaan...." teriak Vena lagi.
"Namun Aufan tetap tidak peduli. Dia terus meluncur menuju Cafe momi Lin.
"Maura... Ke mana kau sebenarnya?" tanya Aufan. Lagi dalam hati.
"Hello Bos..." suara Aman di seberang telepon.
"Kau di mana? Aku ingin bertemu sekarang!" ketus Aufan.
"Aku sedang di rumah Bos. Aku sedang menemani anakku, baiklah... Bos di mana? biar aku yang ke sana," ucap Aman.
"Sekarang juga kau temui aku di cafe mama Lin, cepat! tidak pakai lama, saat aku tiba kau sudah duluan di sana," ucap Aufan.
"Bos bagaimana...."
Tut tut tut
Telepon sudah di matikan Aufan.
"Ada apa Yah?" ucap istri Aman. Yang memang panggilannya Ayah( ayahnya anak)
"Bos Aufan menyuruhku mendatanginya, sudah dulu ya, assalamualaikum," Aman pun berlarian sambil mengambil jaket, kunci motor dan helm.
"Hati-hati di jalan Yah!" ucap sang istri.
"Iya Mah," jawab Aman.
Aman pun meluncur meninggalkan kediamannya menuju Cafe mama Lin. Setelah beberapa waktu, Aman pun sudah sampai di sana.
"Hei... siput, kenapa lambat sekali? kau datang kemari aku sudah lumutan tau!" gerutu Aufan.
__ADS_1
"Maaf Bos, dari rumahku itu ke sini, makan waktu 30 menit Bos, Lihatlah! sekarang aku hanya memakan waktu 20 menit, aku hampir seperti terbang Bos," ucap Aman.
"Tolong cari Maura di dalam! Mungkin saja dia sedang bersembunyi dariku, dan mereka bersekongkol untuk menyembunyikan Maura dariku, Mungkin saja dia sekarang sedang melayani orang yang ada di dalam sana. Dasar wanita itu. Apakah dia sekarang sudah menjadi lubang semut?" kesal Aufan.
Aman pun berjalan memasuki Cafe Mama Lin. Sementara Aufan juga mengiringinya di belakang dengan jalan santai.
Mata semua wanita yang ada di sana tertuju kepada Aufan, dengan rambut yang masih basah. Wanita-wanita itu pun sangat terpesona oleh pesona wajah Aufan yang sangat tampan. Ada beberapa wanita yang mulai mendekat.
"Bos... Ayo sama aku saja!"
"Sama aku saja Bos."
"Ayo Bos."
Ucap wanita-wanita itu, namun Aufan tidak memperdulikannya, dia terus berjalan memasuki Cafe sampai di meja Mama Lin,
"Aufan? Ada apa kau kemari? Apa kau ingin mencari gadis baru lagi? aku belum punya garis baru Aufan Kalau kau mau silakan kau pilih di antara mereka," ucap Mama Lin.
"Aku ingin bertemu Maura," ucapnya dengan nada dingin.
"Maura sudah tidak bekerja di sini lagi. Sudah beberapa hari ini dia meninggalkan Cafe," jawab Mami Lin.
"Aku tidak percaya," ucap Aufan.
"Silahkan kau cari, kau tidak akan menemukannya di sini," ucap Mama Lin.
"Aman! Tolong kau geledah setiap kamar yang ada di sini," ucap Aufan.
"Apa bos? menggeledah kamar?" ucap Aman.
"Kau jangan keterlaluan Fan!" ucap Mama Lin
"Kenapa? apa kau takut? Apakah sekarang Maura kai jadikan lubang semut seperti mereka?" ucap Aufan.
"Hei... ini Cafe ku, dan itu adalah hak dan privasiku, tapi sungguh, Maura sudah tidak bekerja di sini," ucapnya lagi.
"Kau pasti bohong!" ucap Aufan.
Dia pun berjalan menyisiri kamar-kamar dan mendobraknya satu persatu.
Pintu-pintu itu pun terbuka, sungguh Aufan keterlaluan, dan tampaklah labu-labu belah itu terlihat dari luar pintu kamar.
"Dasar para lobang semut ja lang!" bentaknya.
Mami Lin yang mengiringi dsri nelakang Aufan pun terpaksa menutup pintu pintu itu satu persatu.
"Aufan, Tunggu! Berhenti!" bentak Bela yang tampak baru datang dari arah belakang.
"Ada apa? Kalau kau hanya menghalangi ku, sebaiknya kau pergi sebelum melayang," ucapnya.
"Aku akan mengatakan tentang Maura," ucapnya.
Aufan pun berhenti.
"Ayo!
Bella pun menarik tangan Aufan menuju ruang pribadinya diikuti Aman.
"Duduklah! Aku ingin kau dengarkan aku, jangan menyela," ucapnya.
"Malam itu sebenarnya Maura ingin mengatakan sesuatu kepadamu, Namun ternyata kau lebih dulu mengatakan tentang pernikahanmu," ucap Bela.
"Apa maksudnmu?" tanya Aufan.
"Kau akan menikah, tentu saja Maura sangat sakit hati, Bagaimana bisa dia akan mengatakan yang sesungguhnya," ucap Bela "Apa maksudmu?" tanya Aufan.
Bersambung...
__ADS_1