
Aufan kaget dan duduk separu badan. Hingga tampak darah mengucur dari pinggangnya kembali di balik perban.
"Au...." jerit Aufan nyaring.
Aman, Vena dsn juga Mami oun kaget, mereka segera menghampiri Aufan.
"Bos!"
"Fan!"
Mereka panik saat melihat darah keluar dari pinggang Aufan. Aufan pun juga ikut kaget, Aman segera berlari memanggil perawat. Tak berapa lama perawat pun datang.
"Apa yang terjadi Tuan?" tanya perawat sambil bergegas memeriksa Aufan.
"Aku tidak tahu. Saat Aku kaget bangun dari tidurku, tiba-tiba saja aku merasa sakit dan darah ini pun keluar," sahut Aufan.
"Maaf Tuan, luka Anda belum sembuh. Jadi anda dilarang bergerak terlalu banyak, apalagi sampai bergerak spontan, maka mungkin lukanya akan kembali berdarah," ucap perawat.
Perawat pun melepaskan perban itu dan memeriksa membersihkannya dengan kapas lembut, setelah itu dia kembali menutup dengan perban yang baru.
"Kamu kenapa sih Fan? kamu 'kan tahu, kamu sedang luka, Kenapa harus bangun tergesa-gesek begitu?" tanya Vena.
"Iya Fan, hati-hati kalau bergerak, begini nih jadinya," ucap Mami Aufan juga.
Vena pun kembali melanjutkan makannya, sementara Mami menatap Aufan sejenak.
"Tidak apa-apa Mi, Mami makan aja lagi," ucap Aufan.
Kemudian Aufan mengambil hp-nya menchat Aman yang ada di hadapannya.
"Kau harus menemukannya sampai dapat! ini tanggung jawab mu. Kau Yang Telah membawanya ke Mall itu, aku menyuruhmu untuk menjaganya, kenapa sampai hilang?" chat Aufan.
"Maaf Bos, tadi dia bilang mau ke kamar mandi. Mana mungkin aku mengikutinya sampai dalam kamar mandi Bos!" Aman membela dirinya.
"Kau ini mudah sekali di bodohnya, kau tahu dia, itu wanita yang sangat kuat, tangguh dan tidak mudah dikalahkan. Seharusnya kau tunggu dia di depan kamar toiletnya!" marah Aufan.
"Bos, itu kan toilet wanita Mana mungkin aku masuk ke dalam, hi hi hi," chat Aman.
"Dasar otak udang, jangan ditunggu di dalam, tunggu di depan kamar perempuan. Nanti kan dia juga keluar lewat sana!#!" chat Aufan marah.
"Oh iya ya Bos... aku nggak kepikiran, aku akan mencarinya Kok Bos, tenang saja," chat Aman.
__ADS_1
"Kalau kau tidak menemukan bayiku, yang ada di kandungannya, kau akan terima akibatnya! aku akan melaporkan mu ke polisi," chat Aufan lagi.
"Bagaimana bisa melaporkanku ke polisi? dengan tuduhan teledor menjaga orang yang ingin melarikan diri, jangan-jangan nanti malah Bos yang ditangkap polisi, karena telah menghamili Maura," chat Aman.
Wajah Aman pun terlihat tersenyum. sementara Aifan tampak menatap wajah Aman dan mendelik kesal.
"Awas kalau kau sampai tidak menemukan Maura! Aku akan membu**nuhmu!" chat Aufan sangat,marah.
"Emangnya Bos sangat sayang ya sama Maura? Kenapa Bos menikah sama Ven kalau Bos mencintai Maura?" chat Aman.
"Aman! aku itu bukan mencintainya, tapi ada anak yang ada di dalam rahimnya, kalau kalian Vena belum siap untuk mempunyai anak," jawab Aufan.
"Kalau begitu, carikan saja Vena, terus nikah sama Maura. 'kan Maura tidak mau dengan Bos karena Bos sudah punya istri," chat Aman.
"Aalku tidak tahu kalau Maura hamil waktu itu, kalau saja aku tahu, aku pasti membatalkan pernikahanku dengan Vena, kalau sekarang? mana mungkin aku membatalkannya,apa aku harus mencarikan Vena?" chat ketus Aufan.
"Hai kalian... kenapa kalian seperti itu? kadang tersenyum, kadang mendelik, kadang seperti tampak kesal, emangnya kalian chat-an sama siapa sih?" tanya Mami yang memang dari tadi memperhatikan kedua laki-laki yang ada di depannya itu.
"Nggak Mi, aku hanya chat-an dengan temanku aja, aku tak tahu dia sama siapa, Aku kesel sama si otak undang ini," ucap Aufan sambil menatap Aman.
"Tidak apa Bu Bos, aku hanya chat dengan seseorang yang membuat aku kesel aja," sahut Aman.
Mami pun kembali makan bersama Vena.
"Mau ke mana lagi? Aman kau harusnya di sini saja, nanti kalau kami perlu sesuatu kau bisa kami suruh-suruh," ucap Mami.
"Tidak bisa Mi, Dia ada pekerjaan yang lain, pekerjaan yang harus Dia selesaikan dalam satu hari ini juga, kalau tidak! nyawa Dia akan terancam," ancam Aufan.
"Benarkah? Masa sih? emang pekerjaan apa yang kau berikan padanya? Apa kau ingin membunuh sekretaris itu?" tanya Vena.
"Aku tidak bisa mengatakannya, cepat sana! cepat Aman! pergi sana kau!" titah Aufan.
Aman pun pergi meninggalkan Aufan. Sementara.
***
Maura tampak bernyanyi-nyanyi kecil di kebun saat merangkai beberapa bunga mawar yang akan diantarnya ke rumah seseorang.
Seminggu sudah sejak minggatnya Maura dari mall tersebut, Maura merasa sangat senang, karena sepertinya tidak ada telepon masuk dari nomor baru, apa mungkin Aman dan Aufan lupa untuk menelpon dengan nomor baru. Karena nomor mereka telah Maura bloker.
"Maura, jadi hari ini kamu akan ke mana?" tanya Mira.
__ADS_1
"Aku akan mengantar bunga ini ke rumah Nyonya Irlangga, karena dia yang memesan bunga hari ini untuk menantunya," jawab Maura.
"Oh begitu ya, hati-hati ya, tapi kamu pakai apa ke sana?" tanya Mira.
"Mungkin aku akan naik taksi saja, karena kalau aku pakai sepeda takut kejauhan," ucap Maura lagi.
"Kenapa tidak diantar oleh Paman supir saja?" tanya Mira.
"Aku takut jalanan macet, kalau aku sama paman sopir, atau aku mungkin pakai go-jek saja ya, biar lebih cepat, nanti aku ikat dengan rapi ini, agar tidak terbang kemana-mana," ucap Maura.
"Terserah kaulah, Ayo cepat! Jangan sampai terlambat, nanti takut di marahi pemesan, kita tidak tau pelanggan kita seperti apa," ucap Mira.
Maura segera bergegas merapikan bunga-bunga yang akan diantarkannya ke tempat tujuan, setelah selesai merapikan bunga itu, Maura pun pergi meninggalkan toko.
Dia memanggil ojek online dan pergi ke alamat tersebut .Sesampainya di sebuah rumah mewah yang sangat besar, bak istana, Maura sangat kaget.
"Wow... besar sekali rumah ini, beruntung sekali orang yang ada di dalamnya," gumam Maura.
Kemudian Dia pun menemui paman satpam. Dan mengatakan maksudnya.
"Aku mengantarkan buket ini untuk Nyonya yang ada di rumah ini," ucap Maura.
"Baiklah, Ayo aku antar," ucap satpam.
Maura pun diantar oleh Paman masuk ke dalam, berjalan dari depan pintu ke rumah itu memakan waktu 3 menit lebih, sampai di teras rumah, murah disambut oleh seorang wanita tua namun masih terlihat sangat cantik.
"Kamu mengantarkan bunga untukku?" tanya wanita itu lebih duku.
"Iya Nyonya," jawab Maura sopan.
"Sebentar ya, Ayo masuk dulu! aku akan mengambilkan uangnya," ucap perempuan itu.
Maura pun masuk ke dalam, dia duduk di sebuah sofa yang sangat mewah, dia pun memindai sekeliling rumah, tampak di ujung ada foto pengantin yang terpanjang indah.
Maura pun menatap foto itu, foto yang sepertinya dia mengenal orang itu. foto seorang lelaki tampan dengan seorang perempuan cantik yang sudah di rias dengan make up pengantin.
Namun saat dia menatap ke atas tangga, tampak seorang perempuan menuruni tangga.
"Mami... Oh ada tamu ya?"ucap wanita itu.
Alangkah kagetnya Maura saat menyadari siapa yang ada di hadapannya itu. Maura pun memiringkan wajahnya, karena saat ini Maura memakai topi, agar wajahnya tidak terlalu terlihat. Maura benar benar kaget luar biasa.
__ADS_1
Bersambung...