Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Tidak Cuma-cuma


__ADS_3

Maura pun akhirnya di bawa ke rumah sakit, Papa Aufan yang menyetir langsung, sementara Aufan memegangi Maura sepanjang jalan. Sesekali Aufan menatap wajah cantik Maura yang tidak mengenakan mike up itu, cantik alami.


"Aufan, apa kau benar benar tidak ingat siapa Maura?" tanya Sang Papa.


"Tidak Pa, oh maksudku, kadang sih ada remang remang gitu, tapi tidak begitu jelas," sahut Aufan.


"Remang remang gimana sih maksudnya? Kamu suka jajan ya? Kok remang remang?" tanya Papanya.


"Nggak tau Pa, aku nggak inget. Aku kadang lihat wajah Maura di bawah ku, itu cuma sebentar aja," ucap Aufan.


"Berarti benar kau dulu membelinya dari teman Maura," ucap sang Ayah.


"Membelinya? Siapa yang bilang?" heran Aufan.


"Dari Aman, emang kau tidak pernah bertemu Aman lagi?" tanya Papanya.


"Aman? Siapa lagi itu?" tanyanya makin bingung.


"Kau ini kenapa sih? ingatanmu sangat buruk, Aman itu orang kepercayaan mu tau!" sahut Irlangga kesal.


"Aman... Aman... Aku memang merasa sangat kenal orang itu, tapi aku lupa wajahnya," sahut Aufan lagi.


"Apa kau masih minum obatmu?" tanya Papa.


"Iya Pa, aku terus meminum obatku, karena Vena yang slalu perhatian padaku," ucapnya.


"Tapi semakin kau konsumsi obatmu, kau malah semakin pelupa Fan, ada apa denganmu?" tanya Irlangga lagi.


"Mana aku tau?" sahutnya santai.


Mereka pun sampai di Klinik. Segera Aufan membawa Maura dan menggendongnya menuju klinik. Kilasan bayangan Maura kembali muncul, untung saja dia bisa menahan sakit kepalanya. Sampai Maura berada di branker Klinik. Maura di basa ke Klinik karena lebih dekat.

__ADS_1


"Aufan, kau kenapa?" tanya Irlangga.


"Aku merasa pusing Pa, aku mau ke mobil saja berbaring," ucap Aufan.


Akhirnya Aufan pun bejalan menuju mobil dan beristirahat. Sementara Irlangga ayah Aufan mengurus Maura.


"Bagaimana dengan cucu saya Bu?" tanya Irlangga pada bu bidan.


"Alhamdulillah baik baik saja Tuan, dan bayinya sehat, mungkin dia kelelahan, dan kayaknya dia belum makan, perutnya kosong," ucap Bu Bidan.


Mungkin saat memeriksa bayi Maura, terdengar perut Maura keroncongan, karena kan dia belum makan sejak siang, karena saat makan tadi nasinya tumpah oleh Vena.


"Oh begitu ya Bu, terima kasih banyak," ucap Irlangga.


Akhirnya malam ini Irlangga mau mengorbankan malamnya tidur di Klinik demi menjaga calon cucunya yang ada di perut Maura.


Orang yang sangat berpengaruh itu rela tidur di branker pasien yang kosong di sebrang Maura. Sementara Aufan tidur di dalam mobil. Karena Aufan pun dilarang pulang oleh Papanya Irlangga.


"Maura sayang, kau sudah bangun, syukurlah," ucap Irlangga yang terbangun saat mendengar suara Maura.


"Papa? Mengapa aku ada di sini?" tanya Maura.


"Tadi kau kami temukan pingsan, mungkin saat kau istirahat tadi kau pingsan, apa kau tidak makan? Kata Bu Bidan, perutmu kosong," ucap Irlangga.


"Oh, iya Pa, aku lupa makan dan ketiduran," ucapnya berbohong.


"Baiklah, kau istirahat saja, kalau sudah sehat, kita pulang, Aufan juga ada di luar," ucap Irlangga menghibur.


"Aufan juga menjagaku? Apakah dia memperhatikanku? Oh tuhan, jangan biarkan hati ini terlalu berharap banyak ladanya," batin Maura.


***

__ADS_1


Pagi menjelang, Maura sudah tampak sigar bugar dan kembali ke istana Irlangga.


"Apa kau sudah merasa sehat Maura?" tanya Mami yang sok baik.


"Iya Mi," sahut Maura singkat.


"Bi tolong kau awakan makanan ke kamar Maura!" titah Mami.


"Iya Nya," sahut Bibi.


Mami pun pergi meninggalkan Maura.


Maura berbaring kembali di ranjangnya.


Ceklek


Pintu di buka, Maura terkejut saat yang datang bukanlah Bibi, melainkan Vena.


"Kenapa bangun? Santai saja," ucap Vena.


Vena pun berjalan mendekati Maura, dengan membawakan makan siang Maura.


"Kenala kau repot repot membawakan makananku Nona Vena?" tanya Maura merasa tidak enak.


"Heh... Kau kira ini ku lakukan secara cuma cuma?" ucap ketusnya.


"Ha???"


Maura bingung....


"Tidak ada yang gratis di dunia ini," batin Vena.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2