
Aufan sudah sejajar dengan mobil Angkot yang ditumpangi Maura, kini Aufan memukul-mukul kaca Angkot sambil mengendarai motornya. Bahkan kadang setirnya oleng ke tengah jalan dan di klakson banyak orang, yang ada di jalan sebelahnya.
"Maura tunggu! berhenti Maura! Hei kau jangan pergi membawa anakku! berhenti Maura!" panik Aufan.
Maura semakin takut bahkan kini tangannya pun terasa dingin, keringat sebesar biji jagung pun mengalir di dahinya.
"Kau tidak usah takut Nak! kalau lelaki itu berani memukulmu, maka ibu akan pasang badan untuk melindungi mu," ucap Bu Susi.
"Jadi kau sedang hamil anaknya juga Nduk?" tanya Ibu yang lain.
"Iya, Bu," sahut Maura.
"Kurang ajar dia, beraninya menyakiti perempuan yang sedang hamil, apakah Dia tidak tahu kalau perempuan yang sedang hamil itu, derajatnya lebih tinggi dari seorang laki-laki," cerca Bu Susi.
Bu Susi merasa emosi sudah setengah jam sopir angkot melewati beberapa penumpang yang ingin masuk angkotnya, gara gara Aufan masih mengikuti mereka.
Kini Aufan benar-benar terlihat nekat dia sudah berada di sisi kanan sopir angkot dan akan menyalip mobil angkot untuk mencegatnya namun
Drut Drut Drut
Sepertinya motor Aufan mogok, entah kenapa, Maura pun terlihat lega saat motor Aufan berhenti di tengah jalan.
"Ada apa dengan motor ini?" tanya Aufan sambil turun dan membawa motor itu ke tepi jalan di sisi kiri.
"Mampus Lu suami luknut," ucap Ibu Susi saat melihat Aufan mogok di tengah jalan.
Maura pun tersenyum karena kini dia aman dari kejaran Aufan. Aufan pun menepi.
"Aduh kenapa perutku terasa sakit?" ucap Aufan sbil memegangi perutnya.
Kemudian Aufan menstandarkan motornya dan memeriksa bensinnya.
"Yah bensinnya abis, mana aku tidak bawa uang, HP juga ketinggalan," gumamnya lagi.
Jangankan HP, uang saja tidak di bawa, dan sekarang dia hanya memakai baju kaos oblong dan celana selutut.
"Dasar motor tak berguna," Aufan pun memukul kasar stang motor itu, hingga tangannya merasa sakit.
"Kepa***rat," umpat nya lagi.
Aufan pun menggiring motor itu mendekati sebuah jembatan dan...
Byurrrr
Aufan mendorong motor itu masuk ke dalam air, yang ada di bawah jembatan tersebut.
"Rasain Loe, mempersulit gue aja Loe!" ketus Aufan terus mengumpat.
Semua orang yang melihat Aufan pun bingung, karena Aufan melempar motornya ke dalam air bawah jembatan.
__ADS_1
"Tuan... Kenapa kau buang motor itu Tuan? Kenapa tidak kau berikan saja kepadaku?" ucap seorang pemulung yang sedang membawa gerobaknya.
"Tuh ambil saja sana! Aku tidak memerlukannya," ucap Aufan.
"Benarkah itu? Apakah itu motormu? Atau motoe curian?" tanya Paman pemulung.
"Astaga... Itu 'kan motoe security gue, ah biarlah, ammbil saja! aku berikan itu motor padamu, sana!" ketus Aufan.
Aufan pun berjalan gontai . Kembali menuju rumahnya, namun dia baru sadar kalau dia sudah jauh meninggalkan rumahnya.
"Bus**yeeet. Bagaimana aku pulang? aku juga tidak punya uang," ucapnya.
Dia pun mendekati seorang pemotor yang sedang singgah di tepi jalan.
"Pak... bisakah kau antar aku ke rumahku?" ucap Aufan.
"Kau mau pulang ke mana Tuan?" tanya pemotor.
"Ke arah sana Pak, tapi aku bayarnya di rumah ya, karena sekarang aku lupa bawa dompet," ucap Aufan.
Lelaki itu pun menatap Aufan dari atas hingga bawah.
"Ah Bilang saja mau gratisan, ogah aku ada urusan penting," ucap lelaki.
Lelaki itu pun pergi meninggalkan Aufan. Sementara Aufan tampak kesal dan menggerutu sendiri.
Sesaat kemudian, Aufan pun kembali berjalan menuju rumahnya. Namun matanya tersa berkunang-kunang. Aufan pun memegangi perutnya yang terasa nyeri.
"Darah?"
Aufan meraba pinggangnya yang bekas Operasi mengeluarkan darah segar. Makin lama matanya Semakin berkunang kunang dan akhirnya.
Bruk...
Aufan terjatuh di sisi jalan sangat keras, hingga kepalanya pun membentur trotoar jalan.
Orang orang yang ada di sana pun segera mendekati Aufan dan menolongnya.
"Cepat bawa dia ke mobilku," ucap seorang laki laki
Aufan pun di masukkan ke dalam mobil. Dan segera di bawa ke rumah sakit. Sepanjang jalan Aufan terus mengeluarkan darah segar. Mungkin karena goncangan saat mengejar Maura tadi, hingga membuat jahitan di pinggangnya kembali berdarah.
Sesampainya di rumah sakit. Aufan langsung ditangani oleh para perawat yang jaga. Lelaki yang membawa Aufan tadi pun meraba saku celana Aufan, untuk mencari identitas diri Aufan, namun dia tidak menemukan apapun di tubuh Aufan.
Aufan yang terlihat pingsan pun tidak bisa ditanyai, kemudian dia berinisiatif untuk memfoto Aufan dan mengirimnya di sosmed. Dia kirim foto Aufan di grop BPK kota setempat.
"Mudahan ada keluarganya yang melihat berita ini," ucap lelaki itu.
"Maaf Pak. Apakah anda keluarganya? tanya perawat pada lelaki yang membawa Aufan.
__ADS_1
"Tidak Bu, aku hanya orang yang menolongnya di jalan, saat ini aku belum tahu siapa keluarganya, karena dia tidak membawa identitas apapun," ucap lelaki itu.
"Baiklah, kami hanya ingin menyampaikan tentang pemeriksaan yang sudah kami ketahui, dia mengalami cedera otak ringan, kemungkinan ada dampak negatif yang akan terjadi kepada perubahan dirinya," ucap perawat.
"Benarkah? Aku masih mencari keluarganya, dan sudah mengirim informasi tentang lelaki ini, mudahan saja ada yang mengenali dia di grup Facebookku," ucapnya.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi," ucap perawat
Perawat itu pun pergi. Sementara lelaki itu masih setia menunggu Aufan bangun.
Maura yang sudah sampai di toko bunga merasa deg-degan, dan rasa tidak karuan, Dia pun ke ruang istirahatnya dan beristirahat.
"Maura... Kenapa kau tampak gugup, kau juga terlihat capek, dan pucat," ucap Mira.
"Aku tadi bertemu dengan Aifan, saat aku mengantar bunga, ternyata Ibunya yang memesan, dia mengejar ku sepanjang jalan, Aku sangat takut, untung saja aku bisa lolos," ucap Maura.
"Kenapa kau tidak ingin bertemu dengannya? Dia itu Ayah Dari Anakmu Maura, dia ingin bertanggung jawab padamu," ucap Mira.
"Dia ingin bertanggung jawab, atau ingin mengambil anakku saja?" tanya Maura.
"Terserah kau saja lah Mau, tsk percaya di bilangin," ucap Mira.
Maura pun bersandar di dinding, dan mengambil handphonenya. Kemudian membuka sosmednya.
"Astaga!Mbak Mira lihat! apa aku tidak salah lihat! apakah ini Aufan? Lihatlah!"
Maura sangat syok ketika melihat lelaki yang sedang terbaring di atas kasur, terlihat kaos oblongnya berlumuran darah.
"Benar, dia Aufan, apa yang terjadi dengannya?" tanya Mira.
"Tunggu! lihat, ada seorang lelaki menemukan lelaki ini sedang terbaring di jalan, berarti ini saat dia mengejar ku tadi, dia pingsan?" ucap Maura lagi.
"Cepat! kau harus ke sana! kau harus menolongnya, Ini semua karena kau, Apa kau ingin Ayah Dari Anakmu itu meninggal?" tanya Mira mendramalisir.
Karena sebenarnya Mira ingin Maura memiliki Aufan sepenuhnya, dan Mira berharap Aufan bisa menceraikan istri yang telah dinikahinya itu, dan membahagiakan Maura.
"Baiklah, aku akan ke sana segera, dia ternyata pergi keluar tidak membawa apa-apa, identitas diri juga tidak ada," ucap Maura.
"Ya kan mengejarmu, mana sempat dia membawa identitas, katanya kau tadi kan ke rumah dia, dan saat di rumah dia kau bertemu dengannya, lalu dia mengejar mu. Tentu saja dia tidak membawa apa-apa," ucap Mira.
"Baiklah, aku pergi dulu," ucap Maura.
Maura pun pergi menuju rumah sakit untuk menemui Aufan.
Bersambung...
Yuk mampir di karya udah tamat
__ADS_1