Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Maura Kembali Minggat


__ADS_3

Sementara di Mall. Aman tampak gelisah menunggu kedatangan Maura, sudah lebih 20 menit dia menunggu, namun Maura belum juga keluar dari kamar kecil. Dia pun berinisiatif untuk menelpon nomor Maura. Namun tidak aktif, atau sepertinya nomornya telah diblokir oleh Maura.


"Nona Maura, sebenarnya kau ke mana sih? celaka! jangan-jangan dia kabur?"


Aman kemudian menelpon nomor Aufan. Tak berapa lama, ada seseorang yang mengangkat.


"Hello Aman, Ada apa?" ternyata Mami Aufan mengangkat.


"Bu Bos... maaf, Tuan Aufan mana ya?" tanya Aman.


"Apa kau tidak tahu? Tuan mu ini sekarang sedang kritis di rumah sakit, kau ada di mana sekarang? Cepat kemari!" titah Mami Aufan.


"Astagfirullah, Benarkah? Baiklah, tolong Bu Bos kirim alamatnya, Aku akan segera ke sana," ucap Aman panik.


Kabar itu membuat Aman melupakan Maura, yang terpenting saat ini dia harus menemui bosnya Aufan. Setelah dia mendapatkan alamat Rumah Sakit, Aman pun pergi meninggalkan Mall tersebut.


"Ada apa dengan Bos? kenapa dia sampai kritis?" gerutu Aman.


Aman pun melajukan mobilnya dengan sangat kencang, tak berapa lama, Aman pun sudah sampai di rumah sakit yang dimaksud oleh Mami.


"Assalamualaikum, Bu Bos, Bagaimana keadaan Tuan?" tanya Aman khawatir.


"Waalaikumsalam(ketus) kau ini memangnya di gajih untuk apa? Kenapa kau terlambat? Bos samlai begini kau ada di mana? saat Aufan sedang ditusuk kau ada di mana?" Mami ketus dan sangat marah.


"Ditusuk? Siapa yang menusuk Aufan, Bu Bos tanya Aman.


" Jadi kau tidak mengikuti Aufan saat kejadian? Emangnya kami menggaji mu itu untuk apa? Ala kerjamu cuma kelayapan?" ketus Mami lagi makin emosi.


"Maaf Bu bos, saat kejadian, saat Aufan pergi, aku sudah diberinya tugas yang lain, Bu Bos, jadi aku tidak tahu kalau Aufan kecelakaan," ucap Aman merasa bersalah.


"Sudahlah, sekarang aku lapar, carikan aku makanan," titah Mami.


"Baik Bu Bos," sahut Aman.


"Aku juga laper, belikan aku juga!" ucap Vena.


"Baik Nona," sajut Aman.


"Belikan aku nasi padang," ucsp Vena lahi.


"Iya Nona."


Aman pun pergi meninggalkan Rumah Sakit. Dengan langkah cepat dan tergesak-gesak.


"Sebenarnya, mereka itu berduka nggak sih? Tuan Bos sedang sakit, Kenapa mereka memikirkan makanan?" lirih hati Aman.


***

__ADS_1


Sementara terlihat di kebun belakang, tepatnya di kebun bunga milik Ibrahim, tampak Maura memetik beberapa mawar yang sudah mulai sedikit mekar


"Maura... mungkin itu sudah cukup, Ayo sebaiknya kamu istirahat dulu, kamu duluan aja pulang ke rumah, nanti aku menyusul," ucap Mira.


"Ya Mbak, maaf ya Mbak, aku tidak bisa lagi membantu mbak jaga toko, aku takut lelaki itu melihatku lagi, jadi aku hanya bisa bekerja di kebun ini, atau di belakang merangkai bunga dan lain-lain," ucap Maura.


"Tidak apa-apa Maura, tapi apakah kamu yakin? aku lihat lelaki itu sangat menyayangimu. Sepertinya dia juga jatuh cinta padamu," ucap Mira.


"Mbak bisa aja, paling dia cuma pengen anaknya doang, terus nanti kalau aku sudah lahiran diambil anakku, lah aku dapat apa? mending aku kabur aja dari sekarang. Lagian aku enggak mau disebut pela*kor," ucsp Maura.


"Tapi Maura... aku lihat kok, ketulusan dari matanya Aufan, Dia terlihat sangat Tulus mengharapkan mu ada di sisinya, aku lihat saat aku pura-pura tidur, dia menatapmu begitu intens, dia juga membelai perutmu, dan aku juga melihat kok, dia menge*cup kaningmu," ucap Mira.


"Apa? berani sekali dia!" ucap Maura merasa kesal.


"Apa kamu yakin, ingin terus berlari darinya? dia 'kan orang yang sangat kaya, setidaknya kau bisa mendapat sebagian harta dia, untuk menghidupi anaknya yang ada di dalam perutmu," ucap Mira.


"Aku nggak mau Mbak, dibilang matre. Cukup aku sudah menderita selama ini, aku sudah dipermainkannya berulang kali, kepe*rawanan ku pun bisa dia beli, jadi aku tidak akan mengorbankan jiwaku yang lain, apalagi harus mengorbankan anakku, aku akan berusaha menghidupinya dengan uangku sendiri," ucap Maura.


"Terserah lu lah, kalau begitu udah ya, aku mau ke depan," icap Mira.


Kemudian Maura pun mengambil tas dan pergi mengayuh sepedanya, lewat jalan pintas untuk menuju rumah yang dekat dengan restoran.


Sementara di rumah sakit. Nampak Vena masih duduk di samping Aufan. Entah apa yang dia pikirkan, dia terus aja berpura-pura sedih, dia juga membaringkan kepalanya di atas ranjang itu seharian semalaman, hingga Dia lun tertidur.


Sudah 1 hari penuh Aufan pingsan, namun dia belum sadarkan diri, malam tepat jam 01.00 malam...


Untung saat itu Vena sudah tertidur. walaupun dalam posisi duduk, namun sang Mami mendengar dengan jelas.


"Maura? siapa dia Maura? Kenapa dia Memanggil nama Maura terus? apakah kira-kira Aman tahu sesuatu tentang Maura?" gumamnya.


"Baiklah aku akan menanyakannya nanti sama Aman," ucap Mami.


Kemudian Mami pun mencolek-colek Aufan agar Aufan terbangun. Mami takut kalau Vena terbangun, dan membuat Vena cemburu. Dikarenakan racau Aifan yang memanggil nama wanita lain.


"Maura..." lirik Aufan lagi.


"Fan... Kamu sudah bangun Nak?" tanya Mami.


Aufan perlahan seperti membuka ingin matanya, namun selerti kesulitan.


"Mami.. Maura mana Mi?" tanyanya lagi.


Aufan belum terbangun 100%.


"Fan, kamu manggil Siapa sih? ini istrimu Vena loh! bukan Maura," ucap Mami.


Karena mendengar sedikit berisik, Vena pun terbangun.

__ADS_1


"Mami Aufan sudah bangun?" tanya Vena.


Vena tampak bahagia. Vena pun membelai tangan Aufan dan menggenggam.


"Fan... Kamu sudah bangun 'kan? syukurlah. Aku sangat khawatir," ucapannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Aufan.


"Kamu tidak ingat apa yang terjadi siang tadi?" tanya Mami.


"Siang tadi?(Aufan terlihat bingung) Bukankah aku ke perusahaan?" tanya Aufan.


"Iya... kau bertengkar dengan sekretaris 'kan?" tanya Mami.


"Oh iya.. benar... sekarang di mana Sekretaris itu?" tanya Aufan.


Tampak aufan sigar bugar dan bersemangat untuk menghajar. dia pun mencoba duduk, namun dia merasa sakit dipinggalnya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya bingung.


"Sayang, jangan bergerak," ucap Vena.


"Kamu sedang terluka Fan, itu mengenai ginjal mu, jadi dokter terpaksa mengoperasinya, dan menjahit organ dalammu," ucap Mami.


"Iya Sayang, kamu harus sabar ya, aku akan setia menunggumu," ucap Vena terdengar manis.


"Kenapa juga laki-laki ini bangun? padahal udah bagus dia tidak sadarkan diri, atau biarkan saja dia amnesia sekalian," lirih hati Vena.


"Eh... Aman mana Mi?" tanyanya penasaran, Dia belum ingat, kalau Aman sedang menemani Maura kemaren.


"Ada. Lagi nyari in Mami makan, entah ke mana dia tersesat, udah sejam lebih kok belum datang," ketus Maminya.


"Assalamualaikum."


Aman datang dengan membawa makanan yang di pesan.


"Tuan Bos sudah bangun?" Aman terlihat senang.


Vena dan Mami segera mengambil makanan yang di bawa Aman, dan duduk di pojokan kamar.


Aman mendekati Aufan.


"Bis, maaf, aku kehilangan Maura lagi," bisik Aman.


"Apa!?"


Aufan kaget dan duduk separu badan. Hingga tampak darah mengucur dari pinggangnya kembali di balik perban.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2