
Ruang keluarga Itu tampak hening. Aufan maupun Vena masih tetap diam menunggu Papanya untuk berbicara terlebih dahulu. Sementara Pak Irlangga, dia hanya menatap Vena dan Aufan bergantian, entah apa yang ingin dia katakan, namun ..., yang jelas saat ini dia hanya menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan tajam.
"Pah, sebenarnya apa yang ingin Papa sampaikan kepada kami?" tanya Aufan.
Karena sangat penasaran, akhirnya Aufan pun mengeluarkan suaranya. Dan Aufan juga Vena menatap heran kepada Papanya itu.
"Aku ingin tahu kebenaran, ke mana Maura pergi sebenarnya?" tanya Pa Irlangga.
"Mana kami tahu Pah! memang keterlaluan wanita itu! sudah diberi makan enak, tempat mewah, malah kabur begitu saja!" ketus Vena.
"Apakah kalian telah mengusirnya?" tanya Pak Irlangga.
"Apa? Mengusir bagaimana? Wong dia saja selalu di kamar. Bagaimana kami mau mengusirnya?" ucap Aufan.
"Tapi Maura sebelumnya tidak ada masalah, Bahkan dia baik-baik saja, dan terlihat senang tinggal di sini, tapi kenapa tiba-tiba dia kabur?" ucap Pa Irlangga lagi.
"Oh ..., iya benar Pah, mungkin saja Maura yang telah membakar dapur kita, lalu dia pergi meninggalkan rumah ini, mungkin saja ada barang berharga kita yang dia ambil," ucap Vena lagi.
Sementara Pak Irlangga, hanya bisa menggerutu di dalam hatinya.
"Dasar wanita penjilat ini, dia begitu pandai bersilat lidah," batin Pak Erlangga.
"Iya Pah, benar, Mungkin saja dia yang telah membakar dapur kita," timpal Aufan lagi.
Pak Irlangga pun kemudian menatap tajam ke arah Aufan.
"Bahkan anak badak ini pun telah menjadi budak cintanya," batin Pak Irlangga lagi.
"Pah, jadi Papa hanya ingin menanyakan ini? menyuruh kami berkumpul di sini," ucap Aufan lagi.
"Tidak, ada hal lain yang ingin aku sampaikan, kepada kalian," ucap Pa Irlangga.
"Hal lain? hal lain apa itu?" tanya Aufan.
"Apa kamu membeli sebuah Villa di luar kota?" tanya Pak Irlangga.
"Iya Pah, Aku membelinya, aku belum sempat ngomong sama papa, aku memberikan hadiah itu untuk hadiah pernikahan kami," ucapnya.
"Apa boleh aku melihat surat-suratnya?" ucap Pa Irlangga lagi.
"Untuk apa Pah? semua itu sudah kuberikan pada Vena," ucap Aufan.
"Tidak masalah 'kan kalau aku melihatnya sebentar?" desaknya lagi.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sebentar."
Aufan pun kembali ke kamarnya dan mengambil surat-surat yang ada di dalam lemari Vena. Tak nerapa lama, Aufan pun kembali ke ruangan tersebut dengan membawa surat sueat Villa.
"Ni Pa."
Aufan menyerahkan berkas itu kepada Pak Irlangga, kemudian Pak Irlangga memasukkan berkas itu ke dalam tas miliknya.
"Lho? Pa? Kenapa papa ambil?"tanya Aufan.
Vena pun juga menatap tajam ke arah tas mertuanya, karena berkas miliknya sudah dimasukkan Pak Irlangga ke dalamnya.
"Aku hanya menyimpannya sebentar, tunggulah Aufan! kau sabar dulu, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian," ucap pa Irlangga.
"Emangnya seserius apa sih Pah? sampai berkumpul begini, lagian Mami juga lagi sakit, apakah ini masalah Mami?" tanya Aufan.
"Tidak, ini masalah kalian berdua. Dan ini sangat serius ," ucap pak Irlangga.
"Kalau begitu ..., katakan saja Pa! karena hari ini aku ada acara," ucap Aufan.
"Baiklah, Mungkin setelah kau tahu ini, acara,mu itu akan batal," kata Irlangga.
"Maksud Papa apaan sih?"
"Oke, kita lihat saja nanti, tapi aku mau tanya sekali lagi, apa benar kalian tidak tahu di mana Maira sekarang?" tanya Pak Irlangga.
"Harus berapa kali lagi aku katakan, aku tidak tahu pak, begitu juga Vena, dia kan kemaren habis bertemu teman-temannya, mana mungkin mengurusi Maura," ucap Aufan.
"Iya Pah, selama ini kami baik-baik saja kok di sini sama dia," sahut Vena.
"Iya Pah Bahkan aku tidak ada bertemu dengan Maura selama di rumah ini," sahut Aufan juga.
"Oke ..., Coba lihat ke dinding sana, dan aku ingin kalian berdua melihat semua ini dengan baik. Jangan sampai terlewatkan," ucap airlangga.
"Emangnya apaan sih, Pah? bikin penasaran aja," tanya Aifan.
Aufan pun memasang badan, menatap layar dinding di ruang keluarga itu, sementara Vena juga Menatap layar itu dengan setengah hati, karena dia merasa mertuanya itu mengambil waktu istirahat paginya, karena kan mereka terbiasa bangun jam 10.00 pagi,dan sekarang baru jam 09.00 pagi, tentu saja hati Ven merasa dongko.
Sementara Bibi dan juga Laman satpam memang dilarang masuk ke ruangan keluarga. Pintu keluarga pun ditutup, dan dikunci.
Hitungan detik 1, 2, sampai 10 layar pun hidup, dari jauh, belakangnya memang tersorot sangat jauh, dua pasangan muda-mudi sedang melakukan hubungan badan.
"Oh, ya tuhaaan ..., apa apaan ini?" ucap Aufan meremehkan.
__ADS_1
Sementara Vena, dia sudah menyadari kalau itu adalah dirinya, dia pun melotot dan memperbaiki duduknya.
"Aufan, kau tunggu saja lah, lihat saja video itu sampai selesai Apakah bisa tenang setelah kau lihat dengan baik, Aku ingin kau mengetahui siapa yang ada di dalam video itu," ucap Irlangga.
Sementara Vena pun mulai merangkai kata-kata, untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata yang mungkin bisa meluluhkan hati Aufan.
Kembali Aufan Menatap layar yang ada di dinding tersebut, semakin dekat kemudian karena mereka sedang tukar posisi, tentu saja kini wajah Vena lah yang nampak di layar monitor.
"Hah??? Vena??? apa itu kau? Apa aku tidak salah liat?itu benar kau kan?"
Aufan syok dan langsung menatap Vena. Matanya melotot dan berulang kali menatap layar dan bergantian menatap wajah istrinya itu.
"Aufan ..., dia ... Tolong percaya pada ku, aku akan menjelaskannya, itu bukan aku Aufan, itu pasti telah diedit, tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu, papa, tolong jelaskan apa ini?" Vena pura pura lali.
"Papa, dari mana Papa dapat Vidio seperti ini?" tanya Aufan.
"Kau tanyakan saja pada istrimu itu? Aku tidak tahu apa apa, aku hanya mendapatkan video ini dari seseorang," ucap Irlangga.
"Vena... !" bentak Aufan.
"Coba kau lihat ruangan apa itu?" ucap Irlangga.
Aufan pun menatap ruangan-ruangan yang ada disampingnya Vena.
"Bukankah ini ruangan Villa kita? Vena, Villa yang baru kita beli itu kan? Ayo jawab!" bentak Aufan.
"Tidak, aku tidak melakukannya, sungguh!"
Vena tetap tidak mau mengaku
"Dengan siapa kau ke sana? Ayo jawab!" bentak Aufan lagi.
"Tidak, itu bukan aku, pasti ada orang lain yang mengedit wajahku, aku mohon percaya padaku! Aku sangat mencintaimu Fan, percayalah!" rengeknya.
"Vena, kau tidak bisa lagi berbohong, katakan saja sejujurnya, sama Aufan, biar kalian berpisah secara baik-baik, dan kau akan mendapatkan sebagian dari harta yang dimiliki Aufan," ucap Irlangga.
"Cih, aku tidak sudi memberikannya apa pun," ketus Aufan.
Aufan berlari meninggalkan ruangan itu, sementara Vena mengejarnya dan menggapai gapai pergelangan Aufan.
"Satu sudah beres," gumam Irlangga sambil tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1