Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Di Lamar


__ADS_3

kalau berkenan, kasih nilai yang ini ya. Yang di lingkari. Bantu Author buat naikin popularitas Tekan aja itu kasih bintang 5🥰 terima kasih.



Maura pun bangun dari duduknya, dan menatap sekilas kedatangan Ibrahim, Dia tampak tersenyum ke arah Maura, namun Maura tidak berani terlalu menatap lelaki itu, karena pesona lelaki itu sangat menggoda, kalau dipandang oleh seorang wanita seperti Maura. Ibrahim adalah lelaki yang sangat baik, dia juga adalah anak yang sholeh, dia tidak pernah bermain-main dengan wanita manapun.


Walaupun dia pernah mencintai seseorang sebelum dia sukses, namun cintanya ditolak dengan alasan orang tua sang wanita tidak merestui mereka, karena saat itu Ibrahim hanya seorang penjual bunga keliling.


"Tuan Ibrahim? Silahkan duduk!" sambut Maura.


Ibrahim pun duduk di teras rumah baru Maura.


"Terima kasih Maura," ucap Ibrahim.


"Mbak Alin. Tolong bawakan air kemari!" pinta Maura.


"Baik, Nona."


Si kembar tampak duduk dan bermain dengan mainannya yang bergelantungan di sepeda dorongnya. Sekarang si gambar sudah berusia 3 bulan, mereka sangat lucu dan imut.


"Maura. Bolehkah aku berbicara empat mata denganmu?" tanya Ibrahim.


"Ada apa Tuan? kok seperti serius sekali?" ucap Maura.


"Maura ..., sebenarnya ...,"


Ibrahim terdiam dan tampak gugup. Sepertinya Maura sudah menembak apa yang akan dikatakan Ibrahim padanya, karena selama 3 bulan ini pun, Ibrahim sering datang ke panti asuhan, namun kadang Maura menolak untuk bertemu dengan Ibrahim. Dengan alasan, anaknya mau bobo lah, anaknya mau mandi lah, atau anaknya sedang BAB.


"Tuan, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya Maura. Lagi.

__ADS_1


"Bukankah hari ini sudah gelap iddahmu selama 3 bulan 10 hari?" tanya Ibrahim pelan.


"Apakah Tuan menghitungnya? Aku malah tidak tahu?" ucap Maura, karena memang Maura tidak pernah menghitung, sudah berapa lama dia diceraikan oleh Aufan.


"Sepertinya memang hari ini sudah mencapai 3 bulan 10 hari, Maura," ucap Ibrahim lagi.


"Aku tidak pernah menghitungnya, Tuan," ucap Maura mengulangi lagi.


"Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?" tanya Ibrahim.


Tampak Ibrahim seperti gugup dan salah tingkah. Dia juga seperti tidak karuan rasa. Duduknya pun berubah-ubah posisi karena merasa gugup.


"Memangnya apa yang ingin Tuan katakan Padaku?" ucap Maura.


"Aku ..., sebenarnya ..., ingin melamar mu, apa pakah kau bersedia menjadi teman dalam hidup ku?" tanya Ibrahim.


Seketika wajah Maura pun bersemu merah karena merasa tersipu malu dan merona. Hatinya tidak bisa di pungkiri, dia berbunga-bunga karena telah di cintai diam-diam oleh lelaki yang sangat baik dan tampan, kalau kaya itu adalah bonus baginya.


"Tuan ..., tapi bukankah Tuan tahu aku ini wanita seperti apa? bahkan Tuan juga tahu kalau aku ini adalah wanita hin*a, bahkan aku juga hamil di luar n**ikah," ucap Maura, tanpa menatap Ibrahim.


"Maura, semua itu adalah masa lalu mu. Aku ingin kita menghadapi masa depan, bukan untuk mengingat masa lalu. Masa lalu itu harus kita bakar, jangan cuma tahun baruan saja bakar-bakar jagung, masa lalu pun juga harus dibakar, Maura!" ucap Ibrahim.


"Tuan, serius ah, apaan sih bilang-bilang tahun baru?" ucap Maura heran.


"Tapi bener kan? kita harus mengubur Masa lalu itu? karena masa depan itu lebih indah dari masa lalu," ucap Ibrahim lagi.


"Aku harus memikirkannya, Tuan, karena aku tidak bisa langsung menerimanya ," ucap Maura.


"Aku akan menunggumu, tapi sebelum kau menjawab pertanyaan ku, kau tidak boleh menerima orang lain! kau tidak boleh menggantung ku, nanti aku tercekik, Maura," ucap Ibrahim lagi sambil bercanda, agar tidak terlalu kaku.

__ADS_1


"Tuan, aneh ah," ucap Maura sambil tersenyum malu. Namun Maura tidak menatap wajah Ibrahim. Dia slalu berusaha menghindari tatapan mata itu.


Sebenarnya Maura sempat mendengar perkataan terakhir Ibrahim, sehingga dia pun tersenyum simpul karena merasa geli, mendengar perkataan Ibrahim.


"Baiklah, aku akan menunggumu, Ingat! masa lalu itu harus kau bakar seperti jagung di malam tahun baru, lalu kau buang kulitnya, jangan ikut ditelan!"


"Iya, saya akan pikirkan dulu, Tuan."


Ibrahim pun pergi meninggalkan Panti asuhan dengan senyum geli, dia merasa lucu, bagaimana bisa dia mengatakan masa lalu itu harus di bakar.


Bersambung...


Selamat tahun baru Masehi 2023.


Nggak usah ngerayain ya!😁 kalau bakar2 jagung sama keluarga, anggap saja lagi liburan semester.


Baca juga


1.Wanita Bercadar Biru


2.Cinta Dalam Do'a


3.Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut keperawananku.



Mendadak jodoh.


__ADS_1


Selamat yang menang pulsa ya🥰



__ADS_2