
Maura Ibrahim dan juga Ibu mertuanya sudah selesai makan. Ibrahim sengaja tidak mau berlama-lama di meja makan itu, karena dia tahu mungkin saja ibunya akan menyakiti hati Maura,lagi.
"Ibu, aku berangkat kerja dulu ya, soalnya hari ini ada meeting," ucap Ibrahim.
"Iya sayang, hati-hati ya?" ucap sang mama.
Maura pun mengiringi Ibrahim yang berjalan meninggalkan dapur. Ketika Ibrahim berhenti mendadak di saat berada di ruang tamu.
Bruk.
"Auuuu," jerit Maura kaget.
"Sa_yang ..., (panggil mesra Ibrahim) kita ke kamar sebentar," ucap Ibrahim.
Ibrahim pun menggandeng Maura mengajak istrinya ke kamar, sengaja Ibrahim menggandeng Maura, saat sudah di luar dapur, dia menjaga perasaan ibunya yang sering cemburu.
Mereka menemui Rayyan dan juga Raihan yang masih tertidur di ranjang mungil mereka. saat malam Maira menjaga sendiri ke dua bayi kembarnya tersebut. Sementara pembantu pembantunya tidur di ruang tamu.
"Sayang, apakah hari ini kmu ada kegiatan?" tanya Ibrahim.
"Tidak Mas, besok baru ada kegiatan Majelis Taklim, di desa sebelah. Kebetulan aku diundang sebagai donatur."
Sekarang Maura sudah aktif di pengajian-pengajian di sekeliling kampungnya. Dia sangat senang menikmati hari-harinya bersama bayi kembarnya, dia selalu membawa mereka kemanapun Maura pergi.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu, hari ini kamu ikut aku saja ke kantor!" ajak Ibrahim.
"Apa tidak merepotkan Mas Ibrahim? nanti malah anak-anak menangis di kantor kan? jadi malu kalau kelihatan karyawan Mas," ucap Maura.
"Tidak apa-apa kok, Sayang, aku kan bosnya, ngapain aku malu, aku pengen selalu dekat dengan kam,"u ucap Ibrahim menggoda istrinya.
"Baiklah. Sebentar, aku siap-siap dulu."
Maura pun mengganti baju dan sedikit memoles wajahnya dengan bedak, memakai baju syar'i miliknya yang pernah diberikan Ayah mertuanya dulu.
Tak lupa Kiara mengajak baby sitternya untuk menjaga Si kembar.
"Maura! kamu mau ke mana?" tanya ibu mertua.
"Ada keperluan sedikit Ma, aku akan membawanya," ucap Ibrahim.
Ibrahim tau kalau Mamanya saat ini sedang marah. Sementara Maura, tidak berani menjawab, karena dia tahu pasti mertuanya akan menyalakannya.
"Aku mau membelikan Maura pakaian Ma, aku belum sempat membelikannya baju," ucap Ibrahim.
"Belanja baju? Baju yang kemarin kan masih banyak? yang dibawa oleh ayah mertuanya yang terdahulu itu?" icap Ibu Ibrahim.
"Itu dari sana, tapi belum dari aku,"sahut Ibrahim.
__ADS_1
"Ngapain mesti beli lagi , mubazir tahu?"
"Sudah ya Ma, nanti terlambat," ucap Ibrahim
Dia tidak mau berlama-lama di situ, Ibrahim pun meraih tangan mamanya dan menciumnya. Begitu juga Kiara. Segera meraih tangan itu dan menciumnya.
Mereka beriringan keluar lewat pint utama.
"Maura!"
Ketika tiba-tiba suara yang sangat di kenalnya itu terdengar jelas memanggil Maura.
"Aufan? Mengapa kau ke mari?" tanya Maura merasa tidak senang.
"Bolehkah aki bicara sebentar dengan Maura? Tuan Ibrahim?" izin Aufan.
"Tidak! Kau boleh bicara denganku, hanya apabila ada suamiku," ucap Maura.
"Apa tidak bisa kita bicara empat mata saja?" tanya Aufan.
"Bicara saja di sini. Aku tidak ingin ada rahasia antara aku dan suamiku, jadi ..., katakanlah!" ucap Maura lagi.
Bersabung.
__ADS_1
Yuk mampir di karya terbaruuku
AKU ISTRI KE DUA BUKAN PELAKOR