Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Aku Ini Hina


__ADS_3

Pagi menjelang, Maura mulai membuka matanya, sedangkan Aufan masih tidur di posisinya.


"Uaaaaah."


Maura tampak menguap dan menggeliat. Perlahan Dia pun membuka matanya.


"Aaaaaa!!"


Maura berteriak kaget saat melihat wajahnya dan wajah seorang lelaki sangat dekat, hanya berjarak sekitar tiga jari saja, dan tangan Lelaki itu yang terus menggenggam tangan Maura, membuat Maura semakin kaget dan panik.


Sebelumnya Maura tidak tahu kalau itu adalah wajah Aufan. Dia mengira kepala itu adalah kepala orang lain.


"Ada apa? Ada apa?" kaget Aufan.


Dia pun terbangun dan berdiri dengan cepat.


"Kau?" tanya Maura kaget, dia pun mengucek-ngucek matanya tidak percaya.


"Maura... ini aku," lirih Aifan kemudian.


""Bagaimana bisa kau tahu aku ada di sin,i dan... aku ada di mana ini? tanya Maura sambil memindai sekeliling ruangan.


"Oh iya, aku 'kan ada di Rumah Sakit, kemarin aku pingsan, tapi kau...?" tanya Maura heran, sambil menunjuk wajah Aufan.


"Tadi malam aku datang langsung dari Jepang, karena aku sedang berlibur bersama....(Dia terdiam tidak meneruskan) Oh ya aku ditelepon oleh Bella, dia mengatakan kalau kau sakit keras, makanya aku datang," ucap Aufan.


"Kau sedang bulan madu 'kan?" tanya Maura.


"Iya, kami sedang jalan-jalan, semalam, dan tadi malam aku sudah ke Indonesia meninggalkan dia di sana," ucap Aufan.


"Maksudnya? meninggalkan Istrimu di sana? Bagaimana sih maksudnya?" tanya Maura.


"Iya, saat aku mendengar kabarmu, ah entahlah. Aku mungkin bo*doh namun saat aku mendengar kabar tentang kau, bahwa Bella telah Menemukanmu sedang sakit parah, aku langsung meluncur. Bahkan aku meninggalkan Vena di restoran saat dia ke kamar kecil," ucap Aufan. Dia merasa bego.


"Apa maksudmu? kau meninggalkannya begitu saja?" tanya Maura.


"Iya, aku tidak tahu sebegitu hebatnya kah pesonamu di otak dan pikiranku ini, sehingga aku sampai melupakan istriku sendiri," Aufan menatap wajah Maura.


"Bo*doh benar-benar bo*doh," ketus Maura.


"Seharusnya kau senang 'kan, kalau aku datang kemari? Dan bahkan aku mementingkan dirimu dari pada istriku?" ucap Aufan.


"Untuk apa aku senang? Lagian kau bukan siapa-siapa aku 'kan?" tanya Maura.


"Apa? jadi kau menganggapku bukan siapa-siapa?" kesal Aufan.


"Memang iya, kau itu hanyalah orang satu malam di masa laluku, dan aku sudah membuang kenagan itu jauh-jauh." ucap Maura.


"Tapi kenapa malam itu tidak kau katakan? saat aku pamit padamu, dan aku akan menikah," tanya Aufan.


"Mengatakan apa? tanya Maura.

__ADS_1


"Maura... aku sudah tahu bahwa kau...."


"Tunggu! Apa maksudmu? kau sudah tahu? tahu apa?" tanya Maura Memotong pembicaraan Aufan.


"Kenapa kau tidak mengatakan, kalau saat ini kau sedang mengandung benihku?"ucap Aufan.


Maura pun menatap Mira yang masih tidur di lantai.


"Mbak Mira!" Panggil Maura.


Mira yang kaget pun membuka matanya dan menatap Maura.


"Apa Ra?" tanya Mira.


"Apa kau mengatakan sesuatu pada Aufan?" tanyanya.


"Tidak, mengatakan apa?" tanya Mira.


"Maura, Bella yang mengatakannya padaku, saat kau pergi dari Cafe itu, dua hari kemudian aku mencari mu ke penjuru Cafe, mencari mu ke setiap kafe di kota itu," ucapnya.


"Untuk apa kau mencari ku?" ucap Maura metus dan memalingkan wajahnya.


"Karena aku merindukanmu," ucap Aufan.


"Untuk Apa kamu merindukanku? bukankah kita tidak ada hubungan apa-apa?" tanya Maura.


"Entahlah, aku merasa terlalu terobsesi olehmu, aku merasa kesepian kalau kau tidak ada di sisiku," ucap Aufan.


"Kau mengandung benih ku 'kan? Bagaimana bisa kau mengatakan tidak ada hubungan apa-apa di antara kita?" ketus Aufan.


Maura terdiam kemudian. Dia menunduk.


"Aufan... lupakan itu, sebaiknya kau urus masa depanmu dengan Vena," ucap Maura.


"Tidak Maura, tidak semudah itu, kalau kau tidak mengandung benihku, Mungkin aku akan cuek, tapi sekarang berbeda..."


"Iya... sekarang memang berbeda, kau sudah menikah, dan aku tidak mau dikatakan sebagai pelakor, jadi pergi saja! kita urus diri kita masing-masing," ucap Maura, air matanya pun hampir menetes karena merasa sedih.


"Aku tidak akan melepaskan mu dia anakku, ayo kita pergi! aku akan menjagamu Maura," ajak Aufan.


"Tidak, aku tidak mau," ketus Maura.


"Kenapa kau tidak mau? aku akan menyembunyikan mu aku tidak akan mempertemukan kamu dengan siapapun, sampai anak itu lahir," ucap Aufan.


"Maksudmu? kau akan menjadikanku wanita simpananmu? murahan sekali aku ini," ucap Maura semakin kesal.


"Aku mohon, entah apa yang aku rasakan sekarang, namun aku merasa aku telah jatuh cinta padamu... " ucap Aufan spontan.


"Cinta? Apa itu cinta? aku ini hanya wanita satu malam mu, aku ini yang kau bilang hanya lobang-lobang semut 'kan?" ketus Maura.


Kali ini Maura benar benar tidak bisa menyembunyikan rasa sedih di hatinya, saat Aufan dulu menghinanya.

__ADS_1


"Maura! Lupakan semua itu! bukankah kau hanya milikku? kau tidak pernah tidur dengan lelaki lain kan?" tanya Aufan.


"Pertanyaan itu yang selalu kau tanyakan padaku, aku sudah mengatakannya berulang-ulang, Aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun, selain dirimu Aufan!" be tak Maura semakin kesal.


"Aku mohon, ikutlah denganku! Aku punya apartemen yang siapapun tidak tahu itu kecuali aku dan Aman," ucap Aufan.


"Apakah kau akan mengurungku di sana?" tanya Maura.


"Tidak, aku tidak akan mengurung mu, kau bebas melakukan apa saja, namun aku ingin kau ada di sana, dan aku bisa menjenguk mu kapanpun aku mau, kalau seperti ini, kau terus saja lari dariku, kau terus saja bersembunyi dariku. Aku tidak bisa Maura. Aku bisa gila," ucap Aufan.


"Kenapa kau harus gila? bukankah kau ada Vena?" tanya Maura.


"Maura! Tolonglah jangan kau bahas dia lagi, sekarang ini adalah antara kau dan aku, karena terlanjur dia adalah istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, itu juga kesalahanmu Maura," bentaknya.


"Kesalahanku? Apa salahku padamu?" tanya Maura.


"Malam itu, saat aku mengatakan minggu depan aku akan menikah, kenapa kau tidak mengatakan kalau kau hamil anakku?" tanya Aufan dwngan suara nyaring.


"Aku tidak setega itu Aufan. Aku akan dicap sebagai pelakor, kalau kamu memilih aku, lebih baik aku diam," ucap Maura.


"Maka dari itu, kau harus menembus kesalahanmu, seandainya malam itu kau mengatakan kau hamil anakku, Aku pasti membatalkan pernikahan kami," ucap Aufan.


"Benarkah? Ha ha ha, mustahil... mustahil Aufan," ucap Maura tidak per aya.


"Percayalah padaku," pinta Aufan.


"Tidak! aku tidak akan percaya padamu," ketus Maura.


"Maura!" Bentak Aufan sambil memeluk Maura kilat dan erat, Dia tidak melepaskannya sampai Maura pun merasa sesak nafas.


"Lepaskan! aku... Uhuk uhuk, Aufan, kau menyakitiku," ucap Maura.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu, kecuali kau mau ikut denganku," ucap Aufan, sambil melonggarkan pelukannya.


"Aku ini wanita hina, untuk apa kau bersamaku? kalau aku hanya kau jadikan sebagai wanita simpanan, aku tidak mau," ucap Maura.


"Ayo kita menikah!" ajak Aufan.


Maura terhenti, dia terdiam 'Menikah?' lirih hatinya. 'tapi'kan dia suami orang? aku bukan pelakor, tidak, aku tidak mau' batinnya lagi.


"Baiklah aku hanya minta satu hal, sampai anak ini lahir, kau harus melepaskan ku," ucap Maura.


"Kita menikah! kau harus bersamaku," ucap Aufan lagi.


"Aku bukan pelakor, sampai anak ini lahir saja," ucap Maura.


"Aku ingin kau menjaga kesehatanmu, hingga kau melahirkan, setelah itu kau boleh pergi bersama anak itu, tapi kau juga tidak boleh menghalangiku untuk bertemu dengannya," ucap Aufan.


"Deal," ucap Maura.


Aufan pun melepaskan pelukannya. Dan menelepon Aman.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2