
Pak Irlangga beserta Aman kini sudah kembali ke kota. Sepanjang jalan, Pak Irlangga tampak tersenyum-senyum sendiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bos senyum-senyum? Bukankah seharusnya dia sakit hati?" batin Aman.
Bukankah tadi dia sudah melihat perselingkuhan menantunya, dengan lelaki lain?
"Maaf Tuan Bos, kenapa Tuan Bos tersenyum-senyum sendiri?" tanya Aman.
"Aku sekarang merasa sangat senang Aman, tolong jangan ganggu konsentrasiku," Ucap Pak Irlangga.
"Senang bagaimana Pak Bos? seharusnya Pak Bos sakit hati, karena menantu Pak Bos sudah berselingkuh dengan laki-laki lain, aku membayangkan nih, Bos Aufan, pasti akan ngamuk, kalau mengetahui perselingkuhan istrinya, yang sangat di cintai selingkuh," ucap Aman.
"Aman ..., justru itu aku merasa sangat senang. Akhirnya aku bisa memisahkan Aufan dan Vena tanpa harus aku yang turun tangan, aku sebenarnya sudah lama tidak merestui hubungan mereka, tapi karena aku hanya punya Aufan, maka aku mengiyakan saja saat dia meminta untuk menikah dengan Vena, pacarnya," ucap Irlangga.
"Emang bener begitu ya Bos? ku kira Bos senang mempunyai menantu seperti Vena, yang sangat pintar bersilat lidah," ucap Aman.
"Ih jangan salah! Aku diam bukan berarti aku suka, namun belum waktunya aku untuk mengutarakan isi hatiku, dan sekarang lah waktunya," ucapnya.
"Baguslah Bos, Kalau Bos sudah tahu, saya bahkan sejak dari dulu sebelum Vena menikah dengan Aufan, tidak pernah menyukai Vena itu," ucap Aman.
"Ada yang lebih menggembirakan dari itu, Aman," ucap Irlangga.
"Apalagi Tuan Bos," tanya Aman.
"Sebentar lagi, aku akan menemani cucu ku, aku sangat senang," ucap Irlangga.
"Cucu ..., eh Maaf Bos, kata Vena tadi mengabari Aufan di rumah sakit, bahwa Maura sedang hilang, Apa benar Bos?" tanya Aman.
"bukan hilang, tali aku bawa ..., eh," Ucap Irlangga keceplosan.
"Hah? apa Bos? Di bawa?" tanya Aman heran.
"begini, tapi ..., apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Pak Irlangga.
"Tentu saja Bos saya ini orang yang terpercaya loh," ucap Aman.
"Baiklah, Maura, sebenarnya, tidak hilang, tetapi aku membawanya jauh meninggalkan rumah kami, sekarang Maura sedang sakit, dia diracuni, dan kemungkinan yang meracuni itu adalah Vena," ucal Irlangga.
"Astagfirullah, Benarkah itu Bos? keterlaluan sekalian Vena," ketus Aman merasa sangat kesal dan marah.
"Iya, aku juga tidak menyangka. Tadi malam dia pendarahan hebat, kemudian Mbak Alin membawanya ke rumah sakit. Untung saja tidak terlambat, untuk di beri pertolongan, sehingga cucuku bisa diselamatkan."
"Syukurlah Bos, rasa ingin sekali ku ulek-ulek itu Vena, biar jadi sambel terasi sekalian," ucap Aman.
__ADS_1
"Apa kau juga tidak menyukai Vena?" tanya Irlangga.
"Nggak lah Bos, saya bahkan sangat membencinya, tapi apalah daya, saya ini hanya seorang jongos," ucap Aman.
"Oh, jadi begitu ya, terus Maura bagaimana? Apa kau menyukainya?" tanya Irlangga.
"Nah kalau Nona Maura, lain Bos, saya sangat menyukainya," ucap Aman.
"Eh Apa maksudmu? kau menyukainya apa?" tanya Irlangga.
"Bukan Bos, saya kan sudah punya istri, bahkan sekarang istri saya juga sudah hamil, anak kedua lagi," sahut Aman.
"Oh ..., kirain, ha ha ha," Irlangga pun tertawa leaps.
Begitu juga Aman, dia pun juga tertawa. Mereka berbincang asik sepanjang lerjalanan.
"Jdi sekarang Nona Maura di mana Bos?" tanya Aman.
"Aku sudah memindahkannya, ke rumah sakit yang sangat jauh, dan aku akan menyembunyikannya, sampai masalah Aufan dan Vena selesai, Aku tidak ingin Vena menyakiti Maura lagi, dan mungkin aku akan menyembunyikan Maura sampai dia melahirkan nanti," ucap Irlangga.
Tak berapa lama, akhirnya mereka pun sampai di kediaman Irlangga.
***
Pasangan suami istri itu berhenti di samping Maura tak begitu dekat, namun Maura masih bisa mendengar percakapan mereka. kelihatannya sang istri ingin menjemur sang bayi yang baru lahir.
"Sayang ..., setelah kamu sehat nanti, kamu mau jalan-jalan ke mana?" tanya sang suami.
"Terserah, kemanapun Mas bawa, aku mau kok," sahut sang istri.
"Kok begitu sih Sayang, ini kan kado kelahiran anak kita! aku tidak mau memilih, setelah kamu sehat nanti, kamu harus menentukan tempat yang akan kita datangi!" ucap sang suami, sambil membelai kepala sang istri mesra.
"Baiklah, nanti akan aku pikirkan lagi," ucapnya.
"Oke...." kembali kecupan mendarat di ubun ubun istrinya.
Maura pun berpaling karena merasa malu sendiri.
"Sementara ini, aku akan menyembuhkan lukaku dulu," sahut sang istri lagi.
"Tapi sayang, katanya kalau melahirkan normal itu kan? cepat pulih, berbeda dengan operasi caesar," ucap suaminya.
"Katanya sih gitu Mas, aku juga belum tahu, kan ini lahiran pertama aku," ucap sang istri.
__ADS_1
Sekali lagi sang suami pun berjongkok dan mencium ubun-ubun sang istri, Maura yang melihat itu pun terkesima dan tersenyum seraya membelai perutnya, yang mulai terasa saat di raba.
"Sayang ..., alangkah bahagianya kita, seandainya papamu baik kepada kita, tapi sayang ..., (Maura menatap kembali pasangan itu) kita belum beruntung, papamu punya istri yang sangat dia cintai, dan mungkin saja, setelah ini kita tidak bisa lagi bertemu dengannya, kita hanya percaya pada kakek mu saja saat ini," katanya merasa sedih.
Maura menghela nafas dalam sambil memejamkan matanya. Mungkin berharap, sesuatu akan terjadi padanya.
"Bersabarlah Sayang, mudah-mudahan kelak, kau akan mendapatkan jodoh yang terbaik, tidak seperti mama ini, Sayang, maafkan Mama," lirih Maura, sambil terus mengelus perutnya.
"Nona Maura, rupanya kau di sini, aku mencari mu kemana-mana," ucap Mbak Alin.
"Aku hanya sedang berjemur Mbak, aku merasa bosan di dalam," sahut Maura.
"Apa kau mau ke kamar sekarang? biar aku dorong," ucap Alin.
"Baiklah, Mbak, Mari!"
Akhirnya Maura pun pergi meninggalkan halaman tersebut, Namun matanya terus menatap pasangan suami istri itu, sampai dia melewati mereka berdua.
"Kenapa Nona terus menatapi mereka?" tanya Alin.
Ternyata Alin memperhatikan Maura yang terus menatapi pasangan suami istri itu.
"Mbak Alin, Lihatlah mereka tadi, sangat bahagia, kelihatannya sang istri baru melahirkan," ucap Maura.
"Oh ..., jadi Nona merasa iri ya. Tunggu saja, Nona Maura nanti, pasti juga akan seperti itu, masih lama 'kan baru lahiran? pasti Aufan akan berubah," ucap Alin menghibur.
"Entahlah, aku tidak berharap, aku hanya berharap anak ini terlahir sehat, Itu saja."
Mereka pun sudah memasuki kamar Maura. Maura lun istirahat untuk menunggu makan siang.
***
"Bi... Tolong panggilkan Vena dan juga Aufan, aku mau bicara," titah Irlangga ke pada Bini.
"Baik Tuan," sahut Bibi.
Naaah hayooo...
Pasti mau buka bukaan Vidio po***rn iti kan papa?😄
Bersambung.
Kasih hadiah ya... Udah hampir tamat masa nggak di kasih hadiah dan VOTE😍
__ADS_1