Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Agresif


__ADS_3

Maura terduduk dan memeluk kedua lututnya sambil menangis. Hatinya sangat sakit, sungguh Dia tidak menyangka, orang yang di percayainya membantunya memberi pekerjaan, ternyata telah memanfaatkannya dengan menjualnya ke kafe lain.


"Nona, berdirilah! Ayo kita pergi dari sini! Biar Bos yang mengurus pembayaran Anda," ucap Aman, karena mendapat bisikan dari Aufan sebelumnya, Aufan yang gengsi berbicara dengan Maura menyuruh Aman yang mengatakan itu padanya.


"Tidak! Aku akan menebus diriku sendiri dengan giat bekerja, aku tidak ingin balas budi pada siapa pun," ucap Maura seraya berdiri dan berjalan menuju ruang istirahatnya.


Aufan pun memberi kode agar Aman mengejarnya.


"Nona, tunggu! Bos saya akan bertanggung jawab untuk membkayai hiduo anda, karena Dialah orang pertama yang__ yang aaaah, Nona, percayalah," ucap Aman sambil terus membuntuti Maura sampai ke kamarnya.


"Kalian orang-orang kaya bisa sesuka hati melakukan apa pun pada kami yang tidak berdaya, tapi tidak kali ini, aku akan berdiri sendiri, aku akan menebus diriku sendiri," ucapnya seraya menutup pintu kasar.


Aman lun kembali ke luar dan menemui Bosnya.


"Maaf Bos, dia menolak untuk di bawa pergi," ucap Aman.


"Hmmm, baiklah Nyonya, kau jaga dia untukku, aku akan datang besok dan memberimu uang 20 juta, tapi ingat! Dia tidak boleh lagi bekerja dengan lelaki lain selain aku, aku akan datang setiap hari ke sini, kau mengerti!" ucap Aufan.


"Baik Tuan. Aku akan menunggumu, tapi bila kai tidak datang malam besok, maka aku akan menjualnya ke lelaki lain yang mau memberiku uang 20juta," ucap Lin.


"Baiklah, Aman, ayo!"


Mereka berdua pun pergi meninggalkan kafe tersebut. Sementara Maura tampak menangis sesunggukan sambil meredam wajahnya di bantal.


Ceklek


Lin datang membawakan air hangat.


"Maura, ini, minumlah!" ucap Lin


"Maaf Nyonya, izinkan aku bekerja, sampai aku bisa membayar 20juta untuk Nonya, setelah itu aku akan pergi dari sini, aku ingin hidup tenang dan mendapatkan pekerjaan yang layak, yang halal dan baik, mempunyai keluarga yang bisa menerima kekuranganku," pintanya.


"Maura, kau tenang saja, Lelaki itu berjanji, besok akan menebus mu, dan kau akan bekerja hanya untuk Dia, kau tidak akan menemani tamu lain selain dirinya lagi mulai besok," ucap Lin.


"Dia mau menebus ku? Memang siapa Dia?" Maura seperti meremehkan, dan terlihat kesal, Dia belum ingat dan tidak tau, kalau Lelaki itulah yang telah merenggut kegadisannya, karena saat pagi itu, lampu remang-remang saat dia melarikan diri dari Hotel tersebut.


"Dia terlihat sangat kaya, mungkin Dia sangat tertarik denganmu, apalagi, kalau kau mau melayaninya, kau pasti bisa menjadi istri simpanannya Ra," ucap Lin lagi.


"Maaf Nyonya, aku ingin istirahat saja hari ini, kepalaku sangat pusing, aku juga tidak menyangka bisnis kalian seperti ini, memperjual belikan manusia tanpa izin, bahkan aku telah di jual oleh sahabatku yang sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri," ucapnya merasa sangat sedih.


"Baiklah, ingat Ra! hidup itu tidak boleh percaya pada orang lain 100%, karena itu akan melukai mu, kau istirahat saja."


Lin pun pergi dari kamar Maura.


"Ya Allah, ampuni aku, aku tidak bisa seperti ini, ini sangat bertentangan dengan hati nurani ku, aku harus apa? Apakah aku harus kembali ke panti asuhan itu, itu tidak mungkin," gumamnya. Hingga tak terasa dia pun tertidur..


"Ra... Kembalilah Nak! Jangan nekat, jalanmu masih panjang Nak, kau tidak boleh menyerah begitu saja,"

__ADS_1


"Bunda... Tunggu! Bunda mau ke mana? Bunda.."


Maura mengigau dan memanggil-manggil mama angkatnya saat di panti asuhan.


***


"Baiklah, karena Meeting sudah selesai, kalian boleh pergi," ucap Aufan yang baru mengepalai pertemuan bulanan rutin di kantornya.


"Terima kasih Pak!" para karyawan pun pergi meninggalkan ruangan, Aufan tampak menyandarkan dirinya di kursi kerajaannya.


"Mengapa aku selalu teringat pertempuran kami malam itu ya? Tubuhnya sangat indah, bahkan tubuh Vena yang terawat pun kalah dengan tubuh Maura malam itu, dan pula, walau Maura Wanita satu malam, namun dia masih perawan saat ku renggut kegadisannya itu, sedangkan Vena, dia bukan perawan, katanya itu bekas kecelakaan bersepeda, apakah benar?" gumam Aufan sendirian.


"Bos___,"


"Maura!"


Tiba-tiba saja Aufan kaget dan berdiri sambil menyebut nama itu.


Pluk


Aufan pun menepuk pundak Aman kasar, hingga Aman pun mengelusnya karena merasa perih.


"Kau mengagetkanku saja heh, dasar kau ini, ada apa?" tanya Aufan.


"Aku lapar Bos, apa Bos tidak ingin turun? Aku mau ke kantin Bos, ini sudah jam 3 Bos," ucap Aman. Rupanya dia melamun sudah satu jam sejak meeting jam 2 tadi selesai.


Aman dan Aufan lin turun menuju kantin. Namun...


"Aufan!" teriak Vena yang datang sambil berlari kecil menghampiri mereka.


"Iiish mak lampir lagi yang datang," ucap Aman pelan.


Aufan yang mendengar pun menoleh dan membesarkan matanya mengancam.


"Apa katamu?" ucap Aufan.


"Oh, eeh nggak anu Nggak kok Bos," ucapnya gugup.


"Kau mau ke mana?" tanya Vena sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Aufan, Aufan pun membalas dengan melingkarkan tangannya di kiri kanan panggul Vena.


"Mau makan, kau sudah makan? Ayo makan bareng!" ajak Aufan. Aman pun merasa jengkel, karena Aman sangat tidak suka dengan wanita lebay yang suka memamerkan kemesraannya ini di mana saja Dia berada.


"Aku sudah makan kok, barusan."


"Alhamdulillaaah," ucap Aman spontan.


Vena dan Aufan lin memandanbinya heran, namun...

__ADS_1


"Eh, boleh juga kok, ayo!" Vena sengaja melakukan itu, karena Dia tau Aman tidak menyukainya. Akhirnya mereka menuju kantin.


Aman lun menarik kursi Bos untuk duduk, sementara Aman lun ingin duduk.


"Eeeh, mau apa kamu?" tanya Vena yang sudah duduk di sisi Aufan.


"Mau makan Nona, mau apa lagi?" jawab Aman sedikit nada kesal.


"Sana! Tuh sda meja kosong, kamu di sin mau makan berdua saja," ucapnya jutek.


"Biarin Sayang, tadi juga Dia yang ngajak ke mari kok," ucap Aufan.


"Ogah, makan sama jongos, sana! Sana!" ucapnya lagi.


Aman pun berdiri dan menjauh di pojokan.


"Mudahaaaan kalian bukan jodoh, kalau sampai kalian berjodoh, aku akan berhenti bekerja pada Bos, walau pun aku tidak makan satu bulan, ogah aku bekerja sama orang seperti Dia," gumam hatinya jengkel.


Makanan pun sudah di hidangkan, Vena tampak sangat manja, sesekali Dia minta di suapi oleh Aufan, Aufan pun juga sangat bucin sama Vena.


"Bos, aku sudah selesai, aku duluan ke atas," ucap Aman.


"Baiklah,"


Aman membayar semua belanjaan, karena memang Amanlah yang memegang uang Cash Aufan.


Vena dan Aufan tampak sudah selesai makan dan langsung pergi menaiki Lifh untuk menuju ruangan pribadi Aufan.


Ceklek


Memasuki ruangan pribadi Aufan, Vena yang memang masuk belakangan pun mengunci pintu.


"Kok di kunci?" tanya Aufan heran.


"Bkar nggak ada yang ganggu!" ucap Vena santai, kemudian Dia menarik tangan Aufan dan membawanya ke sofa yang ada di ruangan itu.


"Mau ngapain?" tanya Aufan.


"Melanjutkan adegan kita kemaren, aku belum selesai dan aku masih penasaran," ucapnya.


"Di sini ada CCTV tuh lihat!" ucap Aufan sambil menunjuk plafon yang ada CCTVnya.


"Biarin, ini juga ruangan mu, nggak masalah kalau pun ada 10 CCTV," ucapnya


Dia pun melucuti pakaiannya sendiri, sedang Aufan hanya berdiri tanpa merespon, kini Vena sudah bu*gil tanpa sehelai benang pun hingga akhirnya Aufan menyerah dan beraksi.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2