
Terlihat Maura sedang Menyiapkan makan pagi, tampak Rayan dan Raihan bermain-main sambil berlarian di dapur, begitu juga seorang bayi yang kira-kira berusia 5 bulan seorang gadis cantik yang imut, Rayan Dan Raihan sesekali mencolek gadis mungil itu, gadis mungil itu pun terlihat tertawa karena senang.
"Awas Sayang! Jangan sampai jatuh ya!" seru Maura ketika melihat anak-anaknya itu sangat asik bermain dan berlarian di dapur mereka.
"Iya Mama," ucap Rayan sang kakak.
Namun tiba-tiba.
Bruk
Raihan yang dikejar Rayan tiba-tiba terjatuh, ketika tanpa sengaja kakinya tersandung kaki gadis mungil Adiknya sendiri. Raihan kesakitan Maura pun panik dan mendekqt.
"Ada apa Sayang?"
Terlihat kepala Raihan langsung benjol.
"Kamu terjatuh Sayang?" tanya Maura sambil mengusap kepala Raihan.
"Kasihan Adik bayi, Raihan, kamu menginjak kakinya," ucal Rayan sambil mengelus kaki sang adik.
Sementara sang adik hanya tersenyum-senyum menggemaskan.
"Cuma benjol sedikit kok, nggak papa kok," ucap Maura.
Setelah diusap-usap dan ditiup-tiup oleh Maura, Raihan pun kembali tenang, saat Maura ingin berdiri.
"Aduuuh," Maura meringis kesakitan karena seketika kepalanya terasa bagai ditusuk-tusuk, sangat sakit, dia pun terduduk.
__ADS_1
"Mama, Ada apa?" tanya Arayan panik. sementara Raihan sang adik hanya menatap sang Mama sambil memegang tangan mamanya.
"Tolong panggilkan bibi," titahnya.
Dengan spontan, Rayan langsung berdiri dan berlari memanggil Bibi yang sedang menjamur baju di belakang rumah, tak Berapa lama bibi pun datang.
"Nyonya muda, ada apa?" tanya Bibi.
"Tolong panggilkan paman, bawa aku ke rumah sakit. Aduh, kepalaku Bi," ucap Maura.
Akhirnya Maura pun dibawa ke rumah sakit. Sementara Ibrahim sudah dihubungi oleh bibi untuk segera datang ke rumah sakit tersebut.
Sampai di rumah sakit, Maura masih terlihat menahan sakit.
"Mbak Alin, tolong jaga anak-anakku ya!" ucap Maura.
Karena saat itu Mbak Alin juga ada di sana, karena Mbak Alin masih sesekali mendatangi Maura, walaupun Alin sudah tidak bekerja lagi di rumah Maura, karena dia punya pekerjaan sendiri yaitu bekerja di kantor cabang Maura, yang diberikan oleh mertuanya.
menit pun telah berganti jam, kini Maura tampak dibawa ke ruangan pemeriksaan bahkan beberapa kali Maura tampak menangis meneteskan air matanya, menahan rasa sakit yang ada di kepalanya,
"Alin! mana Maura?" tiba-tiba Ibrahim datang dengan kepanikan yang luar biasa.
"Tuan, Nona Maura sedang diperiksa," ucapnya.
Kemudian Ibrajim pun mengambil gadis kecil yang dinamai Siti Khodijah oleh Maura.
"Kau tidak apa-apa Sayang?" sapa Ibrahim pada Khadijah. Dia tampak tertawa-tawa manis menatap sasnag Papa yang sudah ada dan memeluknya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat menunggu, pintu ruangan pemeriksaan terbuka.
"Keluarga Maura!" langgil dokter.
"Saya Pak," sahut Ibrahim.
Ibrahim pun mengiringi dokter itu dan masuk ke ruangan khusus.
"Sebelumnya, aku minta maaf, namun kita harus menerima kenyataan ini, bahwa Nona Maura sekarang sedang mengalami penyakit yang serius."
"Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Ibrahim.
"Istri anda mengalami kanker otak...."
"Apa? Kanker otak? tidak mungkin?" Ibrahim tak percaya.
"Iya, an sekarang kantor otaknya itu sudah di stadion 4, kecil kemungkinan untuk bisa sembuh...."
"Bagaimana mungkin tiba-tiba istriku sakit separah itu?"
"Tuan, apakah selama ini dia tidak pernah mengeluh?" tanya Dokter.
"Tidak pernah sama sekali, " ucapnya.
"Kalau begitu. Kau bisa menanyakannya langsung kepada istrimu. Kau akan tahu," ucap dokter.
Setelah dijelaskan begini dan begitu akhirnya Ibrahim pun keluar tak terasa air matanya menetes.
__ADS_1
Bagaimana mungkin dia menanyakan sesuatu kepada Maura itu pasti sangat sulit.
bersambung