Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Di manakah anak itu?


__ADS_3

Tampak Aufan memegangi kepalanya karena merasa sakit. Kilasan bayangan bibi Winar melayang-layang di kepalanya, Dia bahkan sangat ingat saat bibi winar memohon pada Maminya untuk tidak diusir dari rumah keluarga Irlangga.


"Nyonya Besar, tolong ampuni aku, Nyonya maafkan aku nyonya, ini bukan kesalahanku Nyonya, aku dijebak," ucapnya sambil terus menangis dan memohon.


"Mami... tolong lepaskan ibu tolong lepaskan ibu... Jik hik hik," tangis Aufan waktu itu saat melihat Ibu asuhnya itu di usir dari rumah.


"Kau telah menodai rumah ini Winar, kau harus pergi, kau juga harus menggugurkan bayi itu sebelum lahirnya," ucap Mami Aufan.


Saat itu Aufan masih berusia 7 tahun, saat bibi Winar diusir dari rumah besar itu.


"Nyonya... tolong beri anak ini hidup, tolong beri bayi ini kehidupan Nyonya, aku akan pergi dari sini Nyonya, tapi tolong jangan gugurkan bayi ini!" pohon Winar sambil terus bersimpuh dan memohon.


Winer terus memeluki kaki Mami Aufan, berharap Wanita itu mau melepaskan nya.


"Ada apa ini? kenapa ribut ribut?" tanya Papa Aufan, yang baru datang dari bekerja, untuk makan siang.


"Papa, apa kau tidak lihat! Winar sekarang sedang hamil, anak siapa yang dikandungnya Pah? apakah Papa atau Dito?" tanya Mami emosi.


"Apa maksud Mami? mana mungkin aku? apa kau kira aku ingin gil*?" ucap Pak Irlangga.


"Lihatlah? perutnya mulai buncit, apakah Paap tidak curiga? dia sedang hamil Pah," ketus Mami lagi.


"Pa, jangan marahi Ibu, dia baik sama Aufan," bujuk Aufan pada Papanya.


Aufan sangat menyayangi bibi Winar. Karena sejak ibunya meninggal 7 tahun silam, setelah melahirkan 2 minggu kemudian. Mamahnya meninggal karena memakan pantangan, itu kata tetua zaman dulu.


Sejak saat itu, bibi Winar lah yang selalu merawatnya, walaupun ayahnya sudah menikah dengan sahabat akrab Mamah Aufan, namun Winar lah yang slalu merawat dan memanjkannya.


"Apa benar kamu hamil? siapa yang telah menghamili mu?" tanya pak Irlangga.


"Maafkan aku, aku tidak bisa mengatakannya. Aku akan pergi dari rumah ini Tuaan, tapi tolong jangan ambil bayi ini. Aku akan merawatnya dengan baik," ucap bini Winar.


"Aku akan mengampuni mu, apabila kau mau mengatakan siapa laki-laki yang telah menghamili mu, Winar!" bentak Irlangga.


"Tuan, aku tidak bisa mengatakannya, maafkan aku Tuan," sahutnya lagi.


"Baiklah, kalo kau tidak mengatakannya, maka aku akan menggugurkan kandungan mu itu, ayo kita pergi ke bidan Praktek!" gertak Irlangga.


Dia pun kemudian menarik tangan Winar dan membawanya ke teras. Winar teus meronta, namun sla daya, Irlangga yang bertubuh kekar dan Winar yang bertubuh mungil, tentu saja tidak mampu melawan.


"Tuan... tolong Tuan, jangan gugur kan bayi ini, dia tidak bersalah Tuan, tolong, ampuni aku, Tuan," rengek Winar.


Namun gertakan Irlangga, tidak main-main, Dia terus membawa Winar mendekati mobilnya.


"Aku tidak bisa mengampuni orang yang membuat rahasia besar di rumahku, siapapun dia yang menyimpan rahasia di rumahku, aku akan memberantasnya, bayi ini gak boleh lahir, karena nanti hidupnya penuh dengan kerahasiaan, dan satu lagi... kasihan dia akan menderita," ucap Irlangga lagi.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengatakannya, tapi... tolong ampuni aku, Tuan," ucapnya lagi.


Irlangga pun tersenyum, karena ancamannya ternyata berfungsi dengan baik, dan Winar percaya kekejaman Irlangga, padahal itu hanya gertakan saja, mana mungkin Irlangga menggugurkan kandungan Winar, dia bukan pria sadis, walau pun dia tegas dalam mengambil keputusan.


"Nah begitu doong, baiklah, cepat katakan sebelum aku berubah pikiran!" desak Irlangga.


"Sebenarnya... bayi ini... adalah... bayi Tuan Dito Tuan," ucap Winar gagap.


Bagai peter di siang bolong, Pak Irlangga pun kaget, Dia melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Winar.


"Jadi kau dihamili oleh Dito? ya Tuhan..." desah Pak Irlangga marah.


"Iya Tuan, saat itu beberapa kali Tuan Dito merayu ku, namun aku tidak mau, hingga akhirnya dia membutuhkan obat di minuman ku, hingga aku tertidur, saat itulah dia beraksi, Tuan," ucapnya.


"Keterlaluan Dito, baiklah, ayo kita masuk ke dalam rumah!" ajak Irlangga.


Malam setelah kejadian itu, diadakan pembicaraan keluarga, akhirnya Dito pun di nikahkan dengan Winar, namun karena Dito memang orangnya buaya darat, setelah menikah 2 hari kemudian, Dia menghilang ke Luar Negeri, dan tidak pernah kembali lagi, sampai Winar melahirkan anaknya.


Aufan terus berhalusinasi dan seakan kejadian itu sekarang di depannya.


"Ibu... Ibu Winar!" panggilnya sambil terus mencengkram kepalanya.


"Fan! kau kenapa?" tanya vina sambil menggoyang goyang kan bahu Aufan. Aufan masih memegangi kepalanya.


"Apa maksudmu Aufan? aku tidak mengerti, siapa itu Winar? Siapa lagi kali ini yang kau sembunyikan dariku heh?" Vena tampak emosi.


"Bu Winar adalah pembantu sebelum aku Nyonya muda, yang merawat Aufan sejak kecil, sampai berusia 7 tahun, itu yang ku tahu, saat itu sebelum dia meninggal, aku sudah jadi pembantu baru di keluarga ini, untuk menggantikan Winar," ucap Bibi.


"Oooh, begitu ya Bi... Aufan, ayo kita ke kamar saja," ajak Vena.


Vena pun membawa Aufan berjalan ke kamarnya. Aufan masih seperti kesakitan dan terus meringis.


Sementara Maura, masih membersihkan nasi yang ada di lantai, sesekali dia memegangi perutnya yang terasa kram.


"Ndu, kamu istirahat saja, biar Bini yang bersihin," titah Bibi.


"Iya Bi, maaf, aku merasa sakit perut nih," ucap Maura dan duduk di kursi.


"Sebaiknya kau menghindari Nyonya Vena, dari pada kau celaka, kau harus menghindar darinya, aku takut nanti dia malah nekat ngapa-ngapain kamu," ucap bibi.


"Iya Bi, aku akan menghindarinya, maaf, aku merepotkan Bibi, terpaksa Bibi yang merapikan beling-beling itu, karena perutku terasa kram Bi," ucapnya.


Maura pun masuk ke kamarnya, sementara bibi merapikan dapur yang terlihat berantakan. Bibi merapikan beling yang berserakan di lantai, dia juga menyapu sambil terus menggumam mencaci kelakuan Vena.


"Jahat sekali wanita itu, tega sekali dia membuat Nona Maura terjatuh. Bagaimana kalau kandungannya keguguran? Atau terjadi sesuatu? pendarahan? dan lainnya, aku tidak menyangka, ada wanita sejahat itu," ucap bibi.

__ADS_1


"Bibi Ada apa? Kenapa kau bicara sendiri?" tanya Mami, yang baru datang ke dapur.


"Nyonya... ini...mau merapikan beling Nyonya, tadi nona Maura terjatuh, bukan terjatuh sih, tapi sengaja dijatuhkan," ucap bibi.


"Sengaja dijatuhkan bagaimana maksudmu Bi?.masa iya mau sengaja menjatuhkan dirinya?" tanya Mami bingung.


"Bukan Nyonya besar, tapi Nyonya muda, yang telah membuat Nona Maura jatuh, dia dengan sengaja memanjangkan kakinya saat Nona Maura lewat, di depan Nyonya Muda," ucapnya.


"Terus? gimana sekarang Vena? Apakah dia datang bersama Aufan?" tanya Mami.


"Mereka sedang ke kamar atas, kelihatannya Tuan Aufan juga kesakitan kepala tadi," ucap Bini.


"Oh... Baiklah, aku akan segera ke sana, tolong cepat bersihkan Bi, Sebentar lagi papa Aufan pasti datang, untuk makan siang," ucap Mami.


"Baik Nayonya besar," sahut bibi.


Kemudian Nyonya pun pergi meninggalkan dapur. Mungkin Dia akan ke kamar Aufan dan menanyakan sesuatu.


"Nyonya besar kok sekarang berubah ya? biasanya suka marah-marah. Apalagi kalau lihat piring pecah begini, dia pasti langsung teriak. Tapi sejak Nona ada, kenapa dia terlihat seperti gembira begitu sih? Apa Mungkin dia senang kalau akan mempunyai cucu dari Aufan? tapi kan dia cuma Mama sambung," gumam Bibi.


"Bibi ngomong sama siapa?" tanya Pak Irlangga yang tiba tiba datang.


Bibi bahkan tidak sadar kalau Tuannya itu sudah berada di dapur yang sama dengannya. Irlangga datang tanpa sepengetahuan Bibi. Karena Bibi asik mengomel sendiri.


"Oh Tuan besar. Maaf, tidak apa-apa Tuan, aku cuma berzikir Kok," bohong bibi.


"Aku mau minum es syruf Bi," ucap Pak Irlangga.


Bibi pun menyelesaikan pekerjaannya dan mengambilkan sirup untuk tuannya.


"Apa terjadi sesuatu di rumah?" tanya Irlangga.


"Tuan Muda Aufan sudah datang, Nyonya besar besar juga sedang di atas untuk menemui Aufan," sahut Bibi.


"Benarkah? Akhirnya Datang Juga anak itu," ucapnya.


Papa Aufan pun meninggalkan dapur. Dia bergegas menaiki anak tangga. Seakan sedang mengejar penjahat.


"Tuan! minumannya!" panggil Bibi.


"Letakan saja di sana!" teriak Irlangga.


Apa yang akan terjadi? Apakah Aufan akan babak belur?


Bersbung...

__ADS_1


__ADS_2