
Aufan dan Maura pun menoleh ke belakang, menatap laki-laki yang berteriak itu, ternyata Pak Irlangga lah yang datang .
Aufan pun melepaskan cengkraman nya dari tangan Maura. Sementara Pak Irlangga mendekat dan berdiri tepat di tengah-tengah Maura dan Aufan.
"Papa ...," ucap Aufan.
"Aufan, mengapa kau tidak menghargai permintaan Maura? aku juga sudah berulang kali mengatakan kepadamu, kalau kau ingin bertemu dengan Maura dan anak-anakmu, kau jangan mengganggunya lagi, cukup kau bertemu saja, jangan pernah memintanya untuk kembali padamu," ucal Irlangga.
"Tapi aku sangat mencintainya, La," ucal Aufan.
"Aufan, kau sudah berjanji, kau tidak akan mengganggunya, kau hanya ingin bertemu dengan anak-anakmu 'kan? aku merasa menyesal telah mengatakan di mana keberadaan Maura, aku bersalah kepada Maura."
"Pah. Kenapa Papa begitu membelanya? aku ini anakmu Pa! dia itu menantu mu! harusnya Papa berpihak padaku, bukan kepadanya?"
"Aku ingin Maura tidak tertekan. Aku ingin cucuku sehat, apa kau tidak mengerti juga? Oh iya aku belum sempat mengatakannya kepadamu, aku sudah tes DNA waktu Maura melahirkan, dan dia adalah 100% cucuku, jadi aku tidak akan pernah membiarkan Maura ataupun cucuku terluka, walaupun Maura adalah menantuku, tapi dia adalah ibu dari cucu-cucuku, kau ingat itu! sekarang kau pergilah!" bentak Irlangga pada Aufan.
"Papa, aku tidak tahu apa yang sebenarnya Papa pikirkan? Papa sangat membela Maura, sedangkan aku? Aku ini bagaikan menantu mu kah? atau jangan-jangan Papa menyukai Maura?" ketus Aufan. Emosi Aufan tak tertahan dan berkata buruk tentang ayahnya sendiri.
"Apa yang kau katakan? Tak sedikitpun aku berpikiran picik seperti itu! walaupun di dunia ini sudah tidak ada wanita lain, aku tidak akan menyukai menantuku sendiri, kau Jangan berpikir gila Aufan!" ketus Irlangga.
"Isi hati seseorang siapa yang tahu? siapa tahu saja kan karena Maura tidak mau lagi menerimaku, lalu diam-diam Papa menyukainya?"
"Kurang ajar kau," ketus Irlangga.
Plak plak
Irlangga pun menampar Aufan, sehingga kepala Aufan pun oleng.
"Baiklah, aku akan pergi."
__ADS_1
Akhirnya Aifan pun berpaling dan pergi meninggalkan rumah Maura, dia terlihat memegangi pipinya yang merah karena bekas pukulan sang Ayah.
Saat dekat mobil, Aufan pun menoleh dan menatap Maura, hatinya sangat sakit karena Maura benar-benar menolaknya.
Sementara Maura merasa tidak enak, karena ayah dan anak itu sekarang bertengkar gara-gara dirinya.
"Pah, maaf, kalian bertengkar gara-gara aku," ucap Maura.
"Maura, tidak apa-apa nak, yang penting kamu tenang, Aku akan meletakkan Bodyguard di sini, agar Aufan tidak mengganggumu lagi." ucap Irlangga.
"Pah, tidak usah Pah, aku baik-baik saja kok. Lagian Aufan juga tidak akan berbuat nekat Paling juga dia seperti tadi, tidak akan melakukan kekerasan yang berlebihan," ucap Maura.
"Aku tidak percaya padanya lagi, Maura, Baiklah kalau begitu, aku mau ke kantor dulu. Oh iya aku mau lihat cucu-cucu dulu sebentar," ucap Irlangga.
Dia pun menemui kedua cucu kembarnya, dan menciumi bayi kembar itu.
"Maura, kau harus tenang, kau tidak boleh memikirkan masalah Aufan, kalau ada apa-apa, telepon saja aku ya!" ucap Irlangga.
Pak Irlangga pun pergi meninggalkan rumah Maura.
***
5 bulan sejak perceraian Aufan dan Maura, kini semuanya tanpa kembali normal. Aufan pun sudah tidak pernah lagi datang ke tempat Maura, mungkinkah dia sudah melupakan bayi kembarnya? Namun Aufan tampak terlihat di cafe mumi Cynthia bersama Lira. Sekarang dia benar-benar terjerumus dan tidak bisa lagi kembali.
Tiap harinya dia hanya mabuk-mabukan di sana, walaupun Maura pernah menelpon Aufan dan memintanya untuk kembali. Namun sepertinya Aufan tidak menghiraukannya. Lira tampak tersenyum melihat Aufan yang sekarang sudah menjadi miliknya. Aufan seperti ketagihan dengan Lira. Setiap hari Aufan pasti bertemu Lira dan melakukan hubungan yang terlarang itu l.
"Afan ..., ayo kita pergi shopping hari ini!" ucap Lira.
"Baiklah, sekarang mau pergi ke Mall mana nih?" ucap Aufan.
__ADS_1
"Ayo kita pergi dulu, nanti akan aku pilih sendiri," ucap Lira.
Aufan pun setuju, mereka pun pergi berbelanja. Memang selama ini Aufan dan Lira saling pergi keluar untuk shopping bersama. Sepertinya Aufan sekarang jatuh cinta kepada Lira, walaupun Aifan tidak mau terikat dengan Lira dengan pernikahan, namun setiap hari-harinya, hanya Aufan lah yang memakai jasa Lira.
Tampak di sebuah Mall, Aufan dan Lira pun berjalan di pusat perbelanjaan yang sangat besar itu, namun tak di sangka, Maura dan Mbak Alin juga berada di pusat perbelanjaan yang sama.
Maura yang sekarang memakai cadar tentu saja tidak ada yang bisa mengenalinya, namun Maura kaget saat melihat mantan suaminya itu bersama Lira, wanita yang dulu menjual dirinya.
"Nona Maura? ada apa? kenapa kau tampak begitu?- ucap Mbak Alin, saat melihat Maura tampak menggenggam-genggam tangannya.
" Mbak, Lihatlah itu! Lira wanita yang dulu menjualku kepada Aufan, sekarang bahkan mereka bersama Mbak, apa aku mampu untuk mengendalikan emosiku ini?" ucap Maura.
Namun ternyata Aufan menyadari kehadiran Alin dan Maura di sana, kemudian Aifan pun menggandeng Lira dan mendekati Maura.
"Mbak Alin? apa ini Maura? Lalu ke mana si kembar, Maura?" tanya Aufan.
Lita yang mendengar pun kaget.
"Apa dia Maura?" tanya Lira gugup.
Karena Lira tidak tahu kalau sekarang Maur sudah hijrah. Maura menggenggam tangannya dengan kuat, menahan gejolak emosi yang ada di dadanya, betapa dia sangat marah ketika melihat wanita yang dulu pernah menjual kehormatannya, kepada lelaki yang sekarang bahkan berada di depannya, dan akhirnya butiran bening itu pun tak mampu dia hentikan, perlahan butiran bening itu pun menetes di ujung mata Maura. Luka lama pun kini kembali berdarah.
Bersambung...
Yuk mampir di karya temanku yang tak kalah seru nih.
Judul : Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Author: Nurmay
__ADS_1