Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Aufan Kehilangan Jejak


__ADS_3

Aufan kini bagai orang gi la yang tak tau arah, bahkan dia sering marah tanpa alasan. Dia sudah mengirim orang ke pelosok kota, tak tanggung-tanggung, bahkan dia sampai mengirim mata mata sebanyak 50 orang yang di bagi di setiap kota. Namun tak satu pun dari mereka yang tau keberadaan Maura. Sudah 2 hari ini Aufan tidak makan, dia hanya nyemil dan kembali minum minum seperti dahulu.


Bahkan dia kembali bermain wanita di cafe momy sintya. Dia juga sudah bermain dengan Lira beberapa kali.


"Fan... Kau sangat perkasa, pantas saja Maura mau setia padamu. Kalau kau menjamin ku, aku juga mau kok kayak Maura, jadi wanita simpanan satu malam mu!" goda Lira.


"Heh, kau itu sampah, tidak seperti Maura, dia hanya milik ku," ketus Aufan kesal, karena Lira ingin di perlakukan seperti Maura.


"Fan, jahat sekali mulutmu itu, tapi kau juga menikmati semuanya dari ku kan? Kau bahkan lupa diri saat bersamaku," ucap Lira.


"Hey wanita mu rahan, apa kau tidak merasa, kalau aku itu membayangkan kau adalah Maura ku, bahkan aku memanggil Maura saat mendagi bersamamu," ketus Aufan.


Aufan lun berdiri dan meletakkan segepok uang di meja cafe.


"Ini ..., aku tidak akan datang lagi ke mari, aku hanya lagi stres saat ini, karena tidak juga menemukan Kiara," ucap Aufan.


Lira pun memungut uang pemberian Aufan.


"Aufan, kau akan jatuh ke pelukan ku, dan sekarang, aku akan berusaha memilikimu, lagian? Aku juga siap hamil anakmu, karena saat kita bermain, kau tidak sadar, aku telah melepas pengaman mu, dan membiarkan benih itu akan tubuh di rahimku," gumam Lira.


Oooh, ternyata Lira memang sangat licik, apakah Lira juga akan hamil? Karena ini usaha Lira agar Aufan terikat dengannya.


Aufan terus berjalan meninggalkan Cafe Mami, tiba-tiba, suara telepon berdering.


"Helo? Ada apa?" tanya Aufan saat melihat layar, yang menelepon adalah jongos kirimannya.


"Aku melihat Nona Maura, di sebuah restauran bersama perempuan lain Tuan!" ucap orang itu.


"Benarkah? Kau awasi dia! kau tidak boleh kehilangan dia! aku akan membayar mu 5 kali lipat, kalau kau berhasil kali ini," ucap Aufan bersemangat.


"Baik Tuan Bos."


Telepon pun di tutup. Aufan tersenyum karena merasa senang. Aufan segera berjalan cepat mendekati mobilnya yang parkir di halaman Cafe, dengan perasaan yang sangat senang, dia pun menuju lokasi yang di sharelok oleh bawahannya tersebut.


Dia pun menelepon Paman Dito.


"Paman, aku menemukan Maura, dia sekarang berada di sebuah kota, dan sekarang aku akan menuju ke sana," ucapnya.


"Benarkah? beri aku lokasinya juga, aku juga ingin bertemu dengan dia, Aku ingin memastikan, Apakah benar dia adalah anakku dengan Winar, atau bukan, aku pasti bisa merasakannya," ucap Dito.


"Baik Paman, aku akan mengirim alamatnya."

__ADS_1


Aufan pun memasuki mobilnya dan segera tancap gas meninggalkan kafe tersebut. Sepanjang jalan, dia tampak fokus ke jalanan sambil mendengarkan musik yang dia sukai.


"Maura ..., kali ini aku tidak akan Melepaskan mu lagi. Aku mohon maaf, karena aku telah meragukan anak yang engkau kandung itu, Maura, tunggu aku!" gumamnya.


Tanpa Aufan sadari, ternyata, sudah satu minggu ini Vena kembali mengikuti Aufan, Vena yang berada di belakangnya tampak tersenyum.


Mobil Aufan melaju di jalanan yang ramai. Dia bahkan membalap beberapa mobil yang ada di depannya.


Sementara, di sebuah restoran, tampak Maura dan Alin sedang menikmati makan siangnya, sebelum sampai ke apartemen barunya. Tiba-tiba telepon Maura berdering.


"Kenapa Papa mau nelpon ku ya?" tanya Maura, sambil menatap Alin.


"Masa? dia kan tadi ke toilet?" tanya Alin heran.


"Aku coba angkat dulu deh," ucap Maura.


"Hello ..., Maura, sepertinya ada orang yang sedang memata-matai mu! sekarang aku berada di dekat toilet, namun aku melihat seseorang di halaman parkiran yang selalu menatap ke arahmu, Aku takut itu adalah orang suruhan Vena, Jadi aku minta kau dan Alin segara ke toilet, dan kita bisa pergi Lewat pintu belakang, biar aku menyuruh seseorang untuk membawa mobil kita, meninggalkan halaman tersebut!" titah Irlangga.


"Benarkah la? Baiklah, kami akan segera ke sana," ucap Maura.


Maura menceritakan masalah telepon Irlangga, Alin pun mengerti. Alin menatap halaman warung makan, dan benar saja, di sana ada seorang pemuda yang terus menatap Maura, dengan tatapan misteri.


Maura juga menyusul ke toilet, tanpa di curigai sang mata-mata tersebut. Setelah mereka melewati jalan tembus yang di bantu karyawan warung lewat jalan belakang.


Tampak Pak Irlangga, Maura dan juga Alin sudah berada di jalan tembus Gang kecil, menuju sebuah jalan besar, yang ada di belakang restoran tersebut.


"Ini Pak kuncinya," ucap karyawan tersebut.


"Terima kasih banyak, anak muda, ini buatmu," Ucap Irlangga.


Dia pun memberikan dua lembar uang kepada karyawan itu, sang karyawan sangat berterima kasih.


Maura, Alin dan juga Pak Irlangga pun pergi meninggalkan tempat tersebut menuju Kota.


***


Aufan sudah berada di restauran tersebut, dia pun segera menemui orang suruhannya.


"Bagaimana? Di mana Maura ku?" ucap AufN sangat bersemangat.


"Maaf Tuan, tapi...."

__ADS_1


"Apa maksudmu? Jangan bilang kau kehilangan jejak!" ketus Aufan marah.


"Iya ..., Tuan, sudah 30 menit, Nona Maura tidak keluar dari toilet, namun....


Bugh bugh


"Dasar tidak becus, bagaimana mungkin kau kehilangan dia!? Cari sampai dapat! Cepat!"


Aufan berteriak sangat marah, di juga telah memberi pemuda itu 2 kali bogam mentah di perutnya.


"Iya Tuan," sahut pemuda itu.


Pemuda itu pun masuk ke dalam warung makan dan menanyai karyawan perihal wanita yang tadi makan di warung itu.


"Maaf Tuan, tapi mereka sudah pergi," ucap karyawan.


"Tapi ..., aku tidak melihat dia keluar?" tanya pemuda heran.


"Mungkin Tuan sedang melihat ke arah lain, hingga tidak menyadarinya," ucap karyawan.


"Tidak mungkin, aku slalu melihat ke sini, namun saat dia ke belakang, mungkin ke toilet, namun dia tidak keluar-keluar," protes Pemuda.


"Tapi mereka memang sudah pergi," ucap karyawan.


"Baiklah, terima kasih," ucap Pemuda lesu.


Pemuda itu berjalan keluar dengan gontai. Dan mendekati Aufan. Aufan pun sudah menebak apa yang akan di katakan oleh pemud itu.


Plak plak


Kembali tam paran mendarat di pipi pemuda itu. Ah Aufan kau terlalu kejam. Bukankah kau yang telah menyianyiakan Maura sebelumnya?


***


Gedung Rumah sakit Elit tepat Jam 23.00


Maura tampak sudah mengenakan baju operasi, karena malam ini juga dia akan operasi cesar dengan dua bayi kembar yang di kandungnya.


Pasti sangat lucu dan sangat menggemaskan. Pa Irlangga pun menanti kelahiran cucu pertamanya itu dengan harap-harap cemas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2