
Aufan, Maura dan Ibrahim tampak duduk di teras rumah mewah itu.
"Aku hanya ingin pamitan Maura, aku akan keluar kota, mungkin untuk beberapa bulan. Aku tidak bisa menjenguk anak-anak. Aku harap kau bisa menjaganya dengan baik," ucap Aufan sambil duduk dan menunduk di depan Maura.
Hari ini Aufan sangat berbeda, kalau biasanya dia akan marah-marah, memaksa seseorang untuk menuruti kehendaknya, namun kali ini dia begitu kalem.
"Oh ..., tenang saja, aku pasti akan menjaga anakmu, Aufan, karena mereka juga adalah anak-anakku. Kau tidak usah mengkhawatirkan anak-anak, begitu juga dengan Maura, dia sangat menyayangi anak-anaknya. Jadi tidak mungkin anak-anak terlantar begitu saja."
"Tuan Ibrahim, terima kasih Tuan banyak, aku juga mohon maaf, mungkin selama ini aku sering khilaf dan melakukan kekerasan ataupun menyakiti hatimu."
"Sama-sama Aufan," ucapnya.
"Kalau begitu, aku pamit," ucap Aufan seraya berdiri.
Kemudian Aufan pun bersalaman dengan Ibrahim. Begitu juga dengan Maura ,walaupun mereka tidak bersalaman tangan, namun hanya menyatukan tangannya di atas dada. Sepertinya Aufan sungguh tulus kali ini minta maaf kepada Maura. Aufan pun pergi tanpa menoleh ke belakang. Bahkan dia juga lupa pamitan kepada kedua Putra kembarnya.
Sepeninggalan Aufan ,Maura dan Ibrahim pun akhirnya pergi menuju tempat perbelanjaan, di perjalanan, Ibrahim tampak menatap istrinya itu dan membelai lembut kepala sang istri.
"Maura, sebenarnya aku ingin kita pindah rumah dari rumah ibuku, tapi kau tahu 'kan kalau Ibuku cuma memiliki aku?" ucap Ibrahim kepada maura.
"Mas, kita tidak perlu pergi dari rumah itu. Aku tidak apa-apa kok, bahkan sebelumnya aku lebih sakit dari itu, hanya perkataan beliau begitu, aku pasti bisa menahannya kok, dengan aku diam, suatu saat nanti mungkin beliau akan menerimaku," ucap Maura.
Tiba-tiba telepon Ibrahim berdering.
"Hello ... hello ... Tuan silahkan Tuan kembali, karsna Nyonya besar hiks hiks Nyonya besar Tuan...."
__ADS_1
"Ada apa dengan ibu? Katakanlah! Ada apa Bi?"
"Tuan , sebaiknya Tuan pulang dulu, nanti Tuan akan tahu sendiri, Oh iya Tuan langsung ke rumah sakit saja ya, karena Ibu sekarang sedang sakit," ucap pembantu itu.
"Baiklah, kau kirim alamat rumah sakitnya."
Telepon di tutup.
"Ada apa Mas?" tanya Maura.
"Aku juga tidak tahu, katanya Ibu sakit."
"Sakit apa? Bukannya dia tadi baik-baik saja?" ucap Maura.
Ibrah pun bantinf setir dan menuju rumah sakit di mana ibunya dirawat, setelah 20 menit. Ibrahim pun sudah sampai di rumah sakit.
"Bibi, di mana ibu?"
"Tuan, Maafkan saya, hik hik hik ."
"Ada apa?"
"Saya tidak bisa menjaga Ibu, Tuan."
"Ada apa emangnya? apa yang terjadi dengan ibu? Bukankah tadi di baik-baik saja?"
__ADS_1
Ibrahim lun dibawa menuju ruangan ibunya.
"Tuan, Ibu sedang dioperasi, sebenarnya setelah kalian pergi tadi, ibu nekat mau membeli sesuatu di warung depan, dia bilang dia sangat ingin, aku sudah menyuruhnya tunggu sebentar, karena aku sakit perut dan ingin BAB, namun Ibu Anda tidak mau menunggu. Hingga entah mengapa, saat dia keluar dari pagar dan menuruni sedikit gunungan itu. Roda kursi itu tidak terkendali. Kemudian dia terjatuh. Namun saat dia jatuh, tiba-tiba mobil melintas di depan sehingga tubuhnya pun tertabrak. Untung kepalanya tidak apa-apa Tuan.
Ibrahim hanya bisa meringis mendengar cerita bibi.
Tak berapa lama, seorang dokter keluar.
"Tuan keluarga ibu Anggi," tanyanya.
"Iya dok."
"Maaf, tangan Ibu Tuan tidak bisa di selamatkan, jadi tangan kanan Ibu Tuan harus diamputasi. Kalau Tuan mengijinkan, maka kami akan segera mengoperasinya," ucap seorang dokter .
"Ya Allah, Apa yang terjadi dokter? Apakah tidak ada cara lain?"
"Tidak Tuan, kalaupun itu dipertahankan, mungkin tangan itu akan membusuk Tuan."
" Baiklah semuanya apa yang terbaik saja dok," sahut Ibrahim pasrah.
"Baiklah Tuan, sekarang bisa ikut asisten ini, untuk mengisi berkas."
Ibrahim lun mengikuti asisten itu untuk tanda tangan berkas operasi sang mama.
Bersambung...
__ADS_1