Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Pucat


__ADS_3

Akhirnya malam ini pun pernikahan Aufan dan maura gagal. Tampak papa Aufan sangat marah dan kesal. Setelah dua saksi dan pak penghulu pulang, tampak papa Aufan membanting beberapa toples bekas jamuan tamu sampai pecah berantakan, Mami Aufan pun tidak berani untuk meredakan emosi papa Aufan. Maura hanya bisa tertunduk kemarahan, Pa Irlangga makin menjadi-jadi, dia bahkan menendang meja yang terbuat dari kaca sampai remuk.


Maura memutuskan untuk berdiri san pamit untuk ke kamar.


"Sdahlah Pa... tidak apa-apa kok, masih ada hari esok, lagian bayi ini juga baru berusia 4 bulan," hibur Maura,l menenangkan calon mertuanya.


"Maura, aku tidak bisa dihina seperti ini, Aufan sudah berani membangkang padaku, padahal selama ini dia tidak pernah berani melawan ku," ucap Pa Irlangga.


"Papa, tidak apa-apa, mungkin mereka lupa atau baterai mereka sudah habis, sebaiknya papa istirahat saja, Maura mau ke kamar duluan Pa," ucap Maura.


Dia pun berdiri dengan meninggalkan ruang tamu tersebut, karena rasanya air matanya sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Saat sudah sampai di depan pintu.


"Maura... apa kau marah pada papa?" tanya pak Irlangga.


"Untuk apa aku marah pada Papa? Ini bukan salah Papa, aku mau istirahat dulu Pa," ucapnya.


Maura pun berjalan masuk ke kamarnya, sementara Papa Aufan juga masuk ke kamarnya di iringi Mami.


"Bi... tolong rapikan semua ini ya! sebelum pagi semuanya sudah beres," titah Mami pada bibi.


"Ya Nyonya Besar," sahut bibi.


Bibi pun merapikan semua beling-beling yang berserakan di lantai ruang tamu, sementara Maura di kamarnya.


"Sayang... maafkan mama,,, mungkin mama belum bisa memanggil Papamu, untuk menjadi ayahmu yang sebenarnya, namun Mama janji, saat kelahiran nanti kau punya Papa Nak," ucap Maura.


Air matanya pun menetes satu persatu, dia berbaring di ranjang nya dan mulai terlelap.


***


Pagi yang cerah. Tampak Vena dan Aufan masih terlelap di kamar hotelnya, ternyata tadi malam Vena telah membubuhkan obat tidur pada makanan Aufan. Sehingga Aufan tertidur dan dibawanya menginap di sebuah hotel di kota tersebut.


Vena tampak menggeliat. Dia pun perlahan membuka matanya dan menatap Aufan yang ada di sisinya.


"Jam berapa sekarang?" ucapnya kemudian.


Dia pun menghidupkan ponselnya dan menatap jam yang ada di sana.


"Sudah jam 09.00, oh ternyata aku kesiangan, Fan.... bangun! Fan! kita pulang!" ajak Vena.

__ADS_1


"Ada apa sayang? aku masih mengantuk," sahut Aufan.


"Ini sudah jam 09.00, bukankah kita harus pulang ke rumah? ayo cepat!" desaknya lagi.


Akhirnya Aufan dan Vena pun bangun dan mandi. perasaan was-was yang ada di hati Vena, takut akan terjadi sesuatu karena mereka tidak pulang tadi malam.


"Sayang ... Bagaimana kalau kita pindah rumah saja? oh iya, Apakah kamu jadi membelikan aku sebuah hadiah Villa?" tanya Vena .


"Aku ada berjanji ya?kalau begitu, boleh. Bagaimana kalau sekarang saja kita mencari villanya?" ajak Aufan.


"Benarkah? Apakah kau punya uang? tanya Vena.


"Kalau sekarang sih aku belum punya uang sebanyak itu, Tapi kan aku bisa minta sama papa, kamu pengen Villa yang daerah mana nih?" tanya Aufan.


"Yang agak di pegunungan saja, aku suka yang dingin-dingin," sajut Vena.


"Baiklah, kalau begitu, kita ke daerah Bandung aja, yang dingin ya, Biar kamu betah di sana, kalaupun teman-temanmu datang berkunjung nanti," ucap Aufan.


Akhirnya mereka pun meluncur menuju Bandung, untuk mencari sebuah Villa hadiah pernikahan mereka. Mereka meluncur ke daerah Bandung dengan kecepatan penuh, karena jalanan tampak sepi.


Sementara di rumah Pak Irlangga, Pak Irlangga tampak sedang sibuk mencari berkas-berkas di ruang kerjanya.


"Papa Kenapa sibuk sekali? Memangnya Papa mau ngapain sih?" tanya Mami.


"Secepat itu Pa? bukankah kita belum tahu apa benar itu anaknya Aufan? kita harus tes DNA dulu Pa!" ucap Mami.


"Aku percaya sama Maura. Entahlah setiap aku melihat wajahnya, Aku sangat percaya padanya, walaupun aku tidak... aku belum tahu hasil tes DNA-nya nanti, aku aku percaya," Ucap pak Irlangga.


"Sebaiknya nunggu dia lahir saja, Pak, kita tes DNA dulu, barulah kita memberikan dia wewenang sebuah perusahaan," saran Mami.


"Tapi aku tidak sabar Mi, aku benar-benar ingin cepat menimang cucuku," ucapnya.


Tok tok tok


Ceklek


"Maaf Pah, ini Maura,"


Mami pun membukakan pintu dan menatap Maura yang sedang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Mami.


"Hari ini aku ingin ke toko bunga, untuk mengambil barang-barangku, kemarin sebenarnya sudah ingin dipaketkan, tetapi terlalu banyak barang yang dibawa, jadi, aku memutuskan untuk ke sana dan memilih barang-barang yang masih bagus untuk bawa kemari," ucap Maura.


"Untuk apa kamu membawa barang-barang mu dari sana? Kamu bisa beli yang baru kok, Nak, Nggak usah repot-repot lah kamu ngambil di sana, kasihkan saja semua itu kepada temanmu," ucap Papi.


"Tidak apa, aku merasa bangga kalau bisa memakai baju-bajuku yang dulu, karena itu hasil jerih payahku yang dulu Pa," ucap Maura.


"Tapi kan kamu bisa beli yang baru, kamu itu calon miliarder lho Nak, kau akan melahirkan cucuku, cucu dari sang pewaris kerajaan keluarga Irlangga, kamu jangan lupa itu!" Ucap papanya lagi.


"Iya Pa, tapi aku tetap harus mengambil beberapa barang, karena ada barang-barang yang tidak bisa aku beli, seperti kenang-kenangan ku bersama orang tuaku, karena dulu aku tinggal di Panti dan beberapa foto lainnya," ucap Maura.


"Oh... jadi kau pernah tinggal di Panti?" tanya Mami.


"Iya Mi," sahutnya.


Entah mengapa Mami pun teringat sesuatu.


"Seandainya anak Bibi yang dulu masih ada di sini, mungkin dia seumuran denganmu Maura," batinnya Mami.


"Sebaiknya kau ajak Maura untuk berbelanja pakaian, setelah itu pulangnya barulah kau ke toko bunga Maura, untuk mengambil barang-barangnya yang masih belum diambil," Ucap pa Irlangga.


"Baiklah Pa, Maura... ayo siap-siap, aku juga akan siap-siap, hari ini kita belanja sepuasnya," ucap Mami tapi.


"Mi, aku belum memerlukan apa-apa saat ini, aku hanya mau mengambil beberapa bajuku, dan juga beberapa foto kenangan masa laluku," ucap Maura.


"Tidak apa-apa, ayo kamu belanja sana! sama Mama mertuamu, hari ini aku akan bekerja ke kantor, dan mengurus surat-surat ini untuk anakmu nanti, kau jangan khawatir, dengan masa depanmu, meskipun Aufan tidak mau menikah denganmu sekalipun, kau tetap akan menjadi menantuku Maura," Ucap pak Irlangga.


"Baiklah Pa, Terima kasih banyak kalau begitu, aku formasi dulu," ucapnya.


Maura meninggalkan kamar Pa Irlangga. Sementara Pak Irlangga tampak berkemas untuk pergi ke kantor membawa beberapa berkasnya.


***


Vena sudah sampai di Bandung, dia pun menghubungi beberapa penjual Perumahan, dan Villa yang ada di kota itu, karena merasa kehausan. Mereka pun mampir di sebuah warung es kelapa di pinggir jalan, saat mereka santai duduk datang seorang laki-laki bersama seorang anak kecil perwmpuan.


Laki-laki itu menatap Vena tajam, kemudian mendekatinya.


"Vena? Sedang apa kau kemari?" tanya lelaki itu.

__ADS_1


Seketika wajah Vena berubah menjadi pucat, dia pun menatap anak kecil itu tajam.


Bersambung...


__ADS_2