
Dito terus melamun. Beberapa kali Irlangga memanggil namun Dito tidak juga menjawab.
"Dito! kau melamun? Dito! Hey... kau melamun apa?" tanya Irlangga, namun yang dipanggil tetap belum mendengar.
"Dito!!!" teriak Irlangga.
"Oh iya mas, ada apa?" tanya Dito.
"Kau melamun apa sih, serius amat?" ucap Irlangga.
"Oh tidak Mas, aku mau ke kamar dulu," ucapnya.
"Apa kamu jadi ikut ke kantor hari ini?" tanya Irlangga.
"Nanti aku menyusul, aku mau mandi dulu, baru datang tadi malam juga," ucap Dito.
"Baiklah."
Kemudian Dito pun pergi meninggalkan Irlangga di ruang tamu, sementara di kamar Maura. Maura tampak sibuk merapikan pakaiannya yang kemaren diambil dari kamar lamanya, di toko bunga.
"Ke mana ya? kemarin aku letakkan di sini, kok nggak ada?" gumam Maura.
Sepertinya Dia sedang mencari sesuatu yang hilang. Maura sudah mengobrak abrik bawaannya, namun belum juga menemukannya.
"Kenapa tidak ada? padahal hanya itu yang kenangan satu satunya di kehidupanku," ucapnya lagi.
"Sayang... sebenarnya aku ingin membawamu jauh dari sini, namun aku ingin kau memiliki akte lahir dulu, agar kelak kau tidak di-bully oleh mereka-mereka, seperti aku yang tidak punya orang tua," ucap Maura.
Dulu saat di panti, Maura sekolah di luar panti, Maura sering di bully karena tidak punya orang tua, panti hanya wadah untuk menampung mereka yang tidak punya keluarga, sedang untuk sekolah, mereka harus keluar pada panti dengan berjalan kaki.
Maura terus mengelus perutnya.
"Rasanya aku sangat rindu dengan ibu panti, atau boleh aku ke sana ya? sebaiknya aku izin dulu sama Papa, mudahan beliau mengijinkan aku untuk menginap beberapa hari di panti itu," ucap Maura lagi.
Akhirnya Maura pun menyelesaikan pekerjaannya, dan merapikan baju bajunya ke dalam lemari yang ada di kamarnya, baju-baju yang kemaren juga dibeli oleh Mami, saat ke pasar bersama mertuanya itu. semua baju sudah di rapikannya ke dalam lemari.
"Baiklah, sekarang aku mau ke dapur dulu, laper- gumamnya.
Maura pun berjalan keluar kamarnya. Namun dia terkejut saat melihat ada laki laki sedang berdiri di dekat tangga.
"Siapa lelaki itu" batin Maura dalam hati.
Kemudian Maura cuek dan dia tidak menghiraukan lelaki itu. Dia hanya menatap sekilas kemudian berjalan melewati lelaki itu.
"Heey Nona, siapa kau?" tanya Dito.
Karena mereka belum bertemu karena Dito bari datang malam tadi. karena Maura banyak di dalam kamar.
"Oh maaf Tuan, Anda siapa?" tanya Maura.
__ADS_1
"Aku yang bertanya, kenapa kau balik bertanya?" ucap Dito sedikit ketus.
"Iya... aku bukan siapa-siapa Tuan, aku cuma...."
"Dia calon menantu ku," ucap Irlangga yang tiba-tiba saja datang dari dapur.
"Calon menantu? bukankah menentu mu itu Vena? si gadis genit itu," tanya Dito.
"Ya menantu ku emang Vena, tapi dia, juga akan menjadi menantuku kok," sahut Irlangga.
"Emang menantu mu yang terdahulu ke mana?" tanya Dito lagi heran.
"Masih ada, tapi Dia ini sekarang sedang hamil anak Aufan," ucap Irlangga.
"Sedang hamil? kapan kalian menikah," tanya Dito tambah heran.
"Sudahlah tidak usah dibahas, ayo kita berangkat," ucap Irlangga sekali lagi.
Sekali lagi Dito menatap mata Maura tidak berkedip 'kenapa matanya mirip sekali dengan winarti' Bagin Dito.
Sementara Maura pun berjalan ke dapur meninggalkan mereka berdua.
"Bibi... apa ada makanan yang bisa di makan? aku merasa lapar," ucap Maura.
"Banyak Non, Non mau buah? ada banyak kok di kulkas," ucap Bibi.
"Hemmm, kelihatannya segar dan enak nih," puji Maura.
Kemudian Maura pun mengambil sebiji anggur, namun saat menelan nya, dia merasa mual dan muntah kembali.
"Aku gak bisa menelan, lidahku terasa kecut gitu," ucap Maura.
Maura pun kembali masukkan buah buah ke dalam kulkas.
"Aku mau makan saja Bi," ucapnya.
Maura pun mengambil piring dan mengambil nasi dan membuka tudung saji.
"Mudahan kamu berjodoh dengan Aufan, dan menyingkirkan si Vena wanita ******* itu," ucap Bibi.
"Kenapa Bibi berkata begitu?" tanya Maura heran.
"Dia itu sebenarnya kayaknya jahat, mencintai Tuan muda hanya karena uangnya saja, coba kalau Aufan bangkrut, pasti dia bakal ninggalin Aufan juga kan?" ucap Bibi.
"Tapi mereka saling cinta' kan? Katanya mereka sudah lama pacaran, bahkan Vena itu sering menginap di rumah Aufan ini," ucap Maura.
"Iya, seperti kumpul ke** gitu," ucap Bibi.
"Biarlah, itu urusan mereka Bi, lagian aku juga bukan orang suci, lihatlah keadaanku sekarang, hamil di luar nikah," ucap Maura.
__ADS_1
"Tapi aku sudah dengar kok ceritamu dari Mami sambung Aufan, kamu pasti orang baik Ndu, aku bisa merasakannya saat berbicara denganmu," ucap Bini.
Maura pun tersenyum, namun tiba tiba matanya perih dan meneteskan air mata kesedihan.
"Non kenapa? Kok nangis, Bibi salah bicara ya Non?" bibi merasa bersalah dan panik.
"Nggak kok Bi, aku merasa, aku tak seberuntung mereka, mereka menikah dan punya keluarga bahagia, walau pun pas pasan, tapi mereka bahagia," ucap Maura.
"Iya Non, namun kita punya jalan takdir masing masing kok, nanti Non juga pasti merasakannya, orang baik memang kadang mendapatkan kebahagiaan di ujung, karena kudu di uji dulu," ucap Bibi.
"Bi... Papa mana?" teriak Aufan dari depan pintu utama.
Ternyata Aufan dan Vena sudah datang dari bandung. Mereka datang dan langsung menuju dapur. Maura pun merasa tidak enak karena makan sendirian.
"Oooh, ternyata Nyonya Muda sedang makan? Enak betul hidup Lu, numpang di rumah orang seenaknya," ketus Vena.
"Dia belim makan dari pahi Non Vena, apa kamu juga mau makan?" tanya Bibi.
"Ogah, nggak nafsu aku semeja dengan wanita rendahan kayak Dia ini, c**ih," icapnya berpaling.
"Papa mana Bi?" tanya Aufan.
"Ke kantor Tuan Muda," sahut Bibi.
"Bi, aku mau ke kamar saja, biar nasinya ku bawa saja," ucap Maura.
Maura pun berjalan akan melewati Vena namun.
Brak...
Maura tersandung kaki Vena yang memang sengaja di panjangkannya saat Maura lewat.
"Aduh," pekik Maura.
"Klo jalan mata liat liat!" ucap ketus Vena, kemudian Dia tersenyum.
Sementara Aufan hanya menatap biasa. Dan tak bereaksi, kayaknya racun Vena telah manjur pada Aufan.
"Nona... Kau tidak apa apa? Non Vena, kamu jahat banget sih?" ucsp Bibi berani.
"Hey... Jong-os... Apa Lu bilang? babu aja blagu Lu!" ketus Vena lagi.
"Ven, sudah diem diem, aku pusing," ucap Aufan.
Terkilas kenangan masa lalu, saat Bibi Winar di usir dari rumah karena hamil. Saat Vena memarahi Bibi ini, mungkin ingatan Aufan kadang pulih dan kumat.
Maura pun menangis sambil memunguti nasi di lantai, namun dia menahan isakan nya, hanya air matanya yang menetes.
Bersambung...
__ADS_1