
Aufan hanya berdiri terpana menatap ke arah Maura. Ke dua bayi mungil yang ada di ruangan itu membuat Aufan terpana, bahkan kakinya seakan lemas, jantungnya berdetak dengan cepat menahan rasa rindu yang tiada tara.
Air matanya pun jatuh menetes satu demi satu, hingga akhirnya dia pun terduduk di lantai dengan mengusap wajahnya lembut, mengusap air mata di wajahnya dengan kedua tangannya, Maura pun tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menatap lelaki yang pernah singgah di hari-harinya kelamnya dulu. Lelaki yang sempat menjadi suaminya 5 bulan silam.
"Tuan muda?" sapa Alin kaget.
Kemudian Aufan pun tersadar, kemudian dia berdiri dan mendekati bayi mungil yang sedang tidur di dalam box bayi.
Maura gugup dan sangat takut. Takut kalau Aufan akan menyakiti bayi mungilnya. Takut kalau Aufan hanya bersandiwara dengan kata katanya tadi. Maura gugup setengah mati.
"Anakku, Apa benar mereka ini anakku? anakku kembar, Maura? Apakah aku bermimpi?" ucap Aufan sambil membelai lembut tangan mungil yang sedang tertidur pulas itu.
"Aufan ..., Aku tidak ingin kau mengakuinya kalau semua itu hanya terpaksa, kami tidak akan menjadi beban hidupmu, kalau kamu menganggap mereka bukanlah anakmu, itu adalah hak mu, dan selama kami menjauh darimu, aku sudah menerima dan mengikhlaskan semuanya," ucap Maura.
"Maura ..., Tidak, selama 5 bulan ini aku sudah mencarimu ke mana-mana, aku juga baru tahu kejahatan Vena, dia berselingkuh dengan laki-laki lain, dan dialah yang telah memberiku obat, sehingga aku menjadi amnesia, syaraf-syaraf otakku rusak Maura," ucapnya.
"Astagfirullah, Benarkah? Mengapa Vena sekejam itu?" ucap Maura tak percaya.
"Aku juga tidak tahu MAura , namun sekarang aku sudah sadar, sekarang aku ingin kita kembali memulainya dari awal, aku ingin memulainya dari nol denganmu, Maura," ucap Aufan.
"Maaf Aufan, tapi aku bukanlah yang dulu, aku sudah berubah dan mungkin saja kita tidak akan bisa punya kecocokan, karena pergaulan mu dan pergaulanku sekarang berbeda, Aufan," ucap Maura.
"Apa maksudmu? Apanya yabg berubah? aku tidak mengerti?" tanya Aufan.
"Sudahlah, aku perlu harus memikirkannya matang-matang, agar Antara Aku dan kau tidak ada yang merasa sakit hati kelak," ucap Maura lagi.
"Tidak! kau harus kembali ke rumah denganku! kita akan merajut bersama lagi dari awal, kita akan memulainya dari awal Maura!" emosi Aufan tak terkendali.
Kemudian tanpa di duga dia pun mendekati Maura dan memegang tangan Maura.
"Aufan, tidak semudah itu, Kau pernah menolakku, bahkan kau pernah menghinakan diriku, juga menolak bayi yang ada di kandunganku saat itu. Bagaimana mungkin aku bisa menerimamu begitu saja?" Ucap Maura.
"Aku janji, aku akan patuh padamu, apapun yang kau inginkan, aku akan memberikannya, kau ingin rumah? Villa? atau perusahaan? aku akan memberikannya untukmu. Lihatlah dua bayi ini! dia adalah anakku! dia adalah ahli waris dari keluarga Irlangga! kau tahu kan? perusahaan papaku ada di mana-mana," ucap Aufan.
__ADS_1
"Maaf Aufan, tapi belum tentu harta bisa membahagiakan seseorang, Karena kebahagiaan itu bukan ditakar dari harta yang berlimpah, akan tetapi dalam jiwa dan hati yang tenang," balas Maura.
"Kenapa kau sekarang begitu pkeras kepala Maura! pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus kembali denganku! hari ini juga ke rumah!" ucap Aufan memaksa.
"Selama 5 bulan sudah kita berpisah, dan kemungkinan sekarang status cerai itu sudah kita sandang, karena kau tidak pernah memberi aku nafkah batin, ataupun nafkah lahir," ucap Maur.
"Tapi bukankah yang menghidupi mu selama ini adalah Papaku? berarti itu juga hartaku kan?" ucap aufan.
Maura pun terdiam, dia sudah tidak ingin berdebat, karena dia sudah merasa lelah dengan semua perlakuan Aufan selama ini.
Maura diam dan terus menyusui bayi mungil yang sudah terlelap tidur itu.
Namun tiba-tiba, Aufan menggendong bayi mungil yang sedang tertidur itu, dia mengambilnya dari dalam Box dan membawanya berjalan ke pintu.
"Baiklah, kalau kau tidak ingin kembali denganku, maka anak ini kita bagi dua saja, karena anak ini kembar, kau satu dan aku membawa satu, kalau kau tidak bisa memaafkan ku, biarlah ini yang aku bawa," ucap Aufan sambil berjalan cepat ke arah pintu.
"Jangan! mereka butuh Ibu, mereka butuh AsI Aufan, jangan gegabah!" teriak Maura.
"Jangan Gi*la kau Fan!... Mbak Alin, cegat dia!" ucap Maura.
Maura pun meletakan kembar satunya, dan mengejar Aufan. Alin juga mencengkram tangan Aufan.
"Bukankah kau adalah suruhan papaku? berarti kau juga suruhan ku kan?Jangan berani menyentuhku! lepaskan!" bentak Aufan sangat ganas.
Alin pun merasa takut, dwngan sangat terpaksa melepaskan genggamannya.
"Auwan terus berjalan dengan cepat dan kemudian keluar dari kamar itu, Maura terus berjalan cepat. Namun karena luka operasi masih terasa sakit, dia pun tidak berani mengejar dengan cara berlari.
"Mbak Alin. Bagaimana ini?" ucap Maura.
"Tenanglah, dia pasti pulang ke rumah, sudah tentukan dia akan bertemu dengan papamu? Jangan khawatir, aku akan menelepon Tuan Irlangga," ucap Alin.
Alin mengambil teleponnya dan mulai menghubungi pa Irlangga.
__ADS_1
Sementara Aufan pun sudah berhasil membawa satu kembar turun lift, dan masuk ke dalam mobilnya.
"Sayang ..., aku akan menjagamu, Aku bisa, Aku pasti bisa merawat mu, seperti Ibumu merawatmu sebelumnya, kita akan beli susu formula dulu Nak!" ucapnya.
Sementara Maura di dalam kamar tampak gelisah, Alim pun masih menghubungi pak Irlangga. Tak Berapa lama, Pa Irlangga pun mengangkat telepon.
"Ada apa Alin? Kenapa kamu nelponku berulang-ulang?" tanya Pak Irlangga.
"Gawat Pak Bos, Aufan tadi kemari, kemudian sekarang dia sedang membawa satu kembar pergi dari hotel ini, kami tidak bisa mengejarnya, Tuan," ucap Alin.
"Apa? Aufan mengetahui tempat itu? Bagaimana mungkin," heran Irlangga.
"Iya Tuan, tampaknya dia mengikuti mu dari siang tadi, Tuan, Karena setelah Tuan pergi, dialah yang mengetuk pintu kami, Aku tidak tahu kalau itu dia, Kukira itu adalah Tuan Bos, yang kembali ke kamar, namun setelah kubuka pintu, ternyata Aufan yang menerobos masuk," ucap Alin
"Baiklah, aku akan segera pulang," ucap Pa Irlangga.
Dia pun menutup teleponnya. Dan segera putar arah. Pa Irlangga sudah mengambil hasil tes, dan bermaksud menengok kantornya, karena sudah satu minggu ini dia tidak masuk kantor, karena mengaku sedang ke luar kota.
Setelah perjalanan satu jam. Irlangga pun sampai di depan pintu rumahnya. Tampak Mami sudah menunggu di kursi teras rumah.
"Papa! Tolong jelaskan, ke mana Papa selama satu minggu ini?" tanya Mami dengan wajah marah.
"Apa maksud Mami?" tanya Pa Irlangga.
Tiiit
Tiba-tiba sebuah motor masuk ke teras rumah dan membunyikan klakson begitu nyaring. Membuat Pa Irlangga menoleh, begitu juga Mami.
"Selamat siang, boleh aku mampir?"
Seketika wajah Mami pucat bagai mayat baru di angkat dari kuburan.
Bersambung...
__ADS_1