
Aufan terus merengek meminta pergi ke pasar. Akhirnya Maura pun mengalah, Maura bersiap-siap mandi begitu juga Aufan. Mereka sudah terlihat rapi.
"Mas, tapi sebentar saja ya! Aku tidak mau berlama-lama di pasar, aku lelah Mas, aku sekarang merasa sangat capek, kalau terlalu lama berjalan, pengennya berbaring saja," ucap Maura.
"Iya, Sayang... aku janji, aku mau memilihkan baju pertama buat anakku," ucap Aufan.
Kemudian Aufan dan Maura pun pergi memanggil taksi, namun Aufan lupa, bahwa sekarang dia tidak mempunyai uang sepeserpun, tapi Maura sudah tahu itu, jadi dia membawa tabungannya sendiri untuk berbelanja hari ini.
Sesampainya di pasar, Aufan dan Maura menuju toko peralatan bayi. Aufan memindai seisi Toko.
"Mbak, aku mau cari baju bayi, untuk bayi pertama kami," ucapnya sangat bersemangat.
"Istri anda sedang hamil?" tanya wanita itu.
"Iya Mbak," ucap Aufan.
"Tapi apakah tidak terlalu cepat? kalau kata orang tua sih, terlalu cepat mencari barang-barang untuk bayi, itu pamali..." ucap penjual pakaian.
"Benarkah? Masa sih? tapi aku nggak percaya ah," ucap Aufan.
Kemudian dia pun memindai-mindai toko yang ada di depannya.
"Aku mau beli... Aku mau beli baju pertama anakku," ucap Aufan lagi.
"Baik Tuan, mau perempuan atau laki-laki?" ucap perempuan itu.
"Mana aku tahu, dia kan masih kecil," sahut Aufan.
"Kalau begitu, yang netral saja ya," ucap penjual.
Akhirnya penjual itu pun membawakan bungkusan baju bayi yang bisa dipakai untuk laki-laki dan perempuan. asal tidak berwarna pink Maura pun memilih beberapa baju, kaos kaki, dan celana panjang, juga topi.
"Sayang... bagaimana kalau ini kita beli 7 lembar aja dulu ya!" ucap Aufan.
"Kok 7 sih Mas?" ucap Maura.
"Karena aku suka barang yang berbau ganjil," ucap Aufan.
"Terserahlah kalau begitu," ucap Maura.
Setelah itu pemilik toko pun menghitung belanjaan Aufan. Dan membungkus dengan rapi.
"Semuanya Rp.270.000 Tuan," ucap pemilik toko.
Aufan pun meraba sakunya.
"Astaga... Sayang! aku tidak bawa dompet," ucap Aufan.
"Aku tahu kok," ucap Maura.
Maura pun mengambil uangnya dan membayar semua.
"Pasti akal-akalan suaminya ini Ha ha ha," canda sang pemilik toko.
Akhirnya Maura pun membayar setelah membayar Mereka pun pergi, saat di jalan.
"Sayang... lihat ada es campur, aku sangat pengen, Ayo kita ke sana dulu!" Ajak Aufan.
__ADS_1
Maura pun mengikuti, padahal Maura sudah merasa lelah berjalan, akhirnya mereka pun menikmati es campur di siang bolong, panas terik matahari membuat es campur itu begitu nikmat di tenggorokan Aufan.
selesai makan es campur, Maura juga terpaksa membayar semua tagihan minumannya.
"Sayang..m ayo kita pulang!" ajak Aufan. akhirnya mereka pun menaiki sebuah taksi online.
Tak berhenti hingga sampai di situ, saat di pinggir jalan.
"Sayang... ini aroma sate ' kan, enak sekali, paman tolong cari warung yang jual sate ini!" titah Aufan.
"Iya Tuan," sahut sopir.
"Baunya enak sekali," ucap Aufan sambil menggeser geser lidahnya.
"Mas Ini apaan sih? Apakah Mas ngidam?" tanya Maura.
"Ih ngidam, aku 'kan cowo, yang sedang hamil itu 'kan kamu!" ucap Aufan.
"Oh jadi istri Tuan hamil, ini pasti syndrom apa tu namanya, yang istri hamil tapi yang ngidam si suami," sahut sopir.
"Masa iya paman? Tapi benar, aku juga nggak tahu. Rasa pengen banget gitu... Sayang...aku kok merasa sangat ingin makan makanan itu, mencium baunya saja aku merasa ngiler," ucap Aufan.
"Apa ingin berhenti di sini Tuan? itu gerobak satenya," ucap sopir.
"Iya paman, Tunggu sebentar, aku akan membungkus aja," ucap Aufan.
Kemudian Maura pun menyerahkan uang karena Maura merasa sudah terlalu capek, dia hanya menunggu di dalam mobil.
"Paman 2 porsi ya! sambalnya yang banyak, tercium di hidungku begitu wangi menggugah seleraku," ucap Aufan.
Setelah dibungkus Aufan pun kembali ke mobil, dan twrus menghiruo aroma Sate ke hidungnya.
Sekarang Total belanjaan Maura sudah mencapai 600.000, sedangkan Dia cuma membawa uang Rp700.000. Setelah melanjutkan perjalanan jauh. Aufan pun juga melihat buah segar yang ada di pinggir jalan, entat mengapa dia menegur liurnya karsna merasa ingin.
"Sayang... kita beli buah itu juga ya! buah itu terlihat segar gitu, menggugah seleraku," ucap Aufan lagi.
"Mas, uangku cuma sisa sedikit, kamu kan nggak bawa uang? bagaimana kita bayar taksi nanti?" ucap Maura.
"Ayolah Sayang... sebiji atau sebelah nggak papa deh, pokoknya beli aja, ya..." bujuk Aufan.
Akhirnya Maura pun kembali membeli buah itu, Namun ternyata bukan sebiji, melainkan Rp70.000.
Akhirnya Maura menelpon Aman.
"Hello Aman, kau di mana?" tanya Maura.
"Aku sedang di rumah sakit, mengurus kekacauan yang aku buat ini, Ini semua demi kalian berdua," ucap Aman.
"Kami sekarang sedang jalan-jalan, dan ternyata Aufan tidak memiliki uang, sekarang kami sudah belanja 700.000, uangku tidak cukup untuk bayar taksi," ucap Maura.
"Aku akan membayar taksi, kau katakan saja pada Paman itu, berikan nomor rekeningnya, nanti aku akan mentransfer," ucap Aman.
"Benarkah? Baiklah, kalau begitu," ucap Maura.
Akhirnya mereka terus meluncur menuju Apartemen, sesampainya di apartemen Maura pun mengatakan maksud kepada Paman sopir, Paman sopir pun mengerti dan memberikan nomor rekening.
Aman mentransfer dan memberikan bukti kepada Paman sopir, Paman sopir pergi meninggalkan gedung apartemen Maura.
__ADS_1
"Sayan... banyak sekali belanjaan ini? Bagaimana kita mengangkat belanjaan itu?" tanya Maura.
"Aku bisa!" ucap Aufan penuh semangat.
"Kamu pasti tidak boleh bawa barang terlalu banyak," ucap Maura.
Brek...
"Aduuh," jerit Aufan, kesakitan saat membawa barang itu.
Akhirnya Maura pun mengambil barang itu dari tangan Aufan.
"Sayang... maaf ya, aku sepertinya khilaf, ingin semua barang-barang yang aku lihat tadi," ucap Aufan.
"Tidak apa-apa," ucao Maura.
"Kau biarkan istrimu membawa barang sebanyak itu?" ucap seseorang yang sedang berdiri di dalam lift.
"Tidak apa-apa Tuan, suami saya Dia sedang terluka di pinggangnya, jadi dia tidak boleh membawa barang terlalu banyak," ucap Maura.
Kemudian Aufan mengambil barang yang ada di tangan Maura, karena merasa tersinggung, dan membawanya, walaupun pinggangnya terasa sakit, namun dia mencoba untuk menyembunyikannya.
"Mas... Apakah tidak apa-apa?" bisik Maura.
"Tidak apa-apa," ucap Aufan.
Aufan pun mengalihkan semua barang bawaannya ke tangan kanannya, dan merangkul pundak Maura dengan tangan kirinya.
"Ya Tuhan... kapan dia akan mengingat semuanya? Apakah selamanya kami akan begini? hidup bersama tanpa status apa pun," batin Maura.
"Sayang... Mengapa melamun?" tanya Aufan.
Ternyata pintu lift sudah terbuka. Mereka pun bergegas meninggalkan lift dan memasuki kamar.
"Ayo! kupas buah untukku, Aku begitu ingin, hemmm," ucap Aufan.
Bahkan air liurnya pun hampir menetes, karena merasa sangat ingin dengan makanan yang dibelinya di jalanan tadi.
"Iya, sebentar," ucap Maura.
Maura pun mengambil piring membuka sate dan mengupas buah untuk Aufan. Sementara Maura, malah tidak tertarik sedikitpun dengan makanan yang ada di hadapannya,
Apakah ini tandanya Aufan yang ngidam ya? sementara di rumah sakit. Aman tampak sibuk menelepon Mami.
"Hello Bu Bos! Aku tidak tahu harus bagaimana ini? tapi aku harus mengatakannya Bu Bos," ucap Aman terdengar panik.
"Ada apa? tolong kau katakan dengan jelas! Aku tidak mengerti maksudmu?" tanya Mami.
"Aufan hilang Bu Bos! aku tidak bisa menemukannya, tadi aku tinggal sebentar ke Apotek, namun saat aku kembali, dia sudah tidak ada Bu Bos" ucap Aman bersandiwara.
"Benarkah? gawat, kalau Ayah Aufan tahu, kita pasti kena marah, sekarang kau cari dulu di sekeliling Rumah Sakit!" titah Mami panik.
"Baik, aku akan mencarinya," ucap Aman.
Aman pun menutup telepon, dia tersenyum sambil duduk berbaring di branker Aufan.
Bersambung...
__ADS_1