Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Kebingungan Maura


__ADS_3

Akhirnya Maura pun kembali ke dalam rumahnya, dan tampak tersenyum-senyum sendiri, mungkin ada kebahagiaan tersendiri yang hadir di dalam hati Maura.


"Ya Allah, apakah Tuan Ibrahim itu adalah jodohku? tapi ..., apakah aku pantas menerimanya? dia orang yang sangat baik dan Soleh، sedangkan aku adalah orang yang sangat hina ya Allah," lirihnya.


"Nona Maura, ada apa? kenapa Kau tampak senang sekali?" tanya Alin.


"Oh tidak, Mbak Alin, aku hanya melihat mereka ini, mereka sangat lucu," bohong Maura.


"Ah masa non? pasti Nona sedang tersenyum karena mengingat gombalan Pak Ibrahim tadi 'kan?" tanya Alin.


Ternyata Alin juga mendengar perkataan Ibrahim tadi, saat menyuruh orang membakar masa lalunya seperti jagung bakar.


"Iya Mbak Alin, aku masih bingung, aku harus seperti apa? kalau aku menerima Ibrahim, pasti Aufan ngamuk, kalau Aku menolaknya. Sebenarnya hatiku pun ..., Yah ..., begitulah," desah Maura kemudian.


"Nina Maura pasti sudah tahu apa yang harus anda lakukan, demi kebahagiaan Nona, ambil yang menurut Nona nyaman, bukan selalu membuat orang lain nyaman Nona. Mertua Nona aja rela melepaskan Nona, membujuk Aufan untuk mau menceraikan Nona, agar Nona bahagia bersama cucu-cucunya 'kan? mungkin dengan berjalannya waktu, Tuan Aufan pun akan menerima kenyataan, bahwa Nona Maura sudah tidak bisa lagi dimiliki olehnya."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, itu Aufan?" tanya Maura yang sangat kenal suara itu.


"Kayaknya iya Nona. Ngapain dia ke sini?"

__ADS_1


"Ayo kita ke sana berdua?" ajak Maura.


"Tuan? Silakan duduk! biar aku bawakan si kembar," ucap Maura.


"Tunggu Maura! Aku ingin bicara empat mata denganmu," ucap Aufan.


"Denganku? Oh baiklah."


Akhirnya Maura pun duduk di kursi yang ada di depan teras. Begitu juga Aufan. AufN mantap lekat ke wajah Maura, dengan hati yang sangat berbunga-bunga. Dia sangat berharap Maura akan menerima kembali cintanya. Bahkan dia juga berjanji akan merubah semua kelakuannya, kalau Maura menerimanya kembali.


"Maura ..., Aku ingin kau kembali kepadaku, aku berjanji, sumpah, aku akan berubah," bujuknya.


"Benarkah? Mengapa harus berubah setelah bersama denganku? Berarti itu bukan kemauan mu dong?" ucap Maura.


"Maura, beri aku kesempatan."


"Tapi tuan, aku sudah mengatakannya berulang kali, bahwa jodoh kita sudah habis, kita tidak bisa lagi kembali tuan. Aku tidak ingin Tuan tersakiti karena aku sudah tidak mempunyai rasa pada Tuan."


"Maura ..., tolong pertimbangkan lagi. Aku ingin kita mencobanya kembali, Maura," bujuk Aufan.


"Tuan. Aku sudah memberi Tuan kesempatan waktu itu, namun Tuan malah tersesat lebih jauh lagi," ucap Maura.

__ADS_1


"Itu karena aku tidak tahu kau ada di mana? Aku mencari mu kemana-mana, Maura. Namun kau tidak pernah kutemukan, makanya dengan membuang kejenuhan yang ada di kepalaku. Aku melakukan hal tersebut dan bermain dengan wanita-wanita malam itu."


"Seharusnya kalau kau berusaha mencari ku, kau harus berubah lebih baik, mungkin dengan berdoa kepada Tuhan, kau bisa menemukanku, tapi apa semuanya? Kamu malah tersesat Aufan! Maaf, aku tidak bisa,"


Maura pun berdiri dan berjalan mendekati pintu, tiba-tiba Aufan berdiri dan mencengkeram pergelangan tangan Maura.


"Aku tidak ingin kehilanganmu, Maura," ucap Aufan lagi.


"Tuan, Kalau Tuan seperti ini, aku akan membatasi pertemuan Tuan dengan si kembar," tegas Maura Maura.


"Aku mohon Tuan, tolong lepaskan aku, karena kita sudah bukan siapa-siapa lagi," ucap Maura.


"Aufan! lepaskan dia! karena dia sudah tidak mau lagi berhubungan denganmu!"


Tiba-tiba seorang lelaki tua datang dan menghalau Aufan untuk melepaskan Maura.


Yuk mampir di karya temen ku nih seru.


Judul : Menjemput Kembali Hidayah yang Terhempas.


Author : Alinatasya21

__ADS_1


Napen : Bisikan_H@ti



__ADS_2