Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Aufan Demam Tinggi


__ADS_3

Wanita seksi itu tanpa sungkan duduk di samping Ibrahim sangat mepet. Sementara Ibrahim tampak salah tingkah karena ada Maura di depannya, yang sedang merapikan bunga mawar.


"Lusi?" ucap Ibrahim kaget.


"Syukurlah kau masih ingat aku Ibra, kupikir kau sudah melupakanku! karena sudah hampir satu tahun kita tidak pernah bertemu. Sekarang aku kembali ke kota ini. Ayo, traktir aku makan lagi!" ucap Lusi.


"Maaf Lus, aku tidak ada waktu sekarang, aku sibuk, sebentar lagi aku akan mengantarkan bunga-bunga ini ke tempat pernikahan seseorang," ucap Ibrahim.


"Oke... aku akan menunggu, Bagaimana sehabis kau pulang ngantar bunga, Aku akan menunggumu di sini," ucap Lusi.


"Maaf Lus tapi aku sudah ada janji," ucap Ibrahim lagi.


"Dengan siapa? terakhir kita chatting 'kan kamu belum punya pasangan! apa sekarang Kamu mendadak punya pasangan?" tanya Lusi.


"Iya," sahut Ibrahim.


"Benarkah? Bolehkah aku berkenalan dengannya?" tanya Lusi.


"Tentu saja boleh... Maura...," panggil Ibrahim.


"Iya," sahut Maura.


Untung saja Maura tidak menyebutkan Tuan saat menjawab panggilan Ibrahim.


"Kita jadi makan Sore 'kan hari ini?" ucap Ibrahim, sambil mengedip-ngedipkan matanya, memberi isyarat.


"I_Iya Tu...."


"Nah maaf aku tidak bisa pergi sama kamu," potong Ibrahim, saat Maura hampir menyebut nama Tuan.


"Ooh, jadi Dia? Wanita yang telah merebut hatimu baru-baru ini? Apa kamu yakin sudah bisa melupakan aku?" tanya Lusi.


"Maaf Lusi, tapi mengapa kau bercerai dengan suamimu?" tanya Ibrahim.


"Dia sangat Agresif, aku tidakk suka itu, aku malah di suruh berbagai macam gaya, kayak pe*la*cur saja," ucapnya.


Ibrahim merasa malu mendengar itu,dia pun tampak salah tingkah dan garuk garuk kepala yang tidak gatal.


"Maura... Ayo kita berangkat! antar bunga yang tadi mau diantarkan, sudah selesai dirapikan 'kan? Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Ibrahim.


Maura yang tidak mengerti pun bingung, dia berpikir keras sambil masih merapikan bunga-bunga yang ada di hadapannya.


"Maura! apa kau tidak dengar?"tanyanya lagi.


"Oh iya baik," ucap Maura, menahan diri agar tidak memanggil Ibrahim... Tuan.


Maura pun bingung mau mengambil bunga yang mana, karena dia tidak tahu bunga yang dimaksud oleh bosnya.


"Maura! itu mawar nya 'kan? Ayo bawa!" kata Ibrahim lagi.


Maura pun mengambil bunga yang paling subur yang ada di toko itu, kemudian membawanya.' Lumayan berat' lirih Maura..


"Sini, biar aku saja," ucap Ibrahim.


Kemudian Ibrahim mengambil bunga dari tangan Maura.

__ADS_1


"Iya," jawab Maura.


"Lusi, maaf, aku pergi dulu, maaf tidak bisa menjamu dengan baik," ucap Ibrahim.


"Oh tidak apa-apa kok, oh ya nanti aku akan datang lagi ke mari," ucap Lusi.


"Ohh iya, nanti aku akan kirimkan undangan pernikahan kami," ucap ibrahim.


Maura yang mendengar itu pun kaget, 'pernikahan' lirih hatinya.


Lusi pun pergi tanpa menoleh lagi, mungkin dia merasa kesal dengan ibrahim, ternyata ibrahim sudah punya tambatan hat.


Maura dan Ibrahim pun berangkat meninggalkan toko tersebut.


"Kita mau kemana Tuan?" tanyaMaura.


"Sembarang aja, asal kita pergi dari tokoh itu," sahut ibrahim.


"Emangnya dia siapa tuan?" tanya Maura.


"Dia dulu pernah mengisi hari-hariku, namun karena hubungan kami tidak berlangsung lama, dia pun di nikahkan dengan orang kepercayaan ayahnya, di perusahaan ternama, sedang aku masih anak kuliahan dan belum memiliki pekerjaan tetap.


" Ooh begitu ya? terus Mengapa tidak Tuan mulai dari awal? Bukankah Sekarang dia sudah bercerai dengan suaminya,?"tanya Maura.


"Maura... mungkin dulu aku memang mendambakannya, dan aku sempat memikirkan untuk memilikinya, namun seiring waktu berjalan, perasaan itu tentu saja sudah hilang. Bukankah aku boleh memiliki harapan yang lain, aku saat ini sedang memikirkan seseorang, "ucap Ibrahim.


"Benarkah? jadi sebentar lagi Tuan akan menikah? Tuan bilang 'kan tadi Tuan akan mengirimkan undangan perkawinan tuan pada Nona Lusi, "ucap Maura.


"Iya... aku akan segera menikah, Apabila seseorang itu bersedia untuk ku lamar, tapi mungkin tidak bisa secepat itu, karena masih ada halangan lain," ucap Ibrahim.


"Aku belum sempat mengatakan isi hatiku padanya, Menurut kamu, apakah aku harus mengatakannya? tapi seandainya wanita itu menolak bagaimana?" tanya Ibrahim.


"Tuan harus mengatakannya dulu, baru Tuan akan tahu, kalau Tuan berdiam diri seperti itu, bagaimana mungkin Tuhan bisa tahu," ucap Maura.


"Seandainya wanita itu kamu, Apakah kamu akan menerimaku?" tanya Ibrahim.


"Tuan itu kaya, tampan, dermawan siapa sih yang tidak mau menjadi istri Tuan? "ucap Maura.


Ibrahim yang Mendengar pun merasa tersanjung.


"Benarkah? apakah menurutmu aku ini tampan?" tanya Ibrahim.


"Tuan Aku kira hanya perempuan yang tidak normal saja yang menolak Tuan, Tuan ini sangat tampan, kaya raya, baik hati pula," puji Maura.


Kini Ibrahim tampak berseri seri.


"Benarkah? Bolehkah aku mengutarakan isi hatiku padanya?" tanya Ibrahim.


"Tentu saja boleh," tanya Maura.


"Baiklah aku... Aku mau...menjadikanmu sebagai istriku... Maura...."


Maura yang mendengar lamaran itu pun kaget dan menahan nafasnya sesaat. Ditatapnya wajah lelaki tampan yang ada di sampingnya, dia kaget, dan bagaimana mungkin seorang pria baik-baik mau menikah dengan seorang wanita mantan wanita satu malam?


"Maura... Aku melamar mu__ sekarang," tambahnya lagi.

__ADS_1


"Melamarku? Tapi Tuan tau 'kan kalau...."


Maura belum sempat mengatakan sesuatu lebih banyak, kini Ibrahim tampak menyumbat mulut Maura dengan mulutnya.


Bahkan Maura tidak sadar, kapan Ibrahim berhenti di bahu jalan itu.


Maura menahan nafas tidak bisa berbuat apa-apa, Dia hanya kagum dan bingung harus ngapain, hingga Ibrahim melepaskannya.


"Maafkan aku," lirih Ibrahim.


Sementara Maura masih terpaku tak bergerak. Entah apa yang di oikirkannya. Kemudian.


Bruk.


Maura turun dari mobil itu dan berjalan menyusurhi jalan berlawanan arah. Ibrahim pun panik dan ikut urun.


"Maura! Kau mau ke mana?" panggilnya.


-Aku jalan kaki saja Tuan, aku akan pulang ke toko," ucap Maura.


Dia merasa dilecehkan oleh Ibrahim, walau pun Dia adalah mantan wanita malam, namun kini dia berjanji akan berubah demi anak yang di kandungnya.


"Maura... Maafkan aku, aku khilaf," ucap Ibrahim.


Ibrahim pun menangkap tangan Maura dan menggenggamnya erat.


"Tuan, tolong lepaskan aku!" pinta Maura lembut.


"Kau harus berjanji untuk memaafkan ku dulu," pinta Ibrahim.


"Tuan, baiklah, aku memaafkan mu, tolong lepaskan aku!" pinta Maura lagi.


"Tapi kau harus ikut aku pulang ke Toko," ucap Ibrahim.


Maura tidak ada pilihan, dia tidak mau jadi tontonan orang di sekelilingnya. Maura pun akhirnya kembali masuk ke dalam mobil.


Maura dan Ibrahim akhirnya kembali ke toko bunga, sepanjang jalan Maura tak berucap sepatah kata pun, begitu juga Ibrahim.


***


Aufan masih di serang demam tinggi, dia akan mengigau memanggil Maura. Mami dan Vena yabg ada di sampingnya oun jadi heran oleh ulah Aufan.


"Mi, sebenarnya, siap sih Maura itu?apakah Dia pernah di bawa ke rumah?" tanya Vena penasaran.


"Nggak lernah tuh, cuma kamu yang pernah di bawanya ke rumah, aku tidak pernah melihat wanita lain masuk rumah kami," ucap mami Aufan.


"Aman pasti tahu sesuatu," ucap Vena.


Vena pun keluar untuk mencari Aman ke luar kamar pasien, Aman tampak duduk di kursi di depan taman rumah sakit.


"Aman aku ingin menanyakan sesuatu," ucap Vena.


Aman pun mendekat.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2