
Akhirnya Ibrahim pun pergi menyusul Mira yang ada di hotel. Setelah mereka bertemu, Ibrahim pun mengajak Mira untuk ke tempat Maura.
"Tuan, Bagaimana dengan bunga ini? apakah kita akan meninggalnya di sini?" tanya Mira.
"Jangan! kita bawa saja bunga itu untuk Maura, mungkin bisa untuk menggembirakan hatinya."
"Baiklah, Tuan."
Mira dan Ibrahim pun meluncur menuju Panti Asuhan tempat tinggal Maura sekarang. tidak berapa lama, mereka pun sudah sampai di Panti Asuhan, saat mereka sampai di halaman, penghuni Panti sangat gembira melihat kedatangan Ibrahim, karena setiap Ibrahim datang, dia pasti membawa oleh-oleh belanjaan yang banyak. Namun ternyata kali ini Ibrahim lupa membeli belanjaan, karena dia sangat senang akan bertemu Maura kembali.
"Hello adik-adik, kakakmu Maura mana?" tanya Ibrahim.
"Ada di rumah Ibu," ucap anak-anak itu.
Akhirnya mereka pun berjalan menuju rumah bu panti.
Pintu pun dibuka oleh anak panti tersebut.
"Ibu ..., ada Tuan Ibrahim nih," ucap anak anak.
Seketika Maura yang ada di kamar depan pun terkejut.
"Ibrahim? Kenapa dia kemari lagi?" gumam Maura.
"Mungkin ada yang ketinggalan," ucap Alin yang tidak tau kalau Ibrahim menyukai Maura. Sedang Maura sudah menebaknya kalau sebenarnya Ibrahim hanya ingin bertemu dengannya.
Akhirnya Maura pun keluar. Untuk menemui Ibrahim.
"Tuan ...."
Karena Ibrahim yang berada di depan pintu, ?Maura tidak tahu kalau di belakangnya ada Mira.
"Hello... apakah kau masih mengenaliku?" ucap Mira sambil menengok ke arah Maura, dari balik tubuh Ibrahim.
Mbak Mira!" panggil Maura kaget.
Kemudian dia pun berhambur menjemput Mira dan menariknya masuk ke dalam, kemudian Maura pun memeluk Mira penuh Kerinduan.
"Mbak, Maaf aku tidak sempat untuk menghubungimu, karena masalahku sangat pelit," ucapnya.
"Tidak apa-apa Ra, sekarang kau baik-baik saja kan? Oh iya. Mana ponakan ku? Aku mau lihat," ketus Mira.
__ADS_1
Maura pun mengajak Mira masuk ke kamar depan, alangkah bahagianya Mira saat melihat dua anak kembar itu sedang tidur nyenyak .
"Ya Allah tampan sekali mereka."
Mira tidak bisa menahan dirinya dan menggendong Raihan walaupun anak itu tertidur. ia terus menciumi wajah bayi itu, hingga akhirnya bayi laki-laki yang tamlan itu pun terbangun dan menangis.
"Hello sayang, ini tante yang cantik dataaaang," ucapnya.
Maura pun berusaha untuk menenangkan bayi itu, namun tak berhasil, hingga akhirnya Rayyan juga terbangun, dan menangis.
Maura pun menggendong Rayyan, sementara Mbak Alin merasa kesal karena Raihan dan Rayyan yang baru saja ditidurkan pagi ini, terbangun. Sejak pagi mereka tampak cerewet dan ketika baru saja tidur, ternyata di ganggu begitu saja oleh Mbak Mira.
Maura mengerti kalau Mbak Alin terlihat jengkel karena ulah Mbak Mira.
"Mbak Alin, ini teman kerjaku dulu, waktu aku bekerja di toko bunga milik Tuan Ibrahim," ucao Maura mengwnalkan.
"Aku Mira," ucap Mira.
"Alin," balas Alin cuek.
"Oh ya, Mbak Alin, Mbak Mila inilah yang selalu menolongku dulu, bahkan dia seperti kakakku sendiri saat aku terjatuh, saat aku terluka, dialah yang selalu mengobati hatiku. Selalu menghiburku, dan pokoknya semuanya deh," ucap Maura.
Membuat Alin kemudian sedikit tersenyum, Mungkin dia merasa bersalah karena sebenarnya Mira itu adalah seperti saudara Maura sebelumnya.
Mereka pun ke depan dan menemui Ibrahim yang duduk sendirian di ruang tamu.
***
Sementara Aufan kembali uring-uringan siang ini, karena Maura telah pindah dari hotel tersebut, kemudian dia pun menelepon Papanya.
"Hello papa, sekarang ke mana lagi Papa membawa istriku? Mengapa Maura tidak ada di hotel itu?" ketus Aufan.
Dia tahu pasti, sekarang pun pasti Papanya lah yang telah menyembunyikan Maura.
"Apa maksudmu, Fan? aku tidak mengerti," ucap Irlangga berpura-pura.
"Papa jangan pura-pura, pasti sekarang Papa juga sudah menyembunyikan Maura dariku, katakan Pa! di mana Maura? dia itu istriku dan juga itu adalah anak-anakku, Pah! Kenapa Papa begitu tega padaku? Apakah aku ini anak dari Papa atau anak pungut?" kesal Aufan.
"Aku tidak mengerti maksudmu? Maura kan ada di hotel itu? kenapa kau bertanya padaku?" tanya tanya Irlangga terus berbohong.
"Maura tidak ada di sana , Pah, pagi ini saat aku ingin mengirimkan bunga padanya, resepsionis bilang, mereka sudah tidak ada di sana, Papa jangan bohong! Tolonglah pa! aku tidak bisa tidak bertemu dengan mereka, Pa, aku mohon Pah," ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menceknya sendiri," sahutnya.
Sandiwara Irlangga terus berlanjut, agar meyakinkan kalau dia benar-benar tidak tahu keberadaan Maura.
"Baik Lah, aku ingin Maura segera cepat ditemukan, mau ke mana lagi dia pergi? Kenapa wanita itu terus menghindari ku?" ucap Aufan.
"Itu karena kesalahanmu, Fan, Kau telah menyakitinya berulang-ulang, sudahlah aku akan mencarinya."
Telepon Irlangga pun ditutup, sementara Aufan pergi keluar dan meninggalkan rumahnya, tentu saja saat ini Aufan sangat jengkel, dan marah, namun ketika dia marah, ternyata dia pun memilih jalan pintas dan kembali ke cafe Mama Lin.
"Aufan? untuk apa lagi kau kemari? tanya Bela.
" Aku bosan, aku ingin kau menemaniku minum," ucap Aufan.
"Baiklah, Ayo!"
Akhirnya mereka pun minum-minum, hingga akhirnya Aufan pun mabuk banget dan sepertinya dia ingin melakukan sesuatu pada Bella. Bella pun membawanya ke kamar. Aufan menggerayangi tubuh Bela. Namun bela masih sadar kalau Aufan adalah suami dari Maura. Sampai saat ini Bela masih berhubugan baik dengan Maura lewat Chat. Hanya saja Bela slalu menyembunyikan dan pura2 tidak tau.
bela pun menelepon Maura.
"Maura, sekarang suamimu ada di cafe Mama Lin," chat dari Bella.
"Benarkah? ternyata laki-laki itu tetap juga tidak berubah, aku membiarkannya namun dia semakin menjadi-jadi," sahut Chat Maura.
"Mungkin dia sangat merindukanmu Ra! namun dia tidak bisa menemukanmu, itu yang dia katakan tadi."
"Tapi mengapa tiap kali ada masalah, Dia selalu pergi ke sana? itu yang tidak aku habis pikir, kenapa dia tidak bisa berubah? Baiklah, aku akan menghubungi Papahnya."
Maura pun menelpon Pa Irlangga dan mengatakan kalau sekarang Aufan ada di cafe.
"Benarkah? Baik, aku akan menjemputnya, Maura Aku sungguh minta maaf, ternyata Aufan memang benar-benar tidak bisa berubah, aku tidak menyalahkan mu kalau kau akhirnya pergi meninggalkan Anakku. Maura, aku ingin kau bahagia, agar cucu-cucuku pun bahagia," ucap Irlangga.
Mendengar dukungan seperti itu, Maura pun sangat senang, dan tersenyum manis.
"Terima kasih banyak, Papa telah mengerti apa yang sekarang aku inginkan, aku menghindarinya karena aku tahu, Aufan tidak akan pernah berubah, Pak," ucap Maura.
"Iya sayang. Carilah kebahagiaanmu sendiri, atau mungkin kau mau menikah dengan orang lain? Silahkan, asal jangan kau halangi aku bertemu dengan cucu-cucuku," ucapnya
"Iya Pah, tapi aku ini masih berstatus istri Aufan. Jadi aku ingin dia menceraikan aku dengan secara lisannya sendiri," pinta Maura.
"Ya Nak, nanti aku akan pikirkan itu dan mencari cara, agar Aufan mau menceraikan mu.
__ADS_1
Bersambung...