Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Tak Curiga


__ADS_3

Salam hangat😍


Vena tampak membawakan sepiring makanan dan segelas air putih ke kamar Maura. Maura kaget karena Vena mau melakukan itu untuknya, namun tanpa curiga , Maura memang orang yang baik hati dan selalu positif thinking, sehingga dia dengan mudahnya percaya dengan kebaikan Vena, walaupun sebelumnya Vena sudah mengatakan tidak ada yang cuma-cuma di dunia ini. Mungkin otaknya Maura tidak sampai sejauh itu memikirkannya.


"Kau tidak usah repot-repot Nona Vena, aku bisa kok ngambil sendiri ke dapur," ucap Maura.


"Sudahlah, mumpung aku lagi baik hati," ucap Vena.


Akhirnya Maura Pun bangun dan menyambut makanan pemberian Vena.


"Ingat ya! kamu harus habiskan makanan ini, karena dengan susah payah Aku mau mengantarkannya ke kamarmu ini, kau harus jaga kesehatan bayimu, agar dia lahir dengan sehat," ucap Vena.


"Terima kasih Nona Vena," ucap Maura lagi.


Kemudian Vena pun pergi meninggalkan kamar Maura, saat membelakangi Maura, dan berjalan menuju pintu kamar, dia pun tersenyum licik, entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas sangat mencurigakan.


Sedangkan di kamar Aufan, dia tampak baru saja bangun dari tidurnya, tubuhnya terasa sakit semua, seperti orang yang kena rematik. Kemudian Aufan pun bangun dan berdiri. Dia pun olahraga ringan dengan menggerak gerakkan badannya ke kiri dan ke kanan. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri, karena hari ini dia akan mulai ngantor.


"Sayang... apakah sudah selesai?" tanya Vena yang ada di luar kamar mandi.


"Sebentar lagi, aku masih belum selesai," sehut Afan.


Vena pun menyiapkan pakaian untuk suaminya bekerja hari ini, tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini Vena tampak perhatian kepada Aufan, mungkin karena dia takut kalau Aufan berubah pikiran, dan mencintai Maura, karena akhir-akhir ini ingatan Aufan mulai kembali membaik.


"Sebenarnya... obat ini mempan nggak sih? kok semakin hari Aufan semakin Ingat saja pada wanita ******** itu," ucap Vena.


Ternyata Aufan telah diberi obat yang salah oleh Vena, Dia sudah diberi obat agar ingatan Aufan benar-benar hilang, dan melupakan Maura di masa lalunya.


"Kau mau mandi juga?" ucap Aufan yang tiba-tiba sudah berada di depan Vena. Vena yang tadi melamun kaget.


"Oh iya, aku akan mandi," sahutnya.


Dia pun bergegas pergi mandi, selesai mandi, mereka pun pergi ke bawah untuk sarapan. Di meja makan, semua makanan sudah tertata dengan rapi.


"Aufan... malam ini tidak boleh gagal lagi, kau harus menikahi Maura, karena semakin lama bayi yang ada di kandungannya semakin besar, ingat itu!" ucap Pak irlangga.


"Baik Pak, aku hari ini ikut ngantor ya, karena aku akan belajar lagi dari awal," ucapnya.


"Baiklah, sekarang, ayo siap-siap!"

__ADS_1


Akhirnya Aufan pun mengakhiri sarapannya, Dia bersiap dan pergi bersama Papanya Irlangga.


Sementara Dito, sekarang sudah tinggal di ruangan yang ada di perusahaannya, di ruangan seperti apartemen gitu, karena dia tidak mau serumah dengan keluarga Irlangga.


Di kantor, Aufan pun berkeliling, mengontrol karyawan, sok-sokan jadi Bos gitu, karena Aufan merasa selama ini dia belum pernah mengerjakan tugas kantor, padahal kan dulu dia sering ke kantor. Bahkan dia sering memimpin meeting.


"Bos," siapa seorang karyawan.


"Iya, ada apa?" tanya Aufan.


"Bos sudah sehat?" tanya lelaki itu.


"Wmangnya aku sakit apa?" tanya Aufan.


"Oh... tidak Bos, berarti Bos sudah sehat," ucap karyawan lagi merasa takut-takut karena Aufan bertanya balik.


Padahal Aufan bertanya serius, karena dia merasa tidak pernah sakit, semua karyawan yang ada di situ berdiri dan,sedikit menunduk. .


"Kenapa kalian sangat segan padaku? Sudahlah, silahkan kalian duduk! aku cuma ngontrol kok," ucap Aufan.


Padahal seperti biasa, dulu kalau Aufan sedang mengelilingi kantor, memang semua karyawan itu harus berdiri, dan Aufan pun cuek.


"Aneh ya Bos? biasanya juga kita kan selalu berdiri kalau dia ada di aini," ucap karyawan.


"Iya," sahut yang lain merasa heran.


" Ke mari lah! aku ingin kau belajar tentang perusahaan ini kepada pamanmu, Dito," ucap Irlangga.


"Ya Pa... Paman, ajari aku lebih banyak lagi untuk menghandle lerusahaan ya?" ucap Aufan.


"Baikl, kalian silahkan membahas masalah perusahaan, aku mau keluar dulu, ada urusan yang harus ku kerjakan," ucap Irlangga.


"Baik, Mas," sahut Dito.


Setelah kepergian Irlangga, ke dua orang paman dan ponakan itu pun tampak berbicara serius. Dito tampak menatap wajah Aufan lekat.


"Kenapa paman menatapku seperti itu?- tanya Aufan.


"Aku merasa aneh dengan mu Fan, kau sudah minum banyak obat yang mahal, tapi kenapa ingatanmu itu pun juga belum membaik? padahal kata dokter, kerusakan otakmu itu tidak terlalu parah, apa jangan-jangan kau salah minum obat?" tanya Dito.

__ADS_1


"Ah paman, mana mungkin aku salah minum obat. Vena selalu melayani ku dengan baik, dan aku juga selalu diingatkan minum obat tiga kali sehari," ucapnya.


"Tapi kenapa ingatanmu semakin parah, aku jadi penasaran," ucap Dito.


"Tidak apa-apa, mungkin belum saatnya sembuh saja, Oh iya paman, bagaimana dengan anak laman yang dulu, yang kemaren paman dan Papa bicarakan, apakah tidak ada kabar sama sekali?" tanya Aufan.


"Iya... sudah 23 tahun ini aku mencarinya, namun aku tidak bisa menemukannya, bahkan aku sekarang sudah pasrah, dimana anak itu? mungkin sekarang dia sudah meninggal?atau juga sekarang dia sudah menikah," ucap Dito.


"Bukankah paman ada foto saat dia baru lahir? Mengapa tidak di sebarkan saja foto itu?" ucap Aufa.


"Tidak mungkin, sudah terlalu lama," sahutnya.


"Kenapa tidak mencobanya?" kata Aufan lagi.


"Sudahlah, aku udah Pasrah. Oh tunggu... tapi aku ingat, kenapa ya mamah mu dan juga Winar itu meninggal dengan keadaan sakit yang sama?" ungkit Dito .


"Maksud paman apa?" tanya Aufan.


"Sulu 'kan Ibumu meninggal karena sakit setelah melahirkan, bisa dibilang sih katanya karena makan pantangan yang tidak boleh di makan saat setelah melahirkan, terus Winar juga demikian, meninggal dikatakan sakit karena makanan pantangan, apa benar pantangan bisa membuat orang meninggal?" tanya paman.


"Aku mana tahu, karena aku masih kecil, emangnya mama sakit apa?" tanya Aufan.


"Mama mu dulu sakit pusing, muntah muntah, lemas tidak ada nafsu makan, lalu meninggal. Sementara Winar juga demikian, pusing, sakit perut lah, lemas dan tak asa tenaga, kemudian meninggal."


"Iya, kok bisa sama?"


"Pernahkah terpikir kalau kau mencurigai Mami mu itu? mungkin saja kan?" tanya Dito.


"Mami? mana mungkin! Di teman baik Mama, jadi mana mungkin dia jahat, dan berbuat seburuk itu. Lagian mami juga sahabat akrabnya Mamah."


"Ya sudahlah, aku hanya menebak," ucap Dito.


"Ayo kita pulang!"


Aufan dan Dito pun pergi meninggalkan kantor setelah Aufan belajar banyak tentang perusahaan.


Apa kah ada sesuatu yang di sembunyikan Mami sambung Aufan?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2